14 Jamaah Haji Indonesia Masih Dirawat di Rumah Sakit Arab Saudi

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Musim haji tahun 1432H/2011 telah lama usai, tepatnya saat pemulangan jamaah haji Indonesia kloter terakhir ke tanah air pada Minggu (11/12/2011). Namun begitu, ada 45 orang saudara kita yang tidak dapat segera dipulangkan pasca operasional haji, karena harus menjalani perawatan di rumah sakit Arab Saudi.

Tercatat ada 10 rumah sakit yang merawat pasien jamaah haji Indonesia tersebut, yang tersebar di tiga wilayah, yaitu Jeddah (12 orang), Makkah (21) dan Madinah (12). Dalam hal ini, KJRI Jeddah bertanggung jawab untuk memonitor perkembangan kesehatan hingga pemulangan mereka ke Indonesia, termasuk pemakaman bagi jamaah haji yang meninggal dunia.

Menurut data kantor Misi Haji Indonesia di Jeddah, sejak pemulangan kloter terakhir hingga hari Selasa (24/01/2012) ada 8 orang jamaah haji yang sudah dipulangkan ke Indonesia setelah dinyatakan sehat secara medis dan layak terbang, 23 orang lainnya wafat, sedangkan 14 orang sisanya hingga kini masih dirawat di enam rumah sakit berbeda, yaitu RS King Fahd Jeddah (3 orang), RS King Abdullah Makkah (2), RS Al Noor Makkah (1), RS King Abdul Aziz Zahir Makkah (3), RS King Faisal Makkah (3), dan RS King Fahd Madinah (2).

“Proses pemulangan jamaah haji yang sakit pasca operasional haji ke Indonesia sendiri tidaklah semudah yang dibayangkan, karena harus mengikuti prosedur dan mekanisme yang berlaku”, kata Staf Teknis (Atase) Haji II KJRI Jeddah Subhan Cholid saat dimintai keterangan.

“Setelah mendapatkan informasi dari pihak rumah sakit bahwa pasien dinyatakan sehat berdasarkan surat keterangan medis dan dianggap layak untuk keluar dari rumah sakit, KJRI Jeddah melalui Misi Haji Indonesia segera menyampaikan informasi tersebut kepada maskapai penerbangan yang bertanggung jawab untuk memulangkan pasien, baik Garuda Indonesia ataupun Saudia Airlines, untuk menyiapkan seat bagi pasien dan pendamping”, jelas Subhan.

Selanjutnya pihak kesehatan maskapai penerbangan akan melakukan pemeriksaan terhadap pasien berkaitan dengan kelayakan terbang. Apabila pasien tersebut dinyatakan layak terbang, maka pihak kesehatan penerbangan akan mengeluarkan keterangan layak terbang untuk kemudian menyampaikan informasi mengenai ketersediaan kursi (seat) bagi pasien dan pendamping kepada Misi Haji Indonesia.



Misi Haji Indonesia akan menyediakan seorang pendamping untuk pasien duduk dan dua orang pendamping bagi pasien baring. Bagi pasien baring, pihak Garuda Indonesia memerlukan tiga seat plus dua seat bagi pendamping yang berjumlah dua orang. Sedangkan pihak Saudia Airlines membutuhkan sedikitnya enam seat plus dua seat untuk pendamping.

Sesuai jadwal, pasien akan diterbangkan ke tanah air menuju bandara internasional Sukarno Hatta untuk kemudian dijemput oleh petugas dari Ditjen Penyelenggaraan Haji dan Umroh Kementerian Agama RI usai dilakukan serah terima dengan petugas pendamping.

Subhan Cholid mengakui bahwa untuk melakukan pemantauan pasien jamaah haji secara rutin setiap hari membutuhkan waktu, tenaga dan biaya yang cukup besar. Untuk itu, lanjutnya, Misi Haji Indonesia bekerja sama dan berkoordinasi dengan para perawat dan petugas medis lainnya di rumah sakit, terutama mereka yang berkewarganegaraan Indonesia guna memudahkan pemantauan perkembangan kesehatan pasien secara efektif dan efisien.

Menurut Subhan, Misi Haji Indonesia acap kali menghadapi kendala yang menghambat proses pemulangan pasien, seperti yang seringkali terjadi yaitu pihak rumah sakit telah menyatakan pasien sudah layak keluar rumah sakit, namun penerbangan menyatakan pasien tersebut belum layak terbang. Pihak rumah sakit sendiri akhirnya tetap memaksa agar pasien tersebut segera dikeluarkan, padahal Misi Haji Indonesia tidak memiliki tempat perawatan yang memadai dan tenaga khusus yang memiliki keahlian di bidang kesehatan untuk menampung dan merawat pasien tersebut.

Kendala lain yang kerap kali terjadi yaitu pasien dinyatakan telah sehat dan layak terbang, namun pihak maskapai penerbangan belum dapat menyediakan kursi (seat) sejumlah yang dibutuhkan dengan berbagai alasan. Masalah ketersediaan kursi (seat availibility) semakin pelik tatkala pemulangan pasien berlangsung pada masa peak season --musim liburan sekolah dan Umroh-- atau ketika maskapai penerbangan yang memiliki pelayanan direct flight Jeddah-Jakarta berhenti beroperasi sementara pasca musim haji, seperti dilakukan Garuda Indonesia sejak pertengahan Desember hingga Januari 2012.

“Kondisi inilah yang terkadang menyebabkan pasien yang sudah sehat kembali jatuh sakit karena adanya tekanan psikologis bahwa yang bersangkutan tidak dapat segera dipulangkan ke tanah air”, ujar Subhan.



Mengingat cukup banyaknya jumlah jamaah haji Indonesia yang meninggal dan sakit dalam setiap pelaksanaan haji, khususnya saat pelaksanaan puncak ibadah haji di kawasan Armina, PF Pensosbud I KJRI Jeddah Cahyono Rustam mengingatkan bahwa ibadah haji sesungguhnya merupakan ibadah fisik. “Oleh karena itu, guna meminimalisasi jumlah pasien yang sakit dan wafat selama pelaksanaan haji, kami mengimbau agar para calon jamaah haji Indonesia dapat menjaga dan mempersiapkan kondisi kesehatan fisik mereka dengan baik sebelum berangkat ke tanah suci, terutama bagi mereka yang telah berusia lanjut atau mengidap penyakit tertentu, seperti penyakit jantung, darah tinggi, diabetes, dan bronkitis”, pesan Cahyono. —PFP II