Pembinaan dan Penyuluhan masalah Keimigrasian bagi masyarakat Indonesia di Solwezy dan Kalumbia, Zambia

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Pada tanggal 15-20 Mei 2014 Fungsi Konsuler KBRI Harare mengunjungi masyarakat Indonesia yang ada di Solwezy dan Kalumbila, Zambia. Perjalanan ditempuh melalui jalan darat ke Solwezy. dalam waktu 2 hari 15 dan 16 Mei 2014, dengan route Harare, Zimbabwe menuju Lusaka, Ibukota Zambia, dan keesokan harinya dari Lusaka menuju Solwezy. Harare-Lusaka berjarak kurang lebih 560 km, sedang Lusaka – Kalumbila berjarak 660 km.

Masyarakat Indonesia yang ada di Solwezy pada umumnya bekerja sebagai tenaga konstruksi, dibawah perusahaan PT. Epiterma yang dipekerjakan pada perusahaan tambang tembaga First Quantum dengan system kontrak. Kontrak mereka berkisar antara 6-9 bulan dan bisa diperpanjang. Jumlah WNI yang ada di Solwezy kurang lebih 350 – 380 orang termasuk pekerja yang membawa keluarganya. Pada saat kami melakukan kunjungan di Solwezy tercatat ada kurang lebih 355 orang, karena sebagian pekerja Indonesia sedang pulang cuti dan sebagian sudah selesai kontrak.

Pergeseran masyarakat Indonesia Solwezy di Zambia cukup mobile, hampir setiap bulannya ada yang datang ke Zambia dan yang kembali ke Indonesia, karena cuti maupun kontrak selesai. Pada hari Sabtu tanggal 17 Mei 2014 kami melakukan pertemuan dengan masyarakat Indonesia di Solwezy, bertempat di Indonesian Camp, tempat tinggal pekerja Indonesia yang ada di tambang tembaga First Quantum. Camp masyarakat Indonesia bersebelahan dengan Camp Philippina. Hadir dalam pertemuan tersebut kurang lebih 355 orang pekerja Indonesia.

Pada hari Minggu 18 Mei 2014 kami juga melakukan kunjungan ke masyarakat Indonesia yang ada di Kalumbila. Jarak Solwezy ke Kalumbila sekitar 70 km. Masyarakat Indonesia juga bekerja di bidang konstruksi di Perusahaan tambang tembaga di First Quantum Kalumbila. Jumlah WNI yang ada di Kalumbila saat kami mengadakan dialog sekitar 125 orang. Karena sebagian dari mereka sedang ada yang cuti dan habis kontrak. Sebenarnya jumlah WNI yang ada di Kalumbila bisa mencapai 193 orang, namun mengingat mobilitas mereka setiap bulannya cukup tinggi, sehingga pada saat dialog dengan masyarakat Indonesia terkumpul kurang lebih 125 orang.

Dalam dialog dengan masyarakat Indonesia tersebut terdapat banyak pertanyaan seputar visa Zambia dan izin tinggal dan izin kerja di Zambia, Kartu Jaminan Kesehatan dari BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial).

Para pekerja konstruksi Indonesia yang akan ke Zambia sebagian terkendala pada lamanya proses mendapatkan visa. Tidak adanya Kedutaan Besar Zambia di Jakarta menjadi salah satu hambatan. Proses mendapatkan visa harus menunggu calling visa dari Zambia terlebih dahulu, setelah ada persetujuan visa on arrival dari Zambia para pekerja Indonesia baru dapat berangkat menuju Lusaka, Zambia. Demikian pula dengan proses mendapatkan izin kerja maupun izin tinggal juga mengalami proses yang sangat lama bisa mencapai 6-9 bulan.

Selama ini pengurusan visa dan ijin tinggal tersebut dilakukan secara kolektif oleh perusahaan First Quantum sebagai pihak sponsor di Zambia. Proses pengajuan dilakukan ke Kantor Imigrasi Zambia di Solwezy. Sebagian besar peserta dialog meminta bantuan KBRI Harare untuk bisa memperlancar proses tersebut.

Pertanyaan lain berkaitan dengan jaminan kesehatan dari BPJS, dimana saat ini belum semua WNI yang di pekerjakan mendapatkan Kartu Jaminan Kesehatan dari BPJS. Sebagian pekerja sudah mendapatkan kartu tersebut. Mengingat para pekerja tersebut di pekerjakan oleh PT Epiterma, maka pada saat itu kami memohon perwakilan PT. Epiterma yang ada di Kalumbila maupun Solwezy untuk memperhatian hal tersebut.Untuk diketahui bahwa proses visa di Zambia khususnya bagi WNI masih sangat sulit. Indonesia termasuk dalam list "Calling Visa" dalam daftar keimigrasian Zambia. Proses mengeluarkan Indonesia dari List "Calling Visa" akan senantiasa diusahakan, mengingat Indonesia sebelumnya tidak termasuk dalam daftar Imigrasi Zambia. Dalam kesempatan itu dilakukan juga pelayanan kekonsuleran, lapor diri dan pendataan WNI baru.Menurut catatan KBRI Harare selama ini para pekerja Indonesia cukup diperhatikan dari segi kesejahteraan, makan, serta mendapat tempat tinggal yang layak.

Menurut catatan KBRI Harare selama ini para pekerja Indonesia cukup diperhatikan dari segi kesejahteraan, makan, serta mendapat tempat tinggal yang layak.