KTT Asia Timur (East Asia Summit)

3/26/2012

​​​​​East Asia Summit (EAS) merupakan satu forum regionalisme terbuka yang muncul di kawasan Asia Timur sejak tahun 2005. Pada awal pembentukannya, terdapat 16 negara peserta EAS, yaitu 10 negara ASEAN, Australia, China, India, Jepang, Republik Korea dan Selandia Baru. Amerika Serikat dan Federasi Rusia resmi bergabung menjadi peserta EAS pada KTT ke-6 EAS di Bali, November 2011. Dengan demikian, jumlah negara peserta EAS sekarang menjadi 18.

EAS merupakan forum leaders-led summit dengan ASEAN sebagai kekuatan penggerak (driving force) dalam kemitraan dengan negara-negara anggota lainnya.  Secara rinci tujuan dan prinsip-prinsip EAS termuat di dalam Deklarasi Kuala Lumpur tentang Pembentukan EAS tahun 2005 yaitu:
The EAS is a forum for dialogue on broad strategic, political and economic issues of common interest and concern with the aim of promoting peace, stability and economic prosperity in East Asia.
The EAS's efforts to promote community building in the region will be consistent with and reinforce the realization of the ASEAN Community.
The EAS will be an open, inclusive, transparent and outward-looking forum.
Sejak awal pembentukannya pada tahun 2005 di Kuala Lumpur, Malaysia, KTT EAS telah diselenggarakan sebanyak 6 kali, yaitu di Kuala Lumpur, Malaysia, 14 Desember 2005, Cebu, Filipina, 15 Januari 2007, Singapura, 21 November 2007, Cha-am Hua Hin, Thailand, 25 Oktober 2009, Ha Noi, Viet Nam, 30 Oktober 2010, Bali, Indonesia, 19 November 2011.
Masing-masing pertemuan KTT tersebut menghasilkan berbagai kesepakatan yang tercantum dalam outcome documents yaitu: Kuala Lumpur Declaration on the East Asia Summit dan East Asia Summit Declaration on Avian Influenza Prevention, Control and Response (KTT Pertama), Cebu Declaration on East Asian Energy Security (KTT Kedua), Singapore Declaration on Climate Change, Energy and the Environment (KTT Ketiga), Cha-am Hua Hin Statement on EAS Disaster Management (KTT Keempat), Ha Noi Declaration on the Commemoration of the Fifth Anniversary of the East Asia Summit (KTT Kelima), dan Declaration of the EAS on the Principles for Mutually Beneficial Relations, Declaration of the 6th East Asia Summit on ASEAN Connectivity, Indonesia-Australia paper: A Practical Approach to Enhance Regional Cooperation on Disaster Rapid Response (KTT Keenam).
Kerja sama EAS mencakup isu-isu strategis (politik dan keamanan) serta isu-isu sektoral. Isu-isu strategis di bahas pada tingkat Summit, Menteri Luar Negeri dan Pejabat Senior Kemlu. Sedangkan isu-isu sektoral mencakup bidang keuangan, energi dan lingkungan hidup, pendidikan, kesehatan global dan pandemik, serta penanggulangan bencana. 5 isu sektoral tersebut dikenal sebagai EAS five priority areas. Pada KTT ke-6, para Pemimpin EAS sepakat untuk memasukan isu ASEAN Connectivity sebagai prioritas baru kerja sama EAS.
Perkembangan kerja sama EAS dalam kelima area prioritas tersebut bervariasi satu sama lain. Sektor energi dan lingkungan hidup merupakan sektor yang sangat maju, dengan berbagai pertemuan di tingkat Menteri, Pejabat Senior sampai aktivitas workshop dan seminar. Sektor pendidikan juga sedang berkembang dimana selain aktivitas pertukaran pemuda, kerja sama media, sejak tahun 2011 telah dimulai upaya peningkatan pertemuan pada level Menteri. Pertemuan Informal Menteri Pendidikan EAS telah diselenggarakan di Indonesia, Juli 2011. Sedangkan pertemuan formalnya akan diselenggarakan di tahun 2012 ini. Negara-negara peserta EAS juga berkomitmen untuk mengembangkan kerja sama di sektor lainnya.
Ketika Indonesia menjadi Ketua ASEAN di tahun 2011, kerja sama EAS dikembangkan lebih jauh lagi dan membawa hasil yang sangat positif. Pada KTT ke-6 EAS, Amerika Serikat dan Federasi Russia resmi bergabung ke dalam EAS, dan memperkuat EAS sebagai forum strategis untuk dialog dan berupaya bersama-sama menjaga dan mempromosikan perdamaian, stabilitas dan keamanan serta mempromosikan kesejahteraan masyarakat di kawasan.
Pada KTT ke-6 EAS juga telah disahkan dua deklarasi, yaitu: (1) Declaration of the East Asia Summit on the Principles for Mutually Beneficial Relations, dan (2) Declaration of the 6th East Asia Summit on ASEAN Connectivity.
Deklarasi pertama, yang disebut juga sebagai "Bali Principles", berisi norma-norma dasar dan prinsip-prinsip umum yang diambil dari berbagai dokumen dasar sebelumnya, termasuk Piagam PBB, Traktat Persahabatan dan Kerja sama (TAC) dan pengaturan lainnya antara negara-negara peserta EAS, yang akan berfungsi sebagai pedoman untuk hubungan antara negara peserta EAS untuk memajukan dan menjaga perdamaian, stabilitas dan kemakmuran di wilayah ini. Deklarasi ini merupakan salah satu pencapaian prioritas Keketuaan Indonesia di ASEAN yang berusaha memastikan terpeliharanya tatanan dan situasi di kawasan yang kondusif bagi upaya pencapaian pembangunan.
Deklarasi kedua menjadikan Connectivity sebagai salah satu area prioritas kerjasama EAS selain 5 area prioritas yang sudah ada (finance, education, energy, disaster management, dan avian flu prevention).
Selain itu para Leaders juga menyepakati "Indonesian-Australian Paper: A Practical Approach to Enhance Regional Cooperation on Disaster Rapid Response" di KTT ke-6 Asia Timur di Bali, 19 November 2011. Paper ini merupakan inisiatif Indonesia dan Australia dalam upaya  menangani bencana alam dan tanggap darurat serta  mengatasi bottle neck yang terjadi pada saat terjadi bencana alam.
Dengan disepakatinya paper ini oleh negara-negara partisipan EAS, diharapkan dapat lebih meningkatkan dan memaksimalkan kerjasama yang lebih luas dalam pengelolaan dan penanganan bencana, koordinasi segera setelah terjadinya bencana dan saat kondisi darurat (emergency rapid response) termasuk persiapan dan kesiapan sebelum terjadi bencana (alert early warning system) melalui mekanisme yang telah ada di ASEAN seperti AHA Centre, ARF-DiREX, AADMER, ACDM, Emergency Rapid Assessment Team ASEAN (ERAT).​