World Tourism Organization (UN-WTO)

​Istilah UNWTO untuk menyebut UN World Tourism Organization baru digunakan pada tahun 2003, untuk membedakannya dari World Trade Organization. Sejarah kelahiran UNWTO sendiri telah dimulai sejak tahun 1925. Pada tahun 1925, dibentuk International Congress of Official Tourist traffic Association (ICOTT) di Den Haag, Belanda. Pada tahun 1934, ICOTT berubah nama menjadi International Union of Official Tourist Publicity Organizations (IUOTPO).

Setelah berakhirnya Perang Dunia ke-2, seiring dengan meningkatnya pariwisata internasional, IUOTPO berubah menjadi International Union of Official Travel Organizations (IUOTO). Sebagai organisasi internasional non-pemerintah, IUOTO bertujuan untuk memajukan pariwisata, serta memanfaatkan pariwisata sebagai komponen perdagangan internasional dan sebagai strategi pembangunan ekonomi bagi negara-negara berkembang.

Guna memperkuat peran di tataran internasional, muncul kebutuhan agar IUOTO menjadi organisasi antar-pemerintah. Pada Sidang Umum IUOTO tahun 1967, tercetuslah gagasan untuk membentuk suatu lembaga antar-pemerintah yang bekerja sama dengan badan-badan internasional lain, khususnya PBB. Akhirnya, atas rekomendasi PBB, lahirlah UNWTO pada tahun 1970.

Tujuan pokok UNWTO adalah untuk meningkatkan dan membangun pariwisata sebagai kontributor bagi pembangunan ekonomi, saling pengertian internasional, perdamaian, kemakmuran universal, HAM dan kebebasan dasar untuk semua tanpa memandang perbedaan ras, jenis kelamin, bahasa dan agama. UNWTO telah membantu para anggotanya dalam industri pariwisata dunia, yang diyakini merupakan faktor penting dalam merangsang pertumbuhan ekonomi dan menciptakan lapangan kerja, menyediakan insentif untuk melindungi lingkungan dan warisan sejarah, serta mempromosikan perdamaian dan saling pengertian antar-negara. Untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut, UNWTO melaksanakan berbagai program yang bertujuan untuk mengurangi kemiskinan, memperjuangkan kesetaraan gender, dan mendukung pembangunan yang berkelanjutan.   

Program-program pengembangan kepariwisataan oleh UNWTO berkontribusi langsung bagi pencapaian tujuan pembangunan milenium (MDGs) terutama MDG 1 (pemberantasan kemiskinan dan kelaparan), MDG 3 (kesetaraan gender), MDG 7 (kelestarian lingkungan), dan MDG 8 (kemitraan global untuk pembangunan).

Saat ini, UNWTO sedang mempromosikan ekoturisme sebagai salah satu obyek penarik wisatawan, sekaligus sebagai program untuk melestarikan alam. Rangkaian kegiatan yang dilakukan termasuk seminar, lokakarya, dan publikasi. Mengingat Indonesia memiliki banyak obyek wisata alam, ekoturisme dapat menjadi salah satu bidang kerja sama dengan UNWTO. UNWTO juga memfokuskan diri pada pemanfaatan situs-situs budaya untuk mendukung pariwisata. Untuk itu UNWTO melakukan serangkaian kegiatan seperti penelitian di situs-situs budaya, seminar dan publikasi untuk mempromosikan situs budaya, serta penelitian lapangan untuk membantu pemerintah setempat memanfaatkan situs budayanya.

Mengingat pariwisata merupakan salah satu andalan Indonesia sebagai penghasil devisa, kerja sama di forum internasional dan regional seperti UNWTO dan Pacific Asia Travel Assiociation (PATA) sangatlah penting, terutama untuk menjalin kerja sama pelatihan, penanaman modal, dan tukar-menukar pengalaman. UNWTO memiliki Business Council yang beranggotakan badan-badan pariwisata non-pemerintah.

Kementerian Luar Negeri menyambut baik dukungan Executive Council UNWTO agar Masyarakat Pariwisata menjadi anggota UNWTO Business Council, mengingat pariwisata merupakan bisnis yang sangat kompleks dan memerlukan peran serta swasta dan masyarakat untuk menjamin keberhasilannya.

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif sebagai focal point UNWTO di Indonesia, berperan aktif dalam berbagai program yang diselenggarakan UNWTO antara lain dengan duduk sebagai anggota World Committee on Tourism Ethics (WCTE) pada periode 2003-2007 dan 2007-2013. WCTE sendiri merupakan badan independen yang terdiri dari tokoh-tokoh yang diakui kompetensinya dalam bidang pariwisata, yang bertugas untuk memberikan masukan-masukan kepada anggota UNWTO terkait dengan perlindungan pariwisata sesuai dengan kode etik kepariwisataan. Selaku anggota komite, Indonesia telah berkontribusi dan mendukung pelaksanaan kode etik dimaksud. Di samping itu, pada Sidang Umum UNWTO yang ke-19 di Gyeongju, Republik Korea, tanggal 8-14 Oktober 2011, Indonesia terpilih sebagai anggota Executive Council UNWTO untuk periode 2011-2013.

Indonesia perlu untuk mengkaji dan menindaklanjuti program ekoturisme dikembangkan oleh UNWTO. Program ini sejalan dengan ide pembangunan berkelanjutan,  di mana kelestarian obyek wisata alam harus dijaga, terutama mengingat fungsinya sebagai pemelihara keseimbangan alam.  

Salah satu contoh kerja sama antara Indonesia dengan UNWTO dalam bidang pariwisata yang mendukung pembangunan berkelanjutan adalah proyek “Sustainable Tourism through Energy Efficiency with Adaptation and Mitigation Measures in Pangandaran” yang dimaksudkan untuk menjadi model langkah-langkah adaptasi dan mitigasi perubahan iklim di daerah-daerah tujuan wisata di Indonesia khususnya, dan Asia Tenggara pada umumnya. (08062012)