Profil Menteri Luar Negeri

Retno LP Marsudi diangkat menjadi Menteri Luar Negeri Republik Indonesia pada 27 Oktober 2014. Menlu Retno adalah perempuan pertama yang menjadi Menteri Luar Negeri Republik Indonesia.


Kepemimpinan Indonesia semakin diperkuat. Selama menjabat Menlu, Retno selalu menjadikan Indonesia sebagai bagian solusi berbagai permasalahan di kawasan dan dunia. Kepemimpinan Menlu Retno tampak saat Indonesia menjadi tuan rumah, antara lain, Peringatan 60 Tahun Konf​erensi Asia-Afrika pada bulan April 2015, juga dalam Pertemuan Tingkat Tinggi Luar Biasa Organisasi Kerjasama Islam (OKI) mengenai Palestina dan Al-Quds Al-Sharif di Jakarta pada 2016, serta pada Pertemuan Tingkat Tinggi Indian Ocean Rim Association (IORA) pertama pada tahun 2017.


Diplomasi Indonesia dibawah Retno Marsudi berkomitmen untuk melakukan mitigasi krisis kemanusiaan di kawasan Asia-Pasifik. Dalam menghadapi krisis kemanusiaan di Rakhine State, sebagai contoh Indonesia melakukan Diplomasi Maraton untuk Kemanusiaan guna mengakhiri situasi kemanusiaan dan membantu memulihkan perdamaian dan stabilitas di Rakhine State. Lebih jauh lagi, Indonesia juga berkomitmen dalam menjaga sentralitas dan persatuan ASEAN untuk mengatasi tantangan-tantangan berat di kawasan dan dunia.

Dibawah kepemimpinan Menlu Retno, Indonesia menginisiasi Kerja Sama Trilateral (Indonesia – Malaysia – Filipina) untuk menjawab ancaman keamanan di Perairan Sulu dan sekitarnya. Kerja Sama Trilateral juga diinisiasi Indonesia dalam menangkal terorisme, terutama setelah serangan teroris di Marawi.


Menlu Retno menerima penghargaan ‘Agen Perubahan’ dari United Nations Entity for Gender Equality and the Empowerment of Women (UN Women) dan the Global Partnership Forum (GPF) pada Sidang Umum PBB di New York, AS pada 20 September 2017. Penghargaan ini sebagai pengakuan atas kerja keras Indonesia dalam kancah dunia, terutama dalam mempromosikan Agenda 2030 untuk Pembangunan Berkelanjutan, serta kontribusi Indonesia dalam menjaga perdamaian, stabilitas dan kemanusiaan melalui diplomasi.


Sebelum menjabat sebagai Menteri Luar Negeri RI, Menlu Retno menjabat sebagai Duta Besar Indonesia untuk Norwegia dan Islandia (2005 – 2008) dan Duta Besar Indonesia untuk Kerajaan Belanda (2012 – 2014). Saat menjabat sebagai Duta Besar Indonesia untuk Norwegia, beliau telah berkontribusi besar dalam mempererat hubungan bilateral antara Indonesia dan Norwegia. Pencapaian ini diakui dengan penganugerahan Order of Merit (Grand Officer – the Second Highest Decoration) oleh Raja Norwegia pada Desember 2011, penghargaan ini merupakan penghargaan pertama yang diterima oleh warga negara Indonesia di Norwegia.


Saat Menlu Retno menjabat sebagai Duta Besar Indonesia untuk Belanda, beliau berhasil mengembalikan dan meningkatkan hubungan bilateral antara Indonesia dan Belanda pada tingkatan yang lebih tinggi. Sebagai hasilnya, Menlu Retno dianugerahi medali Ridder Grootkruis in de Orde van Oranje-Nassau. Medali ini diserahkan secara langsung oleh Raja Belanda, Willem-Alexander der Nederlanden di Istana Noordeinde, Den Haag pada 12 Januari 2015.


Dari tahun 2008 – 2012, Menlu Retno menjabat sebagai Direktur Jenderal Amerika dan Eropa. Selama masa jabatannya, Indonesia telah membangun kerja sama strategis / komprehensif dengan negara-negara lain, antara lain Amerika Serikat, Uni Eropa dan Brazil. Menlu Retno sendiri memulai karirnya di Kementerian Luar Negeri yang saat itu masih bernama Departemen Luar Negeri pada tahun 1986.


Menlu Retno menamatkan pendidikannya di jurusan Hubungan Internasional Universitas Gadjah Mada Yogyakarta pada tahun 1985. Beliau lalu melanjutkan pendidikannya di Haagse Hogeschool, Den Haag mengambil jurusan European Union Law dan Human Right Study di Oslo University, Norwegia.


Menlu Retno menikah dengan Agus Marsudi, seorang Arsitek lulusan Universitas Gadjah Mada dan Leiden University. Mereka dikarunia dua orang putra: Dyota Marsudi dan Bagas Marsudi.