Dirjen Kemlu Saudi tinjau dan adakan tatap muka dengan WNI overstayer di MH

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Menjelang pemulangan WNIO dengan hajj empty flight tanggal 30 dan 31 Oktober 2011, Dirjen Kemlu Arab Saudi Wilayah Barat, Ambassador Muhammad Ahmad Thayeb didampingi Konjen RI Jeddah bersama-sama dengan pihak Imigrasi Saudi dan Manajemen Wakaf Ain Aziziyah atau Madinatul Hujjaj (MH) pada tanggal 23 Oktober 2011 mengadakan peninjauan ke tempat berkumpulnya WNIO yang berada di MH. Ikut dalam peninjauan tersebut Direktur PWNI dan BHI Kemlu RI, Tatang B. Razak. Usai melakukan peninjauan dan membahas persiapan teknis pemulangan WNI Overstayer, Ambassador Ahmad Thayeb selanjutnya mengadakan tatap muka dengan 32 WNIO (pria dan wanita), perwakilan dari WNIO yang berada di MH. Pada kesempatan tatap muka tersebut, Ambassador Ahmad Thayeb menyampaikan bahwa Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Saudi telah melakukan kerjasama yang baik untuk menyelesaikan masalah WNIO. Ambassador Ahmad Thayeb mensinyalir bahwa sejumlah WNIO datang ke Arab Saudi dengan menggunakan visa umrah kemudian bekerja walaupun belakangan ini jumlahnya semakin berkurang. Sebagian WNIO lainnya datang ke Arab Saudi dengan menggunakan visa kerja kemudian kabur dari majikan. Hal ini bukan saja melanggar hukum keimigrasian dan ketentuan ketenagakerjaan tetapi juga hukum agama. “Pelanggaran hukum semacam itu hendaknya tidak diulangi lagi di masa datang” pesan Ahmad Thayeb kepada para WNIO. Disampaikan pula bahwa Pemerintah Indonesia dan Arab Saudi telah sepakat untuk memulangkan WNIO dengan hajj empty flight Garuda Indonesia tanggal 30 dan 31 Oktober 2011. Pemerintah Arab Saudi akan memberikan kemudahan untuk pengeluaran exit permit namun setelah program pemulangan ini berakhir, Pemerintah Arab Saudi akan mengenakan rusum atau denda bagi pelanggar izin tinggal secara ketat. Sementara itu, Direktur PWNI dan BHI Kemlu menyampaikan bahwa Pemerintah Indonesia menaruh perhatian besar atas permasalahan yang dihadapi oleh para WNIO. Mengingat para WNIO telah melakukan pelanggaran hukum di Arab Saudi, maka penyelesaiannya harus dilakukan melalui koordinasi dan kerjasama dengan Pemerintah Arab Saudi. Pemerintah Indonesia telah memutuskan akan membiayai pemulangan WNIO dengan menggunakan hajj empty flight Garuda Indonesia tanggal 30 dan 31 Oktober 2011. Lebih lanjut disampaikan agar pelanggaran hukum yang telah dilakukan oleh para WNIO tidak terulang kembali, karena hal tersebut dapat mengganggu hubungan baik kedua bangsa dan lebih dari itu memperburuk citra Indonesia. Sedangkan Konjen RI Jeddah menyampaikan pesan agar dalam proses pemulangan ke Indonesia yang telah dijadwalkan pada tanggal 30 dan 31 Oktober 2011, para WNIO selalu mengikuti tahapan-tahapan yang telah ditentukan oleh petugas dan hendaknya terus menjaga ketertiban dan keamanan. Kabar pemulangan dengan pesawat haji ini, sontak disambut gembira oleh para WNIO yang sudah berimnggu-minggu berkumpul di MH. Purwanto misalnya, TKI asal Jepara yang sudah “overstay” selama 1 tahun di Arab Saudi tak kuasa rasa girangnya.” Terima kasih Pak….terima kasih Pak atas bantuannya” ujarnya dengan wajah sumringah. (pfp)