Kunjungan Delegasi dagang Zimbabwe dan Zambia pada Trade Expo Indonesia (TEI) 2011

11/15/2011

 

Tanggal 15 Oktober s/d 26 Oktober 2011

Sebagai upaya  memenuhi undangan dan himbauan Menperdag dan Dirjen PEN dalam rangka acara Trade Expo Indonesia (TEI) 2011, KBRI Harare pada kesempatan tersebut telah berhasil mengupayakan dan menghadirkan para pengusaha dari Zimbabwe dan Zambia untuk  menghadiri TEI dimaksud.
 
Dari 36 pengusaha dari kedua Negara yang telah meminta visa, 29 pengusaha diantaranya di fasilitasi langsung oleh KBRI Harare dengan penyediaan transport lokal dan berbagai pertemuan (business meeting dan one-on-one meeting) dengan pengusaha Indonesia di Jakarta dan Bandung. 
 
 
Bapak Duta Besar, Eddy Poerwana sedang memberikan pengarahan sekilas sebelum tur di komplek perusahaan PT. Dharma Polimetal, Balaraja, Banten
 
 

Sebagian delegasi perdagangan, staf KBRI Harare berfoto bersama dengan jajaran karyawan PT. Dharma Polimetal
 
Kehadiran para pengusaha dari dua (2) negara tersebut merupakan wujud  dan komitmen yang disampaikan pada saat mereka mengunjungi stand KBRI Harare pada acara-acara pameran dagang  internasional dan kegiatan ekonomi lainnya, dimana Dubes RI Harare dan segenap Staf KBRI, secara terus menerus  memperkenalkan produk-produk unggulan non-migas Indonesia sekaligus melakukan penggalangan kepada  para pengusaha setempat dan investor asing di wilayah akreditasi guna memberikan informasi dan potret mengenai berbagai kesempatan perdagangan dan investasi yang ditawarkan oleh Indonesia.

 
Yang Mulia Mr. Saviour Kasukuwere, Menteri Pengembangan Pemuda, Indijinisasi dan Pemberdayaan sedang beramah-tamah dengan sebagian delegasi Zimbabwe disela-sela acara Trade Expo 2011, Jakarta, Indoensia
 
 
Perlu disampaikan pula bahwa Menteri Kusukuwere yang adalah seorang menteri kepribumian dan pemberdayaan kepemudaan, juga hadir atas undangan pribadi manajemen PT. Royal Ostrindo, Mr. Cahyadi Kumala. Pada kesempatan kunjungan ke arena TEI 2011, menteri ini sempat berkeliling dan menanyakan langsung mengenai produks yang dipamerkan, sayangnya kesempatan ini tidak dimanfaatkan oleh perusahaan tersebut.
 
Ini akibat tidak professional-nya para SPG (sales promotion girl) yang menjaga stand tersebut, mereka para SPG pada saat ditanya oleh sang-menteri, hanya menjawab "mister you can read in the brochure". Kami melihat hal ini merupakan sesuatu yang harusnya tidak terjadi, apalagi buyers lain yang datang adalah para buyers yang memang ingin mengetahui secara langsung mengenai berbagai keunggulan produk kita sekaligus menginginkan penjelasan langsung dari produsen mengenai produk yang diminati.

Dari pengamatan di lapangan (pada kurun waktu pelaksanaan TEI 2011) yg berhasil kami himpun terlihat bahwa  sebagian pengusaha dari Negara akrediatsi telah secara konkrit  melakukan penandatangan kontrak pembelian langsung, antara lain berupa furniture yang terbuat dari rotan, ban mobil Gajah Tunggal dan tekstil serta teh hijau. Sedangkan pengusaha  lainnya, pada dasarnya mereka tetap menyampaikan keinginan besar dan minat yang kuat tehadap produk-produk non migas yang di pamerkan di TEI atau produk lain yang tidak dipamerkan di TEI, dan mereka masih perlu mempertimbangkan mengenai kecocokan harga, teknis pengiriman dan masalah jaminan pembayarannya.

Guna memenuhi animo dan antusiasme para pengusaha, KBRI Harare juga telah mengagendakan  beberapa kali pertemuan antara lain CC dengan menteri pertanian RI, para pengusaha Indonesia serta dengan pihak-pihak terkait lainnya selama mereka berada di Indonesia. Termasuk pelaksanaan (field trip) kunjungan ke pabrik pembuat pakaian anak, pabrik tekstil (Bandung), pabrik pengolahan teh hijau "Taraju" dan pabrik pembuat komponen kendaraan bermotor.

 
Bapak Duta Besar, Eddy Poerwana memberikan sambuatan pada acara business meeting dan one-on-one meeting dengan pengusaha di Bandung
 
 
Rombongan pengusaha Zimbabwe dan Zambia difasilitasi langsung oleh Dubes RI Harare bersama dengan salah seorang keluarga presiden, Mrs. Junior Gumbochuma  sedangkan untuk pengusaha Zambia dipimpin oleh Konsul Kehormatan Indonesia, Mr. Levi Zulu, mereka juga berkeinginan besar dan meminati produk-produk non migas Indonesia, yaitu peralatan pertanian, tekstil, pakaian anak-anak, kosmetik, produk karet, industry otomotif, alas kaki, tas wanita, asesoris, home decor, furniture, konstruksi, peralatan berat, ban mobil, dll.
 

Pastor Magwenzi secara simbolik menerima cindera mata dari Full Gospel Business Men's Fellowship International
 
 
Hal lain yang perlu disampaikan adalah pengusaha yang tergabung dalam organisasi Gereja, yaitu Pastor Magwenzi telah menuangkan kesepakatan dalam Memorandum of Understanding (MoU) dengan pengusaha di Bandung terhadap kerjasama ekonomi dan perdagangan untuk berbagai produk dan berbagai pelatihan dengan beberapa pengusaha Indonesia khususnya pengusaha Bandung untuk ditindaklanjuti. Termasuk kelompok asosiasi pengusaha wanita Zimbawe, yaitu Rossemary Vambe, yang mengundang para pengrajin Indonesia untuk memberikan pelatihan di Zimbabwe serta kemungkinannnya pengusaha Indonesia untuk menanamkan modalnya di Zimbabwe di bidang pertambangan dan pertanian.
 
Selanjutnya terkait dengan hals tersebut diatas, KBRI Harare akan terus memonitor dan menampung keinginan serta minat para pengusaha dari negara akreditasi yang telah hadir pada TEI 2011, mengingat para pengusaha ini nantinya dapat dijadikan marketer tidak langsung untuk mempengaruhi pengusaha lainnya di wilayah akreditasi, hal ini sangat dimungkinkan sebagai akibat dari kepuasan dan apresiasi pengusaha wilayah akreditasi yang telah difasilitasi oleh KBRI dan dipimpin secara langsung oleh Dubes RI Harare.

Catatan KBRI :
 
 
Kunjungan delegasi dagang dari negara akreditasi KBRI Harare pada TEI 2011 nampaknya cukup berhasil dan memiliki potensi cukup besar,  dan untuk ukuran Afrika jumlah 36 pengusaha, yang  29 pengusaha diantaranya difasilitasi langsung oleh KBRI, ini merupakan prestasi tersendiri mengingat kebanyakan "kiblat" para pengusaha afrika utamanya pengusaha Zimbabwe dan Zambia adalah eropa dan dubai. Hal lain adalah mengingat masih sulitnya mengajak pengusaha di wilayah akreditasi untuk hadir ke Indonesia, apalagi di tambah membanjirnya produk serupa dari Afrika Selatan yang dari letak geografis lebih diuntungkan.

Dari pengamatan di lapangan, khususnya pada saat pembukaan, tidak ditemui adanya headset (alat penterjemah elektronik) untuk para buyers yang tidak dapat berbahasa Indonesia, sehingga mereka para buyers dari luar negeri terlihat kebingunan dan berakibat tidak tertarik untuk mengikuti acara tersebut. Ke-depan, hal ini perlu dipikirkan secara terencana dan baik oleh panitia, sehingga acara pembukaan yang sedianya menjadi pintu dan potret untuk membuka pandangan dan persepsi para buyers terhadap produk kita dapat terealisasi dan menjadi lebih bermanfaat.

Para SPG yang menjaga stands pameran hendaknya seorang SPG yang professional dan menguasai seluk-beluk serta pernak-pernik produks yang dipamerkan, sehingga para buyers dapat memperoleh kepuasan atas penjelasan yang diberikan. Dan pada akhirnya mereka para buyers menjadi tertarik untuk mengadakan deals dengan pengusaha Indonesia. Ke-profesional-an SPG adalah sesuatu yang sangat penting dan ini juga merupakan satu kesatuan rangkaian proses marketing kalau memang produks Indonesia ingin lebih dikenal secara luas dan men-dunia.

Jakarta       Oktober 2011
Sumber: Laksi Ekonomi, KBRI Harare, Zimbabwe