Citizen Services di Lusaka dan Solwezi, Zambia

6/21/2012

 

Pada hari Kamis 14 Juni 2012, Laksi Pensosbud dan Konsuler bersama 2 (dua) orang staf  melakukan kunjungan ke Kota Lusaka dan Solwezi, Zambia. Adapun maksud dan tujuan melakukan kunjungan kesana adalah untuk melakukan Citizen Services sekaligus melakukan pendataan penduduk potensial pemilu 2014 mendatang.

Sesuai dengan arahan dan amanah dari Pusat agar perwakilan RI dapat memberikan perlindungan optimal bagi Sudara-saudara kita Warga Negara Indonesia (WNI) yang tinggal di Luar  Negeri ataupun yang hanya sekedar berkunjung.
 
 

 
Dengan semakin banyaknya jumlah WNI/ TKI di Luar Negeri membawa konsekwensi/ dampak logis pada peningkatan jumlah dan kompleksitas permasalahan yang menimpa WNI di Luar Negeri, terutama WNI/TKI  yang bepergian ke Luar Negeri tanpa dilengkapi dokumen perjalanan resmi. Oleh karena itu dalam ragka menjalankan misi dan perlindungan sesuai amanat Pembukaan UUD 1945 agar Kemenerian Luar Negeri melalui Perwakilan RI di Luar Negeri terus berupaya meninggkatkan kualitas pelayanan dan Perlindungan bagi WNI dan Badan Hukum Indonesia (BHI) khususnya  melalui pelayanan warga (Citizen Services).

Dalam rangka mengoptimalkan pelayanana pelayanana dan perlndungan WNI di Luar Negeri maka salah satu cara yang ditempuh diantaranya; meningkatkan public awarness atau kesadaran secara umum bagi WNI yang berada di luar negeri misalnya dengan melakukan lapor diri pada Perwakilan RI terdekat.

First Quantum Mining Ltd (FQML) dengan lokasi pertambangan yang bernama Kanshansi site yang terletak di  kota Solwesi merupakan salah satu area pertambangan di Zambia, dengan jarak tempuh 8-9 Jam (perjalanan darat) dari Lusaka. Pertambangan ini  merupakan salah satu pertambangan tembaga terbesar di benua Afrika, terdapat sekitar 165 tenaga kerja Indonesia yang bekerja pada  perusahan tesebut, mulai dari tenaga kerja biasa sampai dengan tenaga ahli (expert).

Pada kunjungan tim dari KBRI ke Lokasi pertambangan, ditemui oleh pihak manajemen perusahaan, dalam hal ini diwakili oleh  Mr. Sam Hossack (Project Engineer), Mr. Marius Van Der Merwe (Deputy Poject Manager), Mr. Joseph Bwalya (Senior Safety Manager), Mr. Blakis (Workshop Manger) serta Sdr. Timbul Pardamean Siahaan (Epiterma Corp. Superintendent). Kami mendapatkan informasi dari pihak managemen bahwa hubungan kerja dengan para pekerja asal Indonesia dinilai cukup baik dan harmonis, mereka memandang jika para pekerja Indonesia bekerja dengan rajin dan tekun

Setelah pertemuan dengan Pihak Manajemen, tim KBRI diantar mengelilingi seluruh lokasi area pertambangan (site trip), khususnya lokasi proyek-proyek yang sedang dikerjakan oleh para tenaga kerja Indonesia, serta mengunjungi Indonesian Camp, berupa barak-barak tempat dimana mereka tinggal selama bekerja di sana, barak ini baru dibangun sekitar 2 (dua) bulan yang lalu, mereka dipindahkan dari barak sebelumnya. Menurut penilaian Tim KBRI barak-barak baru ini jauh lebih baik dan memadai daripada tempat sebelumnya.

Pihak manajemen pun memberi kesempatan pada Tim KBRI untuk berinteraksi secara langsung dengan para pekerja Indonesia sekaligus makan siang bersama pada saat jam istirahat . Hal ini cukup menggembirakan buat kami bahwa mereka cukup senang selama bekerja di lokasi pertambangan tsb. Sebaliknya pun demikian, sebagian dari para pekerja Indonesia merasa sangat bahagia mendapat kunjungan dari KBRI Harare, mereka merasakan bahwa Perwakilan RI ternyata memberikan atensi yang cukup bagi mereka ,mengingat jarak Solwezi yang sangat jauh dari KBRI  Harare, Zimbabwe.

Pada hari yang sama di petang hari, pihak manajemen juga mengadakan happy hours untuk seluruh pekerja Indonesia dan keluarga ( bagi para tenaga Ahli yang mempunyai keluarga), Tim KBRI pun turut diundang untuk bergabung bersama pada happy hours tersebut. Pihak manajemen menginformasikan bahwasanya happy hours ini diadakan setiap 2 (dua) minggu sekali pada akhir pekan, untuk menghilangkan rasa jenuh dan bosan para pekerja yang memang berdomosili jauh dari suasana keramaian kota.
 
 

 
Keesokan harinya, tim KBRI pun berkoordinasi dengan pihak manajemen untuk mengumpulkan seluruh passport para pekerja Indonesia, agar Laksi Konsuler dan Stafnya dapat membubuhkan catatan lapor diri pada lembar belakang passport sekaligus mendata ulang jumlah para pekerja Indonesia yang sedang bekerja di sana. Hal ini kami lakukan agar KBRI Harare mempunyai catatan yang lebih akurat dan terbaru untu jumlah pekerja Indonesia di Solwesi, Zambia. Mengingat jarak tempuh Zolwesi yang sangat jauh ke Harare dan jadwal kerja mereka yang sangat padat , tentunya tidak memungkinkan bagi mereka untuk melakukan lapor diri.

Pencatatan Lapor diri ini dilakukan di kediaman salah satu tenaga ahli Indonesia (Bapak Syamsuddin A. Razak, Mine Service Manager). Setelah melakukna pencatatan lapor diri, kami pun berdiskusi dengan para teman-teman pekerja Indonesia, sekaligus memberikan informasi terkait dokumen dan hal-hal lainnya yang harus mereka lengkapi selama berkerja taupun berkunjung di luar wilayah NKRI.

 
Di penghujung pertemuan tim KBRI dengan para pekerja Indonesia, mereka berharap agar Perwakilan RI dapat terus memberikan atensi bagi mereka, sehingga walaupun berada jauh dari Tanah Air mereka dapat tetap merasa Perwakilan RI senantiasa dekat dan mengayomi mereka.

Tim KBRi mendapat Informasi bahwa di Wilayah Kalumbila, 2 (dua) jam dari Solwesi akan dibuka proyek Pertambangan serupa, yang kemungkinna besar akan mempekerjakan tenaga kerja dari Indonesia juga.
 

Sumber : Laksi Konsuler & Pensosbud