Sambutan Staf Ahli Menteri Luar Negeri Bidang Manajemen Pada Acara Seminar Nasional

6/18/2008

 

”PERAN KEPEMIMPINAN APARATUR DALAM PENGEMBANGAN SEKTOR PERTANIAN DI PROVINSI GORONTALO DAN PROSPEK PENINGKATAN KERJASAMA INTERNASIONAL” RUANG NUSANTARA, 18 JUNI 2008

Yang saya hormati, Bapak Deputi V dan Para Pejabat Eselon I & II Lembaga Administrasi Negara, Para Pejabat Eselon I dan II di lingkungan Departemen Luar Negeri, Kapusdiklat SESPIMNAS Lembaga Administrasi Negara, Acting Kapusdiklat dan Para Direktur SESPARLU, SESDILU dan SEKDILU Pusdiklat Departemen Luar Negeri, Para Narasumber Prof. Dr. Sri Edi Swasono, Bapak Hajriyanto Tohari, Dr. Kusnanto Anggoro, Para Widyaiswara Lembaga Administrasi Negara dan Departemen Luar Negeri, dan para peserta Diklat PIM I & II yang saya banggakan

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Selamat pagi,
Salam sejahtera bagi kita semua.

Seraya memanjatkan Puji Syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, pada pagi hari ini, kita mengadakan seminar nasional yang bertema ”Peran Kepemimpinan Aparatur Dalam Rangka Percepatan Reformasi Birokrasi”. Sungguh sangat tepat tema tersebut mengingat akhir-akhir ini reformasi birokrasi mendapat sorotan masyarakat mengenai pelaksanaannya. Berdasarkan tema tersebut, peserta Diklat PIM II Angkatan 22 C/Sekolah Staf dan Pimpinan Departemen Luar Negeri (Sesparlu) Angkatan 38 telah melakukan penelitian di Provinsi Gorontalo dan menyusun kertas kerja dengan judul ”Peran Kepemimpinan Aparatur dalam Pengembangan Sektor Pertanian di Provinsi Gorontalo, dan Prospek Peningkatan Kerjasama Internasional”.

Seperti yang telah kita ketahui, tantangan dan peluang di tingkat global menjadi kompleks dengan meningkatnya interdependensi antar negara maupun antar wilayah termasuk hubungan pusat dan daerah. Akhir-akhir ini kita mencatat krisis energi dan krisis pangan yang akan berpengaruh bagi kelangsungan ekonomi Indonesia terutama pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. Krisis tersebut dapat berpengaruh terhadap ketahanan ekonomi negara-negara lainnya. Karena itu diperlukan langah-langkah untuk mengatasi masalah tersebut di tingkat internasional, regional dan nasional. Dinamika globalisasi tersebut tentu saja berdampak pada situasi perekonomian di dalam negeri Indonesia. Indonesia dihadapkan pada tuntutan untuk senantiasa beradaptasi dengan perkembangan internasional agar mampu keluar dari setiap kesulitan sehingga dapat menjadi winner dari globalisasi.

Perubahan dan perkembangan yang signifikan dalam hubungan internasional, baik hubungan antar negara, organisasi internasional dan regional maupun hubungan antar warga negara, memerlukan kecepatan dan kecermatan dalam menanggapi perubahan dan tantangan yang semakin kompleks. Misi diplomasi yang harus diemban oleh para pejabat diplomatik Indonesia semakin membutuhkan keahlian, ketrampilan dan kepemimpinan dalam memperjuangkan kepentingan nasional Indonesia pada berbagai fora bilateral, regional dan multilateral secara efektif dan efisien.

Menjawab kebutuhan hal tersebut, maka sejak tahun 2001, Departemen Luar Negeri telah melakukan reformasi birokrasi yang dikenal dengan benah diri (internal reform) yang memfokuskan kepada pembenahan/penataan kelembagaan, pembenahan profesi dan pengembangan budaya kerja yang kondusif yaitu yang didasarkan kepada 3 Tertib (Tertib Waktu, Tertib Administrasi, Tertib Fisik) dan Aman Komunikasi dan Informasi. Dalam kaitan dengan pembenahan profesi pimpinan Departemen Luar Negeri memberikan perhatian yang serius untuk meningkatkan kualitas diklat dan menjadikan diklat sebagai ajang uji kompetensi tidak sekedar upgrading saja. Oleh karena itu peserta diklat merupakan orang-orang yang terpilih untuk menjadi calon-calon pemimpin Departemen Luar Negeri. Melalui upaya benah diri, Departemen Luar Negeri berupaya untuk menciptakan pemimpin-pemimpin yang handal, profesional, tangguh dan memiliki semangat juang tinggi untuk memperjuangkan kepentingan-kepentingan nasional sebagaimana yang diamanatkan dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 yaitu melindungi segenap dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kepada kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial dan program Kabinet Indonesia Bersatu 2004-2009 yang terkait dengan pro-growth, pro-job dan pro-poor.

Reformasi birokrasi yang digulirkan oleh Departemen Luar Negeri ini merupakan langkah strategis yang bertujuan untuk membentuk pemimpin-pemimpin dengan karakteristik-karakteristik yang mempunyai visi dan misi, external awareness, kreativitas dan inovasi, kemampuan dalam berpikir strategis (strategic thinking/planning), antisipatif, tidak sekedar rutin dan reaktif, teguh dalam prinsip dan pendirian, rasional dan fleksibel dalam pendekatan, berorientasi pada pelayanan publik yang prima dan kemauan untuk terus meningkatkan pengembangan diri.

Saya mencatat dengan seksama bahwa seminar nasional yang diadakan hari ini adalah untuk mengkaji secara lebih komprehensif mengenai local realities dan local potentials, yang dapat kita kerjasamakan di tingkat internasional dalam bentuk sister province maupun sister city terutama terkait dengan kesuksesan kepemimpinan Pemerintah Gorontalo yang akan dapat menjadi model bagi provinsi-provinsi lainnya di Indonesia dan dapat memperkaya khazanah kerjasama antara pemerintah daerah dan Departemen Luar Negeri sebagai penanggungjawab penyelenggaraan hubungan luar negeri dan pelaksanaan politik luar negeri. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dalam Pengembangan Sektor Pertanian di Provinsi Gorontalo dan Prospek Peningkatan Kerjasama Internasional dalam Pengembangan Komoditas Jagung. Tema ini sungguh sangat relevan jika dikaitkan dengan krisis pangan dan krisis energi yang melanda berbagai belahan dunia, sehingga diperlukan upaya bersama (concerted efforts) dari semua pemangku kepentingan di Indonesia.

Saya sungguh menaruh perhatian besar terhadap aspek kepemimpinan Pemerintah Propinsi Gorontalo yang menekankan pentingnya kepemimpinan yang visioner dan inovatif yang senantiasa challenge the process dalam mengelola kegiatan pemerintahan, menginspirasi visi bersama, mendorong kemandirian, mewujudkan kemakmuran dan kesejahteraan rakyat seiring dengan semangat otonomi daerah.

Saya yakin bahwa seminar nasional ini merupakan sumbangsih yang bermanfaat dalam upaya turut memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Akhir kata, dengan mengucapkan Bismillahi rahmaanirrohiim seminar nasional ini dengan resmi saya nyatakan dibuka.

Terima kasih.