Bangladesh Ingin Belajar dari Kemajuan Indonesia di Bidang ICT

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Dalam rangka memanfaatkan kunjungan Penasehat Komnas HAM RI, Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie, SH., MH. yang menghadiri Workshop Information and Communication Technology (ICT) sebagai salah satu pembicara yang diselenggarakan di Dhaka pada tanggal 17-19 Mei 2012 oleh Mahkamah Agung Bangladesh bekerja sama dengan UNDP, KBRI mengadakan pertemuan dengan perwakilan masyarakat Indonesia di Bangladesh dalam jamuan makan malam di Wisma Duta tanggal 18 Mei 2012.

 

Pada kesempatan tersebut, Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie SH., MH. didampingi oleh Guru Besar Hukum International Universitas Indonesia, Prof. Hikmahanto Juwana, SH., LL.M., Ph.D yang juga hadir sebagai pembicara pada workshop ICT. Workshop tersebut bertujuan untuk memberikan penjelasan kepada para hakim di Bangladesh bagaimana ICT dapat digunakan untuk menambah efisiensi, akses, transparansi dan akuntabilitas dalam pemberian layanan di pengadilan. Di hadapan masyarakat Indonesia di Wisma Duta, Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie SH., MH. Menyampaikan bahwa saat ini bangsa Indonesia telah menjadi sorotan dunia secara positif dan banyak bangsa lain yang ingin belajar dari Indonesia, hal ini dibuktikan antara lain dengan dijadikannya Indonesia sebagai contoh negara yang dinilai telah berhasil menerapkan ICT pada sistem peradilannya terutama di Mahkamah Konstitusi.

 

Semakin banyaknya bangsa lain yang ingin belajar dari Indonesia telah seharusnya menjadikan rakyat Indonesia semakin bangga akan ke-Indonesia-an mereka, baik bagi yang berada di luar negeri ataupun di dalam negeri. Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie SH., MH. Juga menerangkan mengenai pelaksanaan HAM pada kehidupan sehari-hari, Indonesia merupakan negara yang majemuk dengan beragam suku bangsa, agama dan budaya, oleh karena itu seluruh rakyat Indonesia diharapkan mampu menghargai perbedaan dalam masyarakat dan menghormati hak asasi setiap warga negara Indonesia.

 

Dubes RI untuk Republik Rakyat Bangladesh merangkap Republik Nepal, Zet Mizal Zainuddin dalam sambutannya menyampaikan penghargaan dan terima kasih kepada Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie SH., MH atas kesempatan yang diberikan kepada keluarga besar KBRI Dhaka serta masyarakat RI di Bangladesh untuk mengadakan pertemuan ini. Selanjutnya Dubes RI Dhaka menyampaikan bahwa KBRI terus melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan hubungan bilateral yang membuahkan hasil nyata antara RI dan Bangladesh di segala bidang terutama di bidang ekonomi, dimana nilai perdagangan bilateral pada tahun 2011 telah mencapai 1,4 milyar US Dollar dengan surplus hingga 99% bagi Indonesia. Berbagai upaya meningkatkan hubungan bilateral kedua negara dilakukan dengan mengandeng kerja sama dengan semua pihak seperti kalangan pemerintah, media, dunia usaha, dan pelajar serta anak muda Bangladesh. KBRI Dhaka aktif mengadakan pameran dagang dan pagelaran seni budaya, kuliner Indonesia dalam rangka terus menerus mempromosikan citra Indonesia dan agar Indonesia semakin dikenal oleh masyarakat Bangladesh.

 

Akan tetapi yang masih menjadi ganjalan adalah belum adanya kejelasan secara hukum atau belum diterbitkannya SK Menteri Hukum dan HAM RI tentang telah dicabutnya negara Bangladesh dari daftar negara calling visa. Hal ini dapat menjadi hambatan bagi semakin meningkatnya hubungan bilateral RI dan Bangladesh terutama di bidang ekonomi dan pariwisata. Pemerintah RI sendiri melalui Kementerian Hukum dan HAM RI seperti dikutip oleh media massa Indonesia dan Bangladesh telah menyatakan bahwa Bangladesh bersama Sri Lanka akan segera dikeluarkan dari daftar negara calling visa, akan tetapi realisasinya masih tidak jelas. Oleh karena itu baru-baru ini semua media cetak dan elektronik Bangladesh menayangkan berita bahwa Bangladesh masih di “Red List” atau “di Embargo” dalam kebijakan Visa RI. KBRI Dhaka, 22 Mei 2012.