Catatan Kecil Diskusi Reboan Edisi Maret

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

?Frankfurt, 13 Maret 2013 - Dihadiri oleh 13 peserta, diskusi Reboan yang kali ini diawali dengan pemutaran film ‚Alkinemokiye‘ berlangsung dengan sangat baik. Selama kurang lebih 1,5 jam pasca penayangan film, peserta berinteraksi seputar tanggapan mengenai film dan sisi-sisi lain di ranah sosial Indonesia yang terkait langsung dengan kehadiran PT. Freeport Indonesia di propinsi Papua. Terima kasih kepada Pak Hok An dan Ibu Rita Tambunan yang berbaik hati untuk memberikan tambahan pengantar diskusi, masing-masing mengenai: dilematika implementasi perundang-undangan terkait Minerba, dan dinamika organisasi advokasi buruh di Indonesia. 



Film yang berdurasi 1 jam ini mencoba memasukkan permasalahan internal antara karyawan dan manajemen PT. Freeport Indonesia ke dalam konteks yang lebih lebar, yakni: kesenjangan kesejahteraan, fasilitas purnakarya, bahkan (sampai pada titik tertentu) gerakan separatis Papua Merdeka. Mengandalkan pada kombinasi rekaman video amatir dan latarbelakang suara yang mencampuraduk emosi, film ini menarik penonton untuk mengetahui lebih banyak dan lebih dekat mengenai salah satu dinamika sosial terbesar di Papua. Namun perlu saya infokan, kepada rekan yang belum sempat menonton, bahwa terdapat beberapa potongan rekaman video amatir yang cukup ‚eksplisit/visual‘.



Cukup beragam pertanyaan dan tanggapan yang mengemuka pada saat diskusi, diantaranya adalah: kesenjangan pembagian keuntungan antara PT. Freeport Indonesia dan Pemerintah RI akibat perjanjian yang dilakukan tahun 1967, kelemahan dalam penggunaan anggaran belanja nasional/daerah untuk memaksimalisasi peningkatan dan pemerataan kesejahteraan masyarakat di Papua, kurangnya instrumen hukum yang bisa digunakan negara untuk memaksa PT. Freeport Indonesia memberikan lebih ke karyawannya, dan perspektif kolusi/korups/politik-kepentingan yang mewarnai kurang terdengarnya suara masyarakat Papua di Jakarta.