Dua WNI Terlepas Dari Tuntutan Hukuman Mati

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Kementerian Luar Negeri melalui Konsulat Jenderal RI di Johor Baru telah melakukan berbagai upaya pembelaan hukum  atas 2 (dua ) WNI/TKI, Suriyani Bt Samad dan Misran bin Bani sehingga mereka dilepaskan dari tuntutan hukuman mati. Suryani ditahan aparat hukum Malaysia karena yang bersangkutan dituduh telah bekerjasama dengan Misran dalam melakukan tindakan kriminal yang menyebabkan kematian suaminya, Rostam. Mereka ditahan sejak 5 Desember 2008.

Pengacara yang ditunjuk Konsulat Jenderal RI, Sebastian Cha, berhasil meyakinkan pihak Penuntut Hukum untuk menurunkan tuntutan terhadap kedua WNI tersebut dari perbuatan sengaja/dengan niat untuk menghilangkan nyawa orang lain (pembunuhan) yang diancam hukuman mati berdasarkan Section 302, Act 574, menjadi tindakan kekerasan yang dapat menyebabkan kematian dengan ancaman hukuman penjara maksimal 20 tahun atau denda yang setimpal sebagaimana diatur dalam Section 304a, Act 574. 

Pada tanggal 19 Januari 2011, pengacara Sebastian Cha selanjutnya berhasil meyakinkan Mahkamah Sesyen Johor Bahru untuk mengeluarkan perintah pembebasan karena tidak dapat dibuktikannya unsur “kerjasama” yang dituduhkan kepada Suryani. Dengan ditetapkan pembebasan kepada Suryani oleh Makamah tersebut, Konsulat Jenderal RI segera melakukan tindakan penyelesaian administrasi pembebasan.

Pada hari ini tanggal 31 Januari 2011, Suryani direncanakan tiba kembali di tanah air dengan didampingi staf dari Konsulat Jenderal RI. Setibanya di tanah air, Suryani akan dipertemukan dengan puteranya, Amirul Nizam, yang dititipkan di Rumah Perlindungan Sosial Anak, Kementerian Sosial RI, sejak yang bersangkutan ditahan. Selanjutnya Suryani akan tinggal selama seminggu bersama anaknya dibawah supervisi Kementerian Sosial, sebelum kembali ke kampung halamannya di Pangkal Pinang.

Sementara itu, Misran diputuskan oleh Makamah hukuman penjara selama 13 tahun terhitung sejak masa tahanan tanggal 5 Desember 2008, karena hasil test DNA membuktikan bahwa bercak darah di baju korban dan di senjata tajam adalah darah Misran, di samping ia telah menyampaikan pengakuan bersalah. Misran akan mendapat tambahan pengurangan masa hukuman sebesar sepertiga dari vonis hakim, jika berkelakuan baik selama menjalani masa hukuman.