KJRI Gelar Diskusi Ekonomi bersama Kepala Perwakilan Bank Indonesia Tokyo


Dalam rangka memperkaya wawasan tentang perkembangan perekonomian Indonesia, KJRI Hong Kong menggelar acara diskusi ekonomi bertema “Perkembangan Ekonomi Global dan Kawasan Asia Timur: Implikasi Kebijakan Ekonomi di Indonesia”, Selasa (14/3).

Acara yang digelar di aula BNI Hong Kong ini diikuti oleh para peserta yang berasal dari para pimpinan dan staf BMUN dan BUMS, pelajar dan mahasiswa, diaspora Indonesia serta para staf KJRI Hong Kong.

 

Membuka acara, Konjen RI Hong Kong Bapak Tri Tharyat menyampaikan kegiatan ini merupakan salah satu bagian dari upaya terus menerus memperbarui informasi dan perkembangan tentang perekonomian Indonesia“Kita perlu terus belajar untuk bisa berkontribusi terhadap kemajuan perekonomian di tanah air,” ujar Konjen RI.

 

Berbicara selaku nara sumber utama, Kepala Bank Indonesia Perwakilan RI Tokyo, Jepang, Bapak Reza Anglingkusumo menyampaikan berbagai update perkembangan ekonomi serta berbagai kebijakan pemerintah Indonesia dalam menghadapi perkembangan ekonomi global dan kawasan.

 

Perkembangan perekonomian global, menurut Reza, akan dipengaruhi beberapfaktor utama seperti pelambatan pertumbuhan ekonomi RRT, kebijakan ekonomi Donald Trump dan dampak keluarnya Inggris dari Uni Eropa (Brexit). 

 

“Dampak dari faktor-faktor itu adalah akan terjadi divergensi dari kebijakan yang dikeluarkan berbagai negara, sehingga aliran modal akan banyak berubah,” jelas Reza. Ditambahkannya, dalam kaitan yang sama, suku bunga diperkirakan akan naik di AS dan negara-negara maju. 

 

Walaupun demikian, Reza menyampaikan bahwa situasi perekonomian Indonesia ke depan masih dalam kondisi baik. “Walaupun terjadi pelambatan ekonomi di RRT, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih naik dari 4,9 persen tahun 2015 menjadi 5,02 persen pada tahun 2016” katanya.

 

Pertumbuhan itu, menurut Reza, disebabkan karena para pelaku ekspor Indonesia dapat melakukan penyesuaian dengan cepat, mengingat ekspor pasar ekspor Indonesia terhitung cukup beragam apabila dibanding negara ASEAN lainnya. Selain itu, cukup tingginya investasi menjadikan neraca perdagangan tetap surplus dan cadangan devisa tetap tinggi. “Saat ini, fundamental ekonomi Indonesia cukup solid dan likuid”, jelas Reza.

 

Pada sesi tanya jawab, beberapa peserta menyampaikan pertanyaan, terutama tentang dampak kebijakan Presiden Donald Trump. Dijelaskan bahwa retorika Trump yang akan membebankan border tax akan sulit direalisasikan karena saat ini secara global kegiatan usaha telah begitu interconnected

 

“Jadi kemungkinan kebijakan ekonomi akan tetap seperti semula, namun dilakukan lebih ke arah bilateral trade regime” kata Reza saat menutup penjelasannya.