Potensi Nasional & Upaya Pengembangan

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Indonesia memiliki potensi di berbagai industri strategis di dalam negeri, seperti PT. PINDAD, PT. PAL, PT. DI, dan PT. INKA, untuk kebutuhan di dalam negeri dan manca negara. Beberapa industri tersebut juga memenuhi kebutuhan sipil dan militer seperti yang disampaikan oleh Duta Besar RI Damaskus, H.M. Muzammil Basyuni dalam presentasinya pada   kuliah umum pada Pembukaan Kursus Lembaga Pertahanan Nasional Nomor pada tanggal 27 Januari 2010.           
 
Sebelum paparan, Duta Besar RI diterima oleh Direktur Lembaga Pertahanan Nasional, Letjen. Muhammad al-Haj Ali dan memperoleh penjelasan bahwa kursus bertujuan menambah kapasitas para pejabat negara. Kursus diselenggarakan secara reguler tiap tahun, mulai tanggal 1 Juli dan berakhir tanggal 30 Juni, terbuka bagi partisipasi negara-negara sahabat, dan tanpa dipungut biaya. Selain Suriah, kursus kali ini juga diikuti oleh para peserta dari Lebanon, Yordania, Kuwait, Qatar, Sudan, dan Iran. Dalam kesempatan tersebut, Letjen Muhammad al-Haj Ali menawarkan sekiranya ada peserta dari Indonesia yang berminat untuk mengikuti kursus, dalam rangka program pertukaran siswa tamu. 
 
Dalam paparannya, Duta Besar RI antara lain menyampaikan keberagaman etnis, budaya, bahasa, dan agama di Indonesia dibawah “Bhinneka Tunggal Ika” dan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Indonesia merupakan negara terbesar berpenduduk muslim sekaligus menjadi negara demokratis ketiga di dunia. Islam moderat dan toleran merupakan salah satu aset politik luar negeri Indonesia yang bebas dan aktif, disamping soft power lainnya, seperti budaya, prakarsa, dan pemikiran. Indonesia menegaskan bahwa terorisme yang saat ini menjadi ancaman dunia tidak dapat dikaitkan dengan agama apapun, kebudayaan tertentu, atau dengan gerakan perlawanan terhadap pendudukan.  
 
Berkaitan dengan hubungan Indonesia-Arab, Indonesia memiliki 2 (dua) tujuan utama yaitu mendorong kerjasama ekonomi dan memperkuat peran Indonesia dalam penyelesaian konflik di Timur Tengah. Ditegaskan pula dukungan Indonesia terhadap perjuangan bangsa Arab sekaligus menyesalkan macetnya implementasi peta jalan damai dan masih terjadinya perpecahan faksi-faksi Palestina karena memperlemah perjuangan menghadapi Israel. Disampaikan pula kontribusi Indonesia bagi upaya penyelesaian konflik di Irak dan Lebanon.
Hubungan Indonesia-Suriah dirasakan makin kuat yang ditandai dengan terus meningkatnya saling kunjung para pejabat negara, parlemen, pengusaha, ulama, dan masyarakat. Indonesia juga selalu mendukung perjuangan Suriah untuk merebut kembali Dataran Tinggi Golan dari Israel. Neraca perdagangan Indonesia-Suriah mencapai US$ 105 juta, melebihi target Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan PM Mohammad Naji Ottri ketika berkunjung ke Jakarta awal Januari 2009, sebesar US$ 100 juta. Hubungan tersebut akan makin kuat dan lengkap apabila kunjungan Presiden Suriah Bashar al-Assad ke Indonesia yang telah direncanakan dapat segera direalisasikan sekaligus membalas kunjungan kenegaraan Presiden RI ke-2 ke Suriah bulan Oktober 1977.
 
Dalam paparannya tersebut kehadiran Duta Besar RI Damaskus disambut dengan suasana hangat dan bersahabat. Para pejabat bergabung dengan peserta untuk mengikuti kuliah umum dengan seksama bahkan kritis. Namun demikian, suasana santai dan bersahabat tetap terjaga karena Duta Besar RI menyampaikan paparan dengan tetap mengedepankan komunikasi dua arah.
Hubungan Indonesia dan Suriah yang erat khususnya di bidang kebudayaan karena kedua negara memiliki faktor-faktor kesamaan budaya sehingga dapat menjadi fondasi yang kokoh bagi perluasan hubungan di bidang-bidang yang lain. Pemikiran Islam di Suriah yang moderat dan toleran sangat penting bagi dunia guna menghadapi pemikiran Islam yang radikal dan sempit. Kunjungan tokoh-tokoh Islam Suriah ke Indonesia merupakan hal positif, terutama untuk menghadapi radikalisme dan fanatisme, melalui pendekatan pemikiran yang dialogis.