Seminar Film Indonesia di Kuba

​​Seperti umumnya orang Kuba, Profesor Gabriel Calaforra yang mengajar seni dan budaya di Instituto Superior de Artes (ISA/Sekolah Tinggi Seni) – sekolah seni paling bergengsi di Kuba – merasa “tahu” mengenai keadaan masyarakat melalui cuplikan berita dan liputan di televisi dan jurnal ilmiah yang dibacanya. Tapi seperti ungkapan di Kuba, bahwa film dapat menjadi jendela masyarakat karena menampilkan harapan dan angan mereka, sebagai seorang seniman dan budayawan, dirinya baru menyadari selama hidupnya tidak pernah menonton film Indonesia sehingga sebenarnya rasa “tahu”-nya tentang masyakat Indonesia tidaklah lengkap. Sehingga katanya ”Tolong saya agar dapat menonton film Indonesia lebih banyak. Demikian salah satu pendapat yang mengemuka dalam seminar sehari mengenai perfilman Indonesia yang digelar oleh KBRI Havana bekerjasama dengan Museum Asia di kota Havana, Kuba, pada tanggal 8 Desember 2009. Seminar ini merupakan rangkaian upaya KBRI Havana untuk mempromosikan film Indonesia di Kuba. Sebelumnya, pada bulan September 2009, KBRI Havana telah menyelenggarakan Pekan Film Indonesia di Escuela Internacional de Cine y TV (Sekolah Internasional Film dan Televisi/EICTV) di kota San Antonio de Los Banos, Kuba.

 

Berbicara mengenai hubungan kerjasama Indonesia dan Kuba di bidang perfilman merupakan topik yang menarik. Bayangkan, selama lima puluh tahun terakhir ini belum pernah ada film Indonesia yang diputar di hadapan publik Kuba dan sebaliknya hanya segelintir orang Indonesia yang pernah menonton film produksi negara yang terkenal dengan musik salsa tersebut, padahal hubungan diplomatik kedua negara telah berusia hampir setengah abad.  Pengetahuan insan perfilman kedua negara mengenai perkembangan masing-masing juga sangatlah minim, meskipun Indonesia maupun Kuba telah menghasilkan film-film berkualitas.

 

Teresita Hernandez, Direktur Museum Asia dalam sambutan pembukaannya menekankan hal ini, “Seminar mengenai film Indonesia ini merupakan sebuah kesempatan langka yang sebelumnya tidak pernah terjadi dalam lima puluh tahun terakhir ini di Kuba, sehingga harus kita manfaatkan dengan sebaik-baiknya. Pada seminar yang dihadiri kalangan perfilman dan seni di Kuba ini, bertindak sebagai pembicara adalah Veronika Kusumaryati, seorang pengamat dan praktisi film dokumenter dari Institut Kesenian Jakarta (IKJ), yang tengah menerima perfilman pada sebuah lembaga seni budaya di New York, Amerika Serikat, merupakan wajah generasi muda peminat cinema studies sekaligus pekerja film di Indonesia. Industri perfilman di Kuba merupakan salah satu industri kreatif yang terus berkembang dan mendapat dukungan pemerintah. Sejak tahun 1960-an, para sineas Kuba telah menghasilkan banyak film-film berkualitas yang berhasil meraih penghargaan dan pengakuan di mancanegara. Setiap tahun, pada bulan Desember, Kuba menyelenggarakan Festival Internacional del Nuevo Cine Latinoamericano (festival film Amerika Latin) yang tahun ini menginjak usia ke-31 dan merupakan salah satu ajang festival film terbesar di kawasan Amerika Selatan dan Karibia yang diikuti oleh lebih dari 25 negara dari Amerika Selatan dan Karibia, Eropa, Amerika Utara, bahkan Afrika.

(sumber KBRI Havana)