Catatan Perjalanan Mahasiswi Unibraw di Peternakan Lakefield, Katherine – Northern Territory

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Saat ini, saya telah berada di Peternakan Lakefield, Gorrie Road, Katherine, NT. Tempat yang sangat jauh dari peradaban bahkan tidak ada signal untuk telepon genggam disini. Hanya ada satu keluarga di Peternakan Lakefield yaitu Riggs Family. Namun demikian di tengah hutan terdapat sebuah rumah yang rapi, indah dengan tatanan taman yang hijau di tengah padang rumput. Sudah seminggu saya ditempatkan disini, awalnya saya merasa kesepian karena tidak ada teman dari Indonesia yang ditempatkan disini. Namun lambat laun perasaan kesepian itu hilang seiring banyaknya aktivitas.


Keluarga Gary Riggs sangat baik bahkan lebih dari baik dan saya belajar banyak hal dari mereka. Keluarga ini memiliki 3 puteri yang tinggal di rumah dan 1 putera yang tinggal di boardinghouse Queensland. Tujuan utama saya ke peternakan Lakefield ialah untuk belajar mengenai sapi namun justru saya banyak belajar arti hidup disini.


Hidup adalah bekerja keras, itulah yang saya pelajari disini. Bekerja keras untuk mendapatkan apa yang kita inginkan. Awalnya saya berpikir bahwa banyak anak-anak dari keluarga mapan memiliki hidup yang sempurna, tidak perlu bekerja keras layaknya anak-anak dari keluarga menengah kebawah. Tapi pikiran saya berubah drastis setelah belajar dari Riggs Family.


Hari pertama saya disini, saya langsung disuguhi pemandangan yang luar biasa. Kirra Riggs dan Chelsea Riggs belajar dengan tekun di meja belajar untuk sekolahnya melalui jaringan internet. Memang rata-rata anak-anak yang tinggal di cattle station tidak bersekolah di dalam kelas tapi bersekolah melalui internet karena sangat jauh dari pusat kota. Ini yang pertama saya pelajari, bahwa apapun kondisi kita, kita harus belajar. Bayangkan saja, jika di kelas saya, apabila tidak ada guru maka biasanya para siswa akan bubar karena tidak ada yang mengontrol dalam belajar. Setelah selesai sekolah, mereka langsung membantu Miselle Riggs untuk memberi additive feed sapi di yard dan Kirra yang baru berumur 10 tahun sudah mampu untuk menggiring puluhan sapi ke yard dengan menggunakan kuda.


Di hari-hari berikutnya saya bekerja bersama Tahlia Riggs, anak tertua dari keluarga ini. Usianya masih 18 tahun, tapi saya tercengang dengan kerja kerasnya. Tahlia akan bangun jam 6 pagi setiap hari dan selalu siap membantu ayahnya. Mungkin Tahlia adalah salah satu contoh keberhasilan dalam mendidik anak dengan gaya Australia. Tahlia berada dalam keluarga yang lebih dari berkecukupan, cantik dan pintar, tapi Tahlia dididik untuk tidak mermanja-manja. Inilah yang harus digaris bawahi, bahwa dia selalu bekerja keras. Tahlia bisa saja berfoya-foya dengan cara apapun dan tidak perlu bekerja keras, namun itu tidak ia lakukan. Dia bisa melakukan berbagai kerja mekanik seperti memperbaiki alat berat yang luar biasa besar dengan peralatan bengkel, pandai menggunakan traktor, bisa menggiring sapi puluhan kilometer hanya dengan satu kuda bahkan membantu mengangkat gate-gate besar dengan pundaknya. Tahlia bisa tahu apa yang harus dia kerjakan tanpa diperintah oleh ayahnya dan tidak pernah merasa berkeberatan untuk melakukan pekerjaan yang banyak dianggap sebagai pekerjaan laki-laki dan dia tidak akan berhenti bekerja sampai matahari terbenam. Bahkan pada saat matahari terbenam, Tahlia masih sibuk di dapur untuk membantu menyiapkan makan malam. Sangat luar biasa, mungkin saya sulit mendapatkan sosok Tahlia di Indonesia.


Itulah salah satu dari sekian cerita yang bisa saya bagikan. Bahwa anak-anak disini dididik untuk bekerja keras, tidak hanya bermanja-manja. Dalam pengalaman saya beberapa remaja yang saya kenal, hanya bisa berdandan dan berfoya-foya untuk menghabiskan uang orang tua. Banyak remaja di negeri kita mungkin yang masih senang untuk browsing internet yang tidak jelas, nongkrong, main game, dan jarang membantu orang tua. Saya pun merasa malu, tersindir oleh alam mengingat saya tidak bisa apa-apa, mungkin kehidupan saya sebelumnya adalah kehidupan yang luar biasa nikmat tanpa kerja keras. Saya hanya bisa belajar di kampus, melakukan aktivitas di kampus, beristirahat kapanpun dan bekerja di depan laptop. Nyaris semua kegiatan yang saya lakukan hanya dengan usaha-usaha yang biasa saja, saya merasa belum melakukan usaha yang luar biasa. Usaha yang benar-benar maksimal untuk suatu tujuan. Kesempatan tinggal dan belajar di peternakan di NT telah membuat saya memiliki semangat baru untuk bekerja keras, bekerja cerdas dan bekerja ikhlas.


Safitri (saffitri67@yahoo.com), Mahasiswi Fakultas Peternakan Unibraw, Lakefield Station, 13 Mei 2012
Sumber foto: Glenn Campbell – The AGE