University of Dhaka, Bangladesh harapkan Kerjasama dengan Perguruan Tinggi di Indonesia

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Vice Chancellor, University of Dhaka, Prof. Dr. A A M S Arefin Siddique mengharapkan agar University of Dhaka dapat membuat Memorandum of Understanding di bidang riset dan pendidikan dengan salah satu universitas terkemuka di Indonesia. Hal ini terungkap dalam pertemuan dengan Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh RI di Dhaka, Zet Mirzal Zainuddin pada hari Senin, tanggal 9 Juli 2012 di kampus Dhaka University di Dhaka, Bangladesh.

 

Vice Chancellor meminta agar KBRI Dhaka dapat membantu memfasilitasi keinginan University of Dhaka tersebut agar dapat terjadi pertukaran beasiswa secara resiprositas antara Bangladesh dan Indonesia.

 

Keinginan Vice Chancellor tersebut diungkapkan menanggapi paparan Duta Besar RI Dhaka mengenai upaya peningkatan hubungan bilateral antara Bangladesh dengan Indonesia terutama di bidang pendidikan.

 

KBRI Dhaka setiap tahunnya menawarkan beasiswa dari pemerintah Indonesia untuk WN Bangladesh.

 

Beasiswa yang ditawarkan antara lain beasiswa Darmasiswa (terdiri dari program non-degree 3 bulan, 6 bulan dan 1 tahun), beasiswa Kemitraan Negara Berkembang (terdiri dari program S2 di berbagai universitas terkemuka di Indonesia) dan beasiswa dari Kementerian Agama RI (terdiri dari program  S1, S2 dan S3 di Universitas Islam Negeri di Indonesia).

 

Dubes RI Dhaka menyatakan bahwa mereka sekaligus dapat berperan sebagai duta-duta bagi negara mereka untuk mempererat serta membantu mempromosikan Bangladesh kepada public Indonesia.

 

Oleh karena itu pemerintah Indonesia juga berharap agar siswa-siswa Indonesia diberi atau ditawarkan kesempatan yang sama untuk mendapatkan beasiswa untuk belajar di Bangladesh.

 

University of Dhaka yang merupakan universitas tertua di Bangladesh, dibuka di daerah Ramna di kota Dhaka pada tanggal 1 Juli 1921 dengan Sir P.J. Hartog sebagai Vice Chancellor yang pertama.

 

Universitas ini dibuka pertama kali dengan 3 fakultas, 12 departemen pengajaran, 60 guru, 877 mahasiswa dan 3 asrama (Halls of Residence) untuk mahasiswa.

 

Saat ini University of Dhaka telah berkembang pesat dan memiliki 10 fakultas, 66 departemen pengajaran, 8 institut, 35.000 mahasiswa (on campus), 1500 guru, 17 asrama, 3 hostel dan 35 pusat riset.

 

Dalam kesempatan tersebut Duta Besar RI Dhaka juga memaparkan mengenai sistem pendidikan di Indonesia yang merupakan sistem pendidikan terbesar ke empat di dunia setelah China, India dan Amerika Serikat.

 

Dipaparkan juga mengenai UU Pendidikan Nasional  No. 20 tahun 2003 yang mewajibkan pemerintah untuk menanggung biaya pendidikan dasar dan mengalokasikan 20% APBN untuk bidang pendidikan serta mengenai Wajib Belajar 9 tahun dimana seluruh WNI yang berusia antara 7-15 tahun memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan dasar. (Sumber : KBRI Dhaka)