Pekan Film Indonesia Meriahkan Perayaan 50 Tahun Hubungan Diplomatik Indonesia dan Kuba

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Malam 16 September 2010 menjadi momen bersejarah bagi masyarakat Indonesia di Kuba, karena setelah 50 tahun membuka hubungan diplomatik, inilah pertama kali film Indonesia diputar di gedung bioskop di Kuba. 

Demikian dikemukakan Duta Besar RI Banua Radja Manik dalam pembukaan Pekan Film Indonesia di gedung bioskop Multicine “Infanta”, Havana. 

Pekan Film Indonesia ini dilaksanakan dari tanggal 16 hingga 22 September 2010, dalam rangka merayakan 50 tahun hubungan diplomatik Indonesia dan Kuba. 
KBRI Havana menggandeng ICAIC (Instituto Cubano de Arte e Industria Cinematográfica) yang merupakan lembaga pemerintah Kuba yang khusus menangani bidang perfilman di negara tersebut. 

Film “Get Married” yang merupakan film komedi-romantis produksi tahun 2008 besutan sutradara muda Hanung Bramantyo menjadi pembuka Pekan Film Indonesia.  Dipilihnya film ini karena keseharian kehidupan yang tergambar dalam film tersebut mirip dengan pergelutan kehidupan anak-anak muda di Kuba yang penuh canda dan tawa meskipun menghadapi masalah pelik. Selain film “Get Married”, film-film Indonesia lainnya yang ditampilkan dalam Pekan Film ini adalah film “Laskar Pelangi”, “3 Doa 3 Cinta”, “Berbagi Suami”, “Pintu Terlarang” dan “Denias, Senandung Di Atas Awan”.  

Sambutan para penonton Kuba sangatlah positif, dan hal ini sangatlah berarti sebab masyarakat negara di kawasan Karibia ini memiliki standar yang tinggi terhadap seni sehingga tidak mudah memberikan pujian.  Apalagi negara ini merupakan negara terdepan di kawasan Amerika Selatan dan Karibia dalam menghasilkan film-film berkualitas yang memenangkan penghargaan di berbagai festival film internasional.  Tiap tahun Kuba merupakan tempat penyelenggaraan Festival Film Amerika Latin yang telah berusia lebih dari 30 tahun, salah satu festival film tertua di kawasan.    

Beberapa sutradara dan pengamat film Kuba yang diminta oleh ICAIC untuk melakukan preview film-film Indonesia yang akan diputar di Pekan Film ini, tidak habis-habisnya memberikan pujian terhadap kualitas film Indonesia.  Seorang sutradara menyampaikan kepada KBRI Havana bahwa tadinya dirinya menyangka hanya akan “menonton pemandangan alam” saja karena tidak memiliki bayangan mengenai kualitas film Indonesia dan dirinya sangatlah terkejut dengan apa yang dilihatnya karena sungguh di luar dugaan.    

Seperti sebuah ungkapan “a movie is a window to another country” (film adalah jendela ke negara lain), KBRI Havana berharap dengan pelaksanaan Pekan Film Indonesia di Kuba ini, tidak hanya nama Indonesia menjadi semakin dikenal oleh masyarakat Kuba tetapi juga semoga akan tumbuh benih-benih kerjasama dari insan perfilman kedua negara. 
Film Indonesia dapat menjadi wahana terdepan diplomasi budaya demi kepentingan nasional bangsa. (Sumber: KBRI Havana)