"Noche de Batik" Pukau Masyarakat Kuba

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Antusiasme dan rasa ingin tahu terlihat di wajah para peserta ketika mereka mulai menorehkan cantingnya di atas kain. Setelah selesai proses pewarnaan, kain-kain hasil batikan para peserta kemudian dibagikan kepada mereka sebagai kenang-kenangan.
 
Decak kagum memenuhi ruangan ketika Venny Alamsyah dari Batik House Indonesia (BHI) menjelaskan bahwa pembatik membutuhkan waktu 6 hingga 8 bulan untuk menyelesaikan sehelai kain sepanjang 2,5 meter. Paparan mengenai sejarah dan seluk beluk Batik Indonesia ini mengawali rangkaian acara "Noche de Batik" (Malam Batik) yang diselenggarakan oleh KBRI Havana di Hotel Melia Cohiba, Havana, Kuba (22/10).
 
Seusai mendengarkan penjelasan mengenai batik, hadirin diajak untuk mencoba membatik dengan menggunakan canting. Antusiasme dan rasa ingin tahu terlihat di wajah para peserta ketika mereka mulai menorehkan cantingnya di atas kain. Setelah selesai proses pewarnaan, kain-kain hasil batikan para peserta kemudian dibagikan kepada mereka sebagai kenang-kenangan.
 
Para undangan lain yang tidak turut mencoba membatik tampak asyik mengagumi kain-kain batik tulis dan berbagai seni kerajinan yang ditata secara apik oleh ibu-ibu Dharma Wanita Persatuan KBRI Havana. Banyak tamu yang mengajukan pertanyaan seputar makna motif batik yang dipamerkan karena masyarakat Kuba memang sangat tertarik dengan hal-hal yang berbau filosofis dan simbolis.
 
Setelah mencoba membatik dan menikmati pameran kain batik, para tamu dijamu makan malam dengan ditemani oleh sajian tarian tradisional Indonesia, berupa tari Pendet dari Bali, topeng Klana dari Cirebon dan tari Merak dari Jawa Barat yang dibawakan secara gemulai oleh. Visarah Novicca Afridiani dan Sera Dewi Pradita dari Universitas Padjajaran. Selain para penari Indonesia, tampil pula dua penari Kuba binaan KBRI Havana yang membawakan tarian Jaipong asal Jawa Barat. Selain tarian, ditampilkan pula grup musik Cubaneo, salah satu grup musik jazz Kuba yang cukup terkenal di kota Havana.
 
Sebagai pemungkas acara, para tamu disuguhkan peragaan busana batik hasil karya Bambang Sumardiyono dari "Batik Nakula Sadewa" yang dibawakan oleh model-model Kuba yang cantik dan anggun serta oleh ibu-ibu Dharma Wanita Persatuan. Peragaan busana bernuansa batik ini terasa membuka mata para hadirin mengenai fleksibilitas batik yang ternyata dapat digunakan dalam berbagai kesempatan, baik santai maupun formal.
 
Acara "Noche de Batik" yang baru pertama kali dilaksanakan di Kuba ini, dihadiri oleh lebih dari 130 orang undangan dari berbagai kalangan, antara lain terdiri dari para pejabat pemerintah, pejabat teras partai, anggota parlemen, seniman, budayawan, para duta besar dan lingkungan korps diplomatik. Pada kegiatan ini, KBRI Havana merangkul dua lembaga Kuba, yaitu Casa de Asia (Museum Asia) dan ICAP (Instituto Cubano de Amistad con los Pueblos/lembaga persahabatan Kuba dengan masyarakat negara sahabat) untuk bekerjasama, karena acara ini tidak hanya dimaksudkan sebagai sebuah promosi mengenai batik Indonesia yang baru saja mendapat pengakuan UNESCO sebagai salah satu warisan luhur dunia, namun juga sebagai acara perkenalan dari rangkaian peringatan 50 tahun hubungan bilateral RI-Kuba pada tahun 2010 mendatang.