PESONA INDONESIA: ANGKLUNG DAN DANGDUT GOYANG PUBLIK GUANGZHOU

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Sebagai salah satu upaya promosi seni budaya Indonesia kepada publik Tiongkok Selatan , pada Hari Minggu tanggal 26 September 2010 KJRI Guangzhou telah menyelenggarakan acara Malam Apresiasi Seni dan Budaya Indonesia di Hotel China Marriot. Kegiatan ini dihadiri oleh sekitar 400 orang yang terdiri dari ”Friends of Indonesia”, (warga RRT dari berbagai latar belakang dan profesi yang mempunyai minat dan ketertarikan untuk lebih mengetahui tentang Indonesia), kalangan media massa baik cetak maupun elektronik,serta  Quiqiao (warga RRT yang dulu pernah menetap di Indonesia) dan wakil-wakil masyarakat Indonesia di wilayah akreditasi.

Kegiatan ini diselenggarakan untuk meningkatkan apresiasi warga Tiongkok terhadap kekayaan seni dan budaya yang dimiliki oleh Indonesia. Selain itu kegiatan ini juga dilakukan untuk mempererat persaudaraan antara masyarakat Indonesia dengan masyarakat Tiongkok baik mereka yang pernah tinggal di Indonesia (Quiqiao), keturunannya maupun mereka yang belum pernah datang ke Indonesia sama sekali.

Kegiatan tahunan ini juga dimaksudkan untuk menyemarakkan Tahun Persabahatan Indonesia-Tiongkok yang telah dicanangkan guna memperingati 60 tahun hubungan diplomatik kedua negara. Acara yang bertemakan “Pesona Indonesia” ini juga dimaksudkan untuk ikut menyambut penyelenggaraan event  olah raga terbesar kedua di dunia  yaitu Asian Games ke 16 yang akan berlangsung di kota Guangzhou pada bulan  Nopember nanti. Melalui acara ini Indonesia sebagai salah satu negara peserta, ingin menunjukkan sebagian khazanah kekayaan seni dan budayanya kepada masyarakat kota Guangzhou.

Konsul Jenderal RI Edi Yusup dalam pidato sambutannya menyampaikan harapannya bahwa melalui kegiatan ini akan meningkatkan citra yang lebih baik terhadap Indonesia, dan sekaligus dapat menarik minat wisatawan dari wilayah akreditasi untuk berkunjung ke Indonesia.

Acara yang dihadiri oleh mantan Menteri Kebudayaan dan pariwisata,  I Gede Ardika  ini juga melibatkan seluruh unsur masyarakat Indonesia termasuk anggota Darma Wanita KJRI Guangzhou, organisasi Federasi Antar Mahasiswa Indonesia Guangzhou (FAMIG) serta perwakilan masyarakat Indonesia lainnya yang ada di Guangzhou dan sekitarnya. Acara ini juga dimeriahkan dengan hadirnya seorang bintang tamu penyanyi dangdut , Machicha Mohtar.

Acara yang di mulai tepat pukul 19.00 dan berakhir pukul 22.30 dan dihadiri oleh banyak kalangan media tersebut tersebut menyuguhkan berbagai bentuk budaya Indonesia dari sabang sampai Merauke yang terdiri dari beraneka tarian daerah, msuik angklung, lagu dan pusi. Tari Rampak Gendang yang dibawakan oleh remaja Tiongkok keturunan Guiqiao dari Yinggde membuka acara ini dan memukau penonton dengan keindahan gerak dan alunan gendang yang dimainkannya. Tarian lain yang disuguhkan adalah tarian Bali, Jaipong, Pencak silat, tarian Papua, Kuda lumping, dan berbagai kreasi tarian dengan musik dan lagu Indonesia oleh Guiqiao yang menunjukkan rasa cintanya kepada Indonesia. Dharma Wanita KJRI Guangzhou tidak kalah memukau tampil dengan Poco Poco yang mengundang hadirin untuk berpartisipasi sehingga menambah maraknya gelar budaya ini.  Lagu Bengawan Solo juga ditampilkan dengan merdu oleh Ibu Asri Vinot seorang anggota Dharma Wanita.  

Pesona Indonesia kali ini juga memperkenalkan jenis lagu dangdut sebagai jenis lagu Indonesia. Machica Mochtar seorang penyanyi dangdut di era sembilan puluhan menyumbang suaranya dan menggoyangkan hadirin untuk berdangdut bersama.  Tidak kalah menariknya, puisi yang dibawakan oleh Bapak Heru Marwata, seorang dosen tamu dari Universitas Gadjah Mada pada Guangdong University of Foreign Studies yang berjudul  PERSAHABATAN HISTORIS INDONESIA CHINA. Demikian pula musik angklung yang belum banyak di kenal oleh masyarakat Tiongkok ditampilkan oleh anak-anak Guiqiao dari daerah Huadu, yang tercatat pernah memenangkan lomba seni dan budaya se provinsi Guangdong. Anak-anak tersebut adalah anak-anak yang telah dibina oleh KJRI Guangzhou untuk ikut melestarikan dan mempromosikan budaya Indonesia dengan mendatangkan guru tari dan musik serta menyumbangkan seperangkat alat musik angklung. Daerah lain yang telah menjadi binaan KJRI adalah daerah Yingde dan Taishan. (KJRI guangzhou)