Pola Ketahanan Pangan Indonesia Sesuai untuk Kuba

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Konsep pembangunan agrikultur Indonesia adalah merubah paradigma dari “growth vs equity” menjadi “growth through equity” dan dari “market and technology driven” menjadi “people driven” yang membuat produksi beras Indonesia mencapai 30% dari total produksi beras ASEAN dan rata-rata 20% lebih produktif dari negara anggota ASEAN. Cara pandang ini diperkirakan akan sesuai untuk diterapkan di Kuba mengingat negara tersebut memiliki sumber daya manusia yang memadai berkat pola pembangunan yang menekankan pada pembangunan manusia.

 

Demikian diutarakan oleh H.S. Dillon, pakar ekonomi pertanian Indonesia di hadapan para undangan dari lembaga think tank, pejabat instansi pemerintah, Partai Komunis Kuba, para peneliti dan Duta Besar dari negara-negara Asia dalam seminar di Kuba (12/03).

 

Pada kesempatan tersebut, H.S. Dillon juga menguraikan pula tentang dampak negatif subsidi di bidang pangan, antara lain menurunnya kualitas pangan yang dihasilkan, rusaknya pasar di negara berkembang akibat praktik dumping dan menurunnya kemampuan petani.

 

Seminar tersebut ditujukan untuk saling bertukar pandangan mengenai isu ketahanan pangan, yang sangat menarik untuk dibahas, khususnya oleh negara-negara yang tengah mencapai kemandirian produksi pangan. Saat ini,  isu tersebut tengah menjadi perhatian khusus bagi Kuba yang sejak tahun 2008 terus berupaya untuk meningkatkan produksi pangan guna mengurangi ketergantungan terhadap impor.

 

Seminar yang diselenggarakan oleh KBRI Havana dan dan Centro de Estudio de Asia y Oceania (Pusat Studi Asia Oseania/CEAO) adalah bagian dari peringatan 50 tahun hubungan diplomatik Indonesia-Kuba. Seminar tersebut dibuka oleh Direktur CEAO, Juan Carretero Ibañez dan Duta Besar RI di Havana, Banua Radja Manik.

Selain menghadirkan H.S. Dillon, seminar ini juga menghadirkan Christian Benvenuto, peneliti muda dari CEAO yang memaparkan tentang perkembangan terkini mengenai Indonesia di berbagai bidang.

 

Seminar ditutup dengan penayangan film dokumenter berdurasi sekitar 20 menit mengenai berbagai aspek pembangunan di 33 provinsi Indonesia. (Sumber: KBRI Havana)