Warna Pelangi Pada Perayaan Natal 2010 di KJRI Hamburg

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

„Kasih Allah Tidak Mengenal Perbedaan“, demikian tema yang diusung KJRI Hamburg pada pelaksanaan acara Natal KJRI tahun 2010 bagi kaum nasrani Indonesia di Hamburg dan sekitarnya pada 10 Desember 2010. Lebih dari 400 masyarakat Indonesia di Hamburg dan sekitarnya yang terdiri dari organisasi-organisasi keagamaan yaitu Perki KKI Hamburg, Kerukunan Mahasiswa Katolik Indonesia (KMKI), Masyarakat Reformasi Injili Indonesia (MRII) dan dimeriahkan oleh kelompok Kawanua Hamburg, Masyarakat Nauli Indonesia (MNI), kelompok pelaut Indonesia (INSEAC) dan PPI Hamburg memenuhi aula KJRI untuk bersukacita pada perayaan Natal tersebut. Ditengah-tengah masyarakat Kristiani Indonesia di Hamburg dan sekitarnya, hadir pula undangan dari Pemerintah Hamburg, pengusaha, masyarakat setempat, Friends of Indonesia serta masyarakat muslim Indonesia yang membaur bukan sekedar hadir sebagai tamu, namun juga turut tampil berpartisipasi memeriahkan acara Natal tersebut. Acara Natal KJRI Hamburg didahului dengan pemberitaan firman oleh Pastur Nikolaus Oban dan dilanjutkan dengan persembahan lagu-lagu merdu menjadikan aula KJRI Hamburg terlihat bak warna-warni pelangi indah dengan lantunan melodi merdu. Tatanan warna pelangi dan melodi yang berbeda menunjukkan rasa damai, sukacita dan keindahan yang mempesona. Konjen RI Hamburg, Ibu Marina Estella Anwar Bey dalam sambutannya menyampaikan bahwa penyelenggaraan perayaan Natal KJRI Hamburg saat ini tidak memiliki maksud untuk melupakan penderitaan yang saat ini sedang dialami sebagian masyarakat di tanah air, terutama di Kepulauan Mentawai, masyarakat sekitar Merapi serta bencana longsor di Wasior. Perayaan Natal adalah untuk mengenang apa yang ada dalam ajaran Kristiani yang diharapkan dapat dilaksanakan sesuai dengan tema Natal tahun 2010, Kasih Allah Tidak Mengenal Perbedaan. Tema yang sesuai dengan filosofi bangsa Indonesia, Bhineka Tunggal Ika dengan makna penting bahwa toleransi umat beragama harus dikedepankan, solidaritas, persaudaraan dan kebersamaan harus di jaga dan dikuatkan. Konjen juga menghimbau kiranya pada pelaksanaan Natal tahun mendatang, dengan dukungan KJRI, peran masyarakat dapat lebih dominan dibandingkan staf Perwakilan, dan diselenggarakan dalam kepanitiaan bersama sehingga lebih menonjolkan kebersamaan dan meminimalkan perbedaan. Perayaan Natal di akhiri dengan ramah tamah bersama sementara kolekte yang terkumpul pada Ibadah Natal disumbangkan pada korban gempa di tanah air melalui PPI Hamburg.