Catatan diskusi bulanan Komunitas Reboan Frankfurt, 1 Agustus 2012

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Makin aktifnya masyarakat Indonesia pada media sosial dunia maya seperti Facebook, Twitter, dan Kaskus sedikit banyak mempengaruhi dinamika gerakan masyarakat madani modern di Indonesia. Demikian gambaran umum yang memayungi diskusi Komunitas Reboan Frankfurt, 1 Agustus 2012 di ruang serba guna KJRI Frankfurt. Seto Hardjana, kandidat doktoral antropologi Universitas Frankfurt, memberikan pengantar berupa non-paper yang berjudul 'Like' Here to Protest: The Tension between Pop Solidarity and Citizenship in Social Media Practice in Indonesia.

Diskusi yang dihadiri oleh mahasiswa doktoral dan tokoh masyarakat Indonesia di Frankfurt dan sekitarnya tersebut berjalan dengan seru. Selama kurang lebih dua setengah jam para peserta diskusi saling melempar pertanyaan dan tanggapan yang menurut salah satu hadirin, Wendelinus Parera " meluaskan perspektif atas kapasitas kewarganegaraan."

Tidak kurang dari 45 juta penduduk Indonesia memiliki akses internet dimana setidaknya 44 juta dari mereka memiliki akun Facebook. Fakta tersebut memberi sinyal bahwa hampir seperlima dari total penduduk Indonesia terekspose terhadap dinamika sosial yang terjadi melalui media sosial utamanya Facebook, salah satunya adalah kasus 'koin' Prita Mulyasari dan sebuah rumah sakit internasional di Jakarta. Terdapat dua contoh lain yang memperkuat signifikansi kekuatan media baru ini, yakni kasus Cicak-Kadal KPK gegen Polizei, dan kisah seorang anak di Solo yang mendapat bantuan pengobatan dari Kaskuser Solo setelah kisahnya menjadi pembahasan di forum maya. Kasus-kasus tersebut menjadi contoh dimana aktifitas pengguna media sosial dunia maya berpengaruh signifikan terhadap dinamika gerakan masyarakat madani modern, dimana masyarakat ‘mengambil ulang’ keaktifan mereka sebagai warga negara. Pertanyaan utama yang lalu dilontarkan ke dalam diskusi Komunitas Reboan Frankfurt kali ini adalah: seberapa jauh masyarakat madani mempraktekkan aksi kewarganegaraan mereka yang ditengarai ruang publik di dunia maya? Bagaimana masyarakat madani mendisiplinkan diri menjadi warga negara aktif melalui media sosial?

Willy Wirantaprawira, pakar hukum dan warga Frankfurt, berpendapat bahwa komunikasi yang baik antar unsur masyarakat, terlepas dari bermacam bentuknya yang berkembang dari masa ke masa, merupakan kunci sukses dari perubahan sosial. Willy secara khusus menyoroti periode kejatuhan Orde Baru dimana Soeharto bisa dijatuhkan salah satunya karena adanya jalur komunikasi yang efektif antara forum-forum mahasiswa di Indonesia dan di dunia internasional. Hendriek Yopin, melihat bahwa ruang sosial online menyediakan alternatif bagi masyarakat untuk memunculkan kesadaran sosial.

Fitzerald Sitorus, kandidat doktoral filsafat di Universitas Frankfurt, mengevaluasi fenomena sosial media dari sisi persepsi sosial di ruang dan waktu, dimana pengguna sosial media memiliki kuasa untuk memepatkan ke ruang dan waktu. Dalam hal ini, definisi ruang dan waktu pengguna sosial media menjadi nihil/imajiner. Perihal fenomena ini, Fitzerald mengajukan pertanyaan lanjutan atas pengaruhnya terhadap perubahan sikap hidup manusia di Indonesia dan dampaknya terhadap formasi masyarakat.

Posisi pesimistis terhadap signifikansi aktifitas sosial media di masa depan diajukan oleh Rita Tambunan, kandidat doktoral hukum di Universitas Frankfurt yang menilai bahwa yang terjadi selama ini inkonsisten, yakni tidak semua trending topic di sosial media berujung pada keberhasilan advokasi sosial. Di sini Fitzerald Sitorus menambahkan bahwa gerakan sosial yang trending, lebih terkait pada kondisi emosi masyarakat. Sebuah kasus akan populer dan disusung masyarakat madani, apabila ia menyinggung perasaan si masyarakat madani tersebut.

Perihal inkonsistensi, Hok An menambahkan bahwa harus dibedakan antara tingkat keaktifan kewarganegaraan yang membedakan dimana pembaca media sosial dan pendukung sebuah gerakan sosial di dunia online tak melulu aktif sebagai warga negara di dunia offline. Nilton Amaral mengemukakan bahwa aktor atau aktivis di dunia online tak selalu bebas kepentingan. Beliau memberikan contoh sebauh akun twitter yang cukup populer di Indonesia karena ‘membeberkan’ banyak informasi inner circle dari kekuatan politik tertentu namun popularitasnya menyurut setelah masyarakat menilai bahwa pemilik akun pada akhirnya tak obyektif. Suratno, pakar kajian Islam di Frankfurt, melihat gerakan sosial online memiliki ketergantungan tinggi terhadap penyedia ruang online itu sendiri dan mengingatkat adanya ancaman laten korporasi dan aneksasi ruang publik di ranah virtual.

Di penghujung acara, diskusi mengkerucut pada faktor-faktor yang mempengaruhi kewarganegaraan aktif seperti kesadaran, peran pemimpin, pemahaman hukum dan hak, pengetahuan kritis atas peran warga negara, pendidikan politik, solidaritas, dan pendidikan pedagogik sosial. Faktor-faktor inilah yang memungkinkan aktifitas komunikasi di media sosial dunia online yang kemudian berujung pada gerakan sosial nyata. Banyak gerakan-gerakan yang sekedar menjadi trending topic di media sosial tanpa bisa muncul menjadi tindakan nyata. Di akhir diskusi, pertanyaan di Seto yang menjadi pakem diskusi masih terbuka untuk dijawab: bagaimana masyarakat Indonesia menggunakan media sosial untuk berperan sebagai warga negara yang aktif?

Oleh: Hendriek Yopin


§§§§§