Exit Program KJRI Hong Kong: Mari Membangun Kampung Halaman

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Sebagai salah satu upaya pembinaan warga negara Indonesia, Konsulat Jenderal RI di Hong Kong  kembali menyelenggarakan Exit Program pada Minggu (31/10), bertempat di ruang Ramayana, KJRI Hong Kong. Sekitar 250 tenaga kerja Indonesia di Hong Kong yang bekerja sebagai Penata Laksana Rumah Tangga (PLRT) hadir mengikuti kegiatan yang berlangsung dari pagi hingga sore hari tersebut. Program yang dilaksanakan secara rutin 2 kali dalam setahun ini telah diselenggarakan sejak tahun 2008. Sebagaimana pada tahun-tahun sebelumnya, program ini dirancang khusus bagi para PLRT  asal Indonesia yang akan segera kembali ke tanah air dalam waktu dekat. Dalam program tersebut para peserta mendapatkan paparan mengenai bagaimana membuka usaha mandiri sekembalinya mereka ke Indonesia serta paparan mengenai persiapan psikologis kembali ke kampung halaman.

Hadir sebagai pembicara tamu adalah Fahmi Idris, mantan Menteri Perindustrian dan Tenaga Kerja. Dalam kesempatan tersebut Fahmi Idris memberikan pengarahan motivasional kepada para PLRT dalam mempersiapkan diri  kembali ke Indonesia. Mengutip dongeng klasik karya H.C. Andersen tentang semut dan jangkrik, Fahmi Idris mendorong para hadirin untuk bersikap seperti semut dalam kisah tersebut di mana telah melakukan berbagai persiapan untuk menghadapi musim dingin, dan tidak menjadi jangkrik yang hanya bersenang-senang selama musim panas tapi kemudian sengsara di musim dingin di mana tidak ada lagi sumber makanan. Fahmi Idris juga memotivasi para peserta untuk tidak takut memulai bisnis sendiri dari bawah atau merintisnya dari nol. Mengambil contoh Kolonel Sanders yang memulai bisnis Kentucky Fried Chicken di usianya yang ke-65, Fahmi Idris juga mendorong para PLRT untuk tidak gentar mengawali bisnis di usia lanjut. Selain modal uang, Fahmi Idris juga yakin bahwa para TKI di Hong Kong juga mampu memanfaatkan berbagai hal positif yang dapat mereka contoh selama berada di Hong Kong, antara lain sikap kerja, kedisplinan, cara berkomunikasi yang baik, dll.

Pada Exit Program tersebut para peserta juga mendapatkan paparan mengenai tips membuka usaha yang disampaikan oleh Decy Arifinsjah, Konsul Bea & Cukai KJRI Hong Kong. Dalam paparannya tersebut Decy menyampaikan bahwa seseorang dapat disebut sebagai entrepreneur atau wiraswastawan apabila ia telah memulai melakukan usaha baru, tidak sekedar memikirkan atau merencanakan. Decy menyampaikan beberapa tips umum dan sederhana untuk merintis sebuah usaha baru di kampung halaman.

Exit Program tersebut juga diisi oleh pembicara dari Forum Penimarka, yang memberikan paparan motivasional membangun dan mengembangkan kemampuan diri, baik yang telah dimikili maupun yang muncul setelah berada di Hong Kong, sebagai salah satu modal untuk merintis usaha mandiri. Materi yang disampaikan secara interaktif dan menarik tersebut diharapkan mampu memotivasi para peserta untuk mulai berpikir dan merencanakan sebuah usaha baru sekembalinya mereka ke Indonesia, sehingga para TKI di Hong Kong tidak harus kembali ke Hong Kong sebagai PLRT bahkan bisa mengembangkan bisnis yang juga dapat menyerap tenaga kerja di tanah air. Sebagai materi penutup, para peserta juga diberi paparan mengenai berbagi tips sederhana untuk penyesuaian diri kembali yang disampaikan oleh pembicara dari Forum Penimarka yang juga seorang psikolog. Dalam kesempatan tersebut para peserta dijelaskan bahwa dengan kepulangan mereka ke tanah air juga membutuhkan proses adaptasi kembali, sebagaimana ketika mereka baru tiba di Hong Kong. hal tersebut perlu disikapi secara bijak sehingga proses adaptasi tersebut dapat berjalan dengan baik.

Di sela-sela acara, para peserta juga berkesempatan memenangkan hadiah doorprize yang disediakan oleh panitia. Kegiatan yang dilakukan secara gratis ini ditujukan untuk mempersiapkan para TKI di Hong Kong sehingga mereka dapat lebih mantap kembali ke Indonesia dengan memanfaatkan berbagai hal, baik material maupun nonmaterial, yang diperoleh selama bekerja dan tinggal di Hong Kong. Melalui kegiatan ini, para TKI diharapkan pula menjadi pionir ataupun contoh baik bagi warga lain di kampung halamannya melalui sikap positif, disiplin dan kerja keras mereka.