Krisis Energi

6/13/2012 Wednesday, June 13, 2012

​​​Ketidakseimbangan permintaan dan penawaran energi yang didorong pesatnya laju pertambahan penduduk dan pesatnya industrialisasi duniamengakibatkan terkurasnya cadangan energi dalam jumlah besar, khususnya energi fosil yang merupakan sumber energi utama dunia. Pemulihan ekonomi global yang dimotori pertumbuhan ekonomi tinggi di Asia yang diiringi peningkatan permintaan energi untuk industri dan konsumsi, turut mendorong kenaikan harga energi dunia.

Proporsi minyak bumi sebagai sumber utama energi saat ini mencapai 40% dari total permintaan energi dunia, namun cadangannya terus berkurang. Pada tahun 2011 pertumbuhan permintaan minyak bumi dunia mencapai 1,7%.  Peningkatan produksi yang hanya mencapai 0,9% serta cadangan minyak bumi global yang makin berkurangmenyebabkan negara-negara termasuk Indonesia rentan terhadap risiko terjadinya krisis energi dunia.  Kerentanan energi global ini juga sangat dipengaruhi kondisi lain seperti geopolitik.  Ketidakstabilan politik di kawasan Timur tengah dan Teluk Persia juga ikut berpengaruh kepada kestablian harga dan pasokan energi dunia.

Indonesia, dalam upayanya meningkatkan angka pertumbuhan ekonomi, ikut terdampak kondisi energi, baik di tingkat global maupun secara nasional.  Cadangan minyak bumi terbukti saat ini di Indonesia diprediksi 9 milyar barel, dengan tingkat produksi rata-rata 0,5 milyar barel per tahun, dan diperkirakan akan habis dalam waktu 18 tahun. Cadangan gas diperkirakan 170 TSCF (trilion standart cubic feed) sedangkan kapasitas produksi mencapai 8,35 BSCF (billion standart cubic feed). Sedangkan, cadangan batubara diperkirakan 57 miliar ton dengan kapasitas produksi 131,72 juta ton per tahun.

EBT merupakan pilihan efektif dalam jangka panjang untuk mengatasi ancaman krisis energi. Meskipun demikian, disadari bahwa pemanfaatan EBT di Indonesia masih belum optimal. Potensi EBT di Indonesia sendiri sangat tinggi, diantaranya terdapat potensi energi panas bumi yang mencakup 40% dari cadangan dunia (27 GW) tetapi baru dimanfaatkan sebesar 800 MW. Selain itu terdapat potensi energi terbarukan lainnya yang seperti energi surya dan energi hidro.  Kendala lain yang dihadapi dalam pemanfaatan energi baru terbarukan disebabkan teknologi pemanfaatannya masih belum terjangkau.  Selain itu pemberian subsidi terhadap bahan bakar fosil menyebabkan harga energi alternatif belum kompetitif.

Minyak bumi, gas dan batubara masih akan terus mendominasi pemenuhan kebutuhan energi nasional. Di masa mendatang ketergantungan terhadap energi fosil harus diminimalisir melalui optimalisasi pemanfaatan EBT secara bertahap. Mixing energy antara energi fosil dan EBT hanya dapat dilakukan dengan dukungan infrastruktur energi yang memadai, mengingat ketidaksesuaian antara persebaran sumber energi dan konsumen di Indonesia. Untuk merealisasikannya dibutuhkan regulasi yang mendukung, riset dan teknologi, investasi, maupun perubahan pola konsumsi masyarakat yang lebih hemat dan bijak untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya krisis energi di masa mendatang.