Perlindungan masyarakat dan aktivitas misionaris di Zambia

10/2/2012

Sebagai salah satu bentuk tugas pokok dan fungsi Kekonsuleran yakni mengayomi, melindungi dan memberikan bantuan kepada segenap Warga Negara Indonesia di Luar Negeri, maka Layanan Kewarganegaraan dapat dilakukan dengan mengunjungi WNI yang berada di negara akreditasi ataupun rangkapan, hal ini untuk lebih memudahkan komunikasi 2 ( dua ) arah antara para WNI dan Perwakilan c.q. Pejabat Konsuler.

Pada tanggal 25 September 2012 Kami melakukan kunjungan kekonsuleran ke Zambia ( Livingstone dan Mwandi ) dan Bulawayo. Sebagian besar WNI yang berada di Livingstone dan Mwandi bekerja sebagai misionaris ( pastur dan suster biara ) mereka hidup bekerja sebagai volunteer, mengabdikan diri untuk misi kemanusiaan, membantu dan membimbing orang-orang Zambia yang hidup di Pelosok pedalaman Zambia,  khususnya mereka yang hidup dalam garis kemiskinan dan masih sangat jauh dari sentuhan dan pengaruh modernisasi.
 

Bapak Dubes Eddy Poerwana dan Ibu Ine berfoto bersama dengan sebagian anak-anak serta pengurus Lubasi Home
 
Pada hari pertama kami mengunjungi Para Suster Indonesia yang bekerja di sebuah tempat penampungan anak-anak terlantar yang bernama Lubasi Home, Lubasi sendiri berarti " Keluarga" dalam bahasa Indonesia. Tempat ini berfungsi sebagai penampungan bagi anak-anak yang tidak mempunyai keluarga ataupun sanak saudara yang mau mengakui mereka. Di Lubasi Home mereke diberikan pendidikan yang dapat membantu mereka menambah keterampilan serta kelak diharapkan dapat hidup mandiri.

Berbagai hal diajarkan kepada anak-anak tersebut, seperti bercocok tanam, memelihara ayam, membuat rajutan ataupun kerajinan tangan lainnya yang mana hasil penjualannya digunakan kembali untuk kehidupan sehari-hari dan kebutuhan mereka di Lubasi Home.

Lubasi Home sendiri awalnya didirikan oleh seorang berkewarganegaraan Srilanka dan bangunannya berasal dari Departemen Sosial, kemudian secara resmi dibuka oleh First Lady, Mrs. Maureen Mnawasa pada 28 Maret 2003 , kemudian pengelolaanya dilakukan oleh Komunitas Gereja Katolik, yang secara bergantian mengutus para Suster Biara untuk mengurus dan mengelola Lubasi home.

Pada kunjungan kami di Lubasi Home, kami mendapatkan Informasi bahwa beberapa anak penghuni disana mengidap penyakit AIDS, dan tentunya mereka harus mendapatkan perhatian dan perawatan yang lebih dari anak-anak lainnya.
 
Hal menarik yang yang patut kita hargai dan banggakan bahwa salah seorang Misionaris Indonesia, yaitu Pastur Klemens Amanut berhasil menginspirasi, memotivasi serta membimbing orang-orang di pedalaman Lipumpu untuk bercocok tanam tumbuhan padi ( yang nota bene bukan makanan pokok mereka ) kemudian hasilnya dijadikan sebagai salah satu sumber pendapatan bagi  masyarakat disana.
 

Pastor Klemens dengan pesawahan padi tadah hujannya
 
Pada tahun 2008, dengan segala tantangan yang dihadapi, Pastur Klemens mecoba membuka lahan persawahan dengan mengajak 5 ( lima ) orang di Lipumpu, hal ini ternyata membuahkan hasil yang cukup baik dengan hasil pertanian yang berhasil cukup baik, melihat hal tersebut  berjalan dengan baik, pada tahun berikutnya masyarakat Lipumpu perlahan-lahan semakin tertarik dengan proyek persawahan yang di inisiasi dan dijalankan oleh Pastur Klemens,  hal yang paling menggembirakan bahwa sampai pada tahun ini sedikitnya sekitar 118 orang di Lipumpu terjun ke proyek persawahan tersebut.

Sebagai seorang Misionaris yang memberikan kontribusi yang begitu banyak dan sangat bermanfaat bagi masyarakat di Mwandi dan Lipumpu. Masyarakat setempat memberikan julukan kepada ybs "Syamukwele" yang berarti "seseorang yang dapat membawa dan mengarahkan orang banyak ke jalan yang lebih baik" .

Pada saat kami berkunjung ke lokasi di atas, Kami juga sempat berinteraksi dengan masyarakat lokal tsb, mereka sangat bersyukur dan bahagia mendapat kunjungan dari KBRI mengingat jarak tempuh dari Harare ke lokasi pedalaman yang terbilang sangat jauh dan kondisi jalan yang kurang baik, membuat mereka merasa lebih diperhatikan, mereka merasa sangat bersyukur bahwa Indonesia mempunyai misonaries-misionaries yang patut dijadikan suri tauladan yang mau mngabdikan hidup secara sukarela, membangun  pedalaman di Lipumpu yang masih terletak sangat jauh sebagai tempat terpencil dengan masyarakat yang hidup berkekurangan dalam hal pemenuhan materi.

Pada kunjungan kami ke Lipumpu, kami menyumbangkan pupuk tanaman biorganik ( kandungan dari bahan-bahan alami ), Bapak Kawana Mbala, salah seorang utusan dari Departemen Pertanian, merasa sangat gembira dengan pemberian pupuk tersebut, karena Zambia mempunya peraturan dalam bidang pertanian yakni hanya diperbolehkan menggunakan pupuk dengan kandungan alami untuk bercocok tanam.

Pada hari berikutnya kami mengunjungi para Pastur yag berdomisili di Mwandi, jarak dari Mwandi sekitar 140 km dari kota Livingstone. Selain  bekerja untuk mewartakan agama para Pastur tersebut juga berjuang mengajarkan dan membina orang -orang Afrika yang berada di pedalaman Zambia ( Lutaba ) untuk belajar menggunakan dan mengolah sumber daya alam yang ada disekitar mereka. Hal ini bukanlah hal yang mudah bagi para Pastur, mengingat minimnya pengetahuan dan wawasan orang-orang yang ada di pedalaman tersebut. Kehidupan mereka yang sangat jauh dari ketercukupan serta kurangnya dukungan dan atensi dari pemerintah lokal, mengharuskan para Missionaries untuk bekerja secara lebih keras lagi.

Lutaba Village Service Center ( LVSC )  merupakan suatu Proyek yang didesain oleh Jemaat Gereja Katolik yang berkomitmen untuk pengurangan kemiskinan ( poverty alleviation ), meningkatkan taraf  kehidupan dengan cara memberdayakan Masyarakat Lutaba secara umum. Adapun sektor-sektor yang diproyeksikan untuk dikembangkan diantaranya :
 
  1. Sektor kesehatan yang meliputi pengadaan dan sanitasi air
  2. Sektor pendidikan
  3. Sektor ekonomi yang meliputi pengembangbiakan dan pembudidayaan beberapa jenis ternak , Ilmu perkebunan/ hortikultura , penanaman jenis tumbuhan tertentu yang cepat menghasilkan.
 
 
Pembinaan Masyarakat ( Citizen Services ) yang kami laksanakan dengan didampingi PF Konsuler dan Pensosbud serta beberapa staf KBRI lainnya, berakhir dengan kunjungan ke masyarakat Indonesia di Bulawayo.

Sumber : Laksi Pensosbud, album foto : www.facebook.com/pwkharare

?