Pancasila Dikagumi sebagai Model Pemersatu Bangsa

 

Roma, Italia: Nilai-nilai Pancasila yang mendasari kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia dipandang dapat dijadikan contoh proses integrasi berbangsa di Italia. Oleh karena itu Pemerintah Italia mengajak Indonesia berbagi best practices melalui Dialog Lintas Keyakinan (Interfaith Dialogue) yang bertajuk "Pluralism and Integration in Indonesian and Italian Societies: Perspective, Opportunities, Challenges" di Kementerian Luar Negeri Italia, Roma (11/10).

Indonesia dan Italia memiliki pemahaman yang sama atas pentingnya mempromosikan dialog lintas keyakinan, utamanya di tengah meningkatnya intensitas isu terorisme, ekstrimisme dan radikalisme.

Pemerintah Indonesia sendiri berkomitmen kuat untuk mempromosikan dialog lintas keyakinan dengan mengedepankan pendekatan sosial budaya melalui pemberdayaan para pemangku kepentingan, khususnya pemuka agama, tokoh nasional, akademisi, serta generasi muda.

Hal ini diutarakan Direktur Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik (IDP) Kementerian Luar Negeri RI, Cecep Herawan, dalam key note speech yang disampaikan pada awal acara.

Sementara itu Profesor Azyumardi Azra dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, yang didaulat sebagai salah satu pembicara dari Indonesia, menjelaskan bahwa kelima sila Pancasila menegaskan politics of recognition atau prinsip penerimaan terhadap siapapun yang menjadi bagian bangsa.

Relevan Dengan Masyarakat Italia

Hal ini diamini Presiden Comunita Religiosa Islamica Italia (COREIS), Imam Yahya Pallavicini, yang menyebutkan bahwa semboyan "Bhinneka Tunggal Ika" juga sangat relevan dalam proses integrasi masyarakat Italia. Selain itu, kebijakan Pemerintah Indonesia yang mengedepankan keterlibatan kaum muda dapat menjadikan proses tersebut berjalan lebih efektif untuk jangka panjangnya.

Isu integrasi saat ini memang tengah mengemuka di Italia. Dengan angka penerimaan pengungsi dan pencari suaka tertinggi di Uni Eropa, Pemerintah Italia memandang penting adanya proses asimilasi sosial budaya antara kaum migran dengan penduduk setempat.

"Keberhasilan harmonisasi masyarakat tersebut sangat ditunjang oleh kearifan beradaptasi dengan nilai-nilai setempat. Dimana bumi dipijak, disitulah langit dijunjung", hal ini ditegaskan Direktur Indonesian Consortium for Religious Studies Universitas Gajah Mada, Dr. Siti Syamsiyatun, yang menjadi pembicara kedua dari Indonesia.

Sejalan dengan hal tersebut, Azyumardi Azra dalam sesi diskusi mengajak umat Muslim sebagai bagian sebuah masyarakat dapat menyesuaikan diri terhadap nilai-nilai dan aturan hukum setempat.

Selain para tokoh dialog lintas keyakinan tersebut, panel diskusi diisi pula oleh Alberto Quattrucci dari Komunitas Sant'Egidio Italia serta Marta Matscher dari Divisi Kebijakan Penanganan Migran dan Pencari Suaka Kementerian Dalam Negeri Italia. Para peserta, yang terdiri dari 45 orang akademisi, pejabat kementerian, serta aktivis HAM dan integrasi sosial budaya Italia, secara antusias menanyakan berbagai isu seputar interaksi antarkeyakinan dan lintas budaya di Indonesia. Hadir pula Duta Besar RI untuk Italia, Esti Andayani, dan Duta Besar RI untuk Tahta Suci Vatikan, Agus Sriyono.

Mengawali Dialog Lintas Keyakinan tersebut, Dirjen Cecep Herawan didampingi Dubes Esti Andayani, juga mengadakan pertemuan dengan Direktur Jenderal Isu-isu Global Kementerian Luar Negeri Italia, Massimo Gaiani. Kedua pihak sepakat menuangkan kerja sama lintas keyakinan RI-Italia dalam kegiatan konkrit, antara lain melalui pertukaran akademisi, pemuda serta tokoh agama kedua negara disamping intensifikasi kerja sama global lainnya. (sumber: KBRI Roma)