Kunjungan Kehormatan Duta Besar Anshory Tadjudin kepada Menteri Pendidikan Republik Islam Afghanistan, H.E. Ghulam Farooq Wardak

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Duta Besar LBBP RI untuk Afghanistan, Mayjen TNI (Purn) Anshory Tadjudin, telah melaksanakan kunjungan kehormatan kepada Menteri Pendidikan Republik Islam Afghanistan, H.E. Ghulam Farooq Wardak, pada tanggal 9 Desember 2012. Pertemuan yang berlangsung di Kantor Kementerian Pendidikan Afghanistan tersebut berlangsung dengan hangat dan penuh persaudaraan. Disampaikan dalam pertemuan tersebut bahwa Pemerintah Indonesia terus berupaya untuk meningkatkan hubungan bilateral dengan Afghanistan. Dalam hal ini, Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Afghanistan telah menandatangani dua kesepakatan yang dapat dijadikan sebagai payung hukum peningkatan kerjasama kedua negara di bidang pendidikan dan kebudayaan, yaitu: a) Agreement between the Government of the Republic of Indonesia and the Government of the Islamic Republic of Afghanistan on Friendship and Cooperation; dan b) Memorandum of Understanding between the Government of the Republic of Indonesia and the Government the Islamic Republic of Afghanistan on Cultural Exchange Programme. Duta Besar Anshory Tadjudin lebih lanjut menyampaikan bahwa Pemerintah RI juga selalu menawarkan beasiswa untuk Afghanistan melalui Program Darmasiswa RI dan Program Beasiswa Kemitraan Negara Berkembang. Afghanistan diharapkan dapat memanfaatkan kesempatan beasiswa tersebut sehingga dapat memperkuat people-to-people contact antara Indonesia dan Afghanistan. Sementara itu, Menteri Ghulam Farooq Wardak menjelaskan mengenai perkembangan pendidikan di Afghanistan dalam satu dekade terakhir. Kementerian Pendidikan Afghanistan telah banyak mencatat berbagai capaian yang signifikan seperti meningkatnya jumlah murid (termasuk murid perempuan), gedung sekolah, guru, buku pelajaran dan kurikulum pendidikan. Namun demikian, Afghanistan masih menghadapi tantangan yang cukup berat seperti masih terdapat tiga juta anak usia sekolah yang tidak bersekolah dan sembilan juta orang buta huruf. Di samping itu, penyediaan buku pelajaran juga mengalami kendala akibat tidak berfungsinya printing press Kementerian Pendidikan yang rusak akibat perang. Dalam hal ini, Pemerintah Indonesia diharapkan dapat membantu merevitalisasi printing press tersebut. (sumber: KBRI Kabul)