Nasib Pilu TKW di Aleppo

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

?

Krisis berkepanjangan dan perang saudara di Suriah sudah hampir 4 tahun, telah banyak korban berjatuhan, bangunan hancur tak terhitung, Suriah seakan mundur kembali ke abad ke-19. Seperti kata orangtua dulu, “perang itu yang menang jadi arang, yang kalah jadi abu”, dua-duanya rugi, hanya kehancuran dan dendam yang tersisa.


Selain masyarakat sipil Suriah yang menderita, terdapat juga Tenaga Kerja Wanita (TKW) Indonesia di Propinsi-propinsi Suriah seperti Lattakia, Homs, Raqqa, Quneitra, Dar'a dll, mereka yang awalnya ke Suriah sebagai PLRT demi sesuap nasi, kini terjebak dalam konflik yang tak berujung. Berada di Negara asing, bersama orang asing, dalam kondisi perang merupakan lubang hitam, dalam dan tak berujung, sebuah tekanan  sangat berat, apalagi bagi seorang wanita. 


Sebut saja seorang TKW bernama Apida bt Dulmajid, berasal dari Indramayu, sejak april 2011 sudah di Suriah, itu artinya ketika dia tiba konflik akan segera mulai. Setelah 3 tahun lebih bekerja di Aleppo sebagai pembantu rumah tangga, majikannya mengembalikan Apidah ke agen dimana mereka dulu berada, dengan asumsi si agen akan memulangkan Apidah. Ternyata tidak, Apidah dipekerjakan di rumah agen, pastinya dengan berbagai alasan menunggu pesawat, tidak ditemukan Kedutaan, paspornya mati, dan seterusnya, hal itu berlanjut sampai lebih dari 4 bulan.


Setiap hari, Apidah hanya bisa menangis, dan memohon agar segera dipulangkan atau dikembalikan ke Konsulat Indonesia di Aleppo. Tapi semua sia-sia, selalu saja agen mengemukakan alasan-alasan yang sama. Kawasan tempat Apidah tinggal namanya Zahra, termasuk wilayah elit di Kota Aleppo, tapi hari ini sebagian wilayahnya sudah diduduki oleh oposisi dan ISIL. Jadi, sangat rentan terjadi kontak senjata apabila pihak pemerintah menyerang. 


Suatu hari, Apidah pergi bersama istri agen itu ke sekolah, menjemput anaknya agen. Mereka berjalan kaki karena sekolah tidak terlalu. Tiba-tiba terjadi kontak senjata, helicopter datang dan melancarkan tembakan dari atas, hujan pelurupun tak terelakkan, dan akhirnya sebuah drum berisi peledak, paku, dan pecahan kaca jatuh dari langit, dan meledak. Apidah yang terkejut jatuh tersungkur, dan hilang kesadarannya. Apidah masuk rumah sakit karena punggungnya terkena serpihan kaca dari drum tadi.


Ada lagi, sebut saja namanya Sapiah bt Oon dari Majalengka,  salah satu TKW yang juga sudah bekerja lebih dari 3 tahun di Aleppo, meskipun tidak pernah terluka akibat peluru atau serpihan kaca, tetapi rumahnya sering terkena tembakan. Bukan sengaja ditembak, tetapi memang kebetulan rumahnya di wilayah konflik yang diperebutkan oleh FSA, ISIL dan Militer Suriah.


Ada juga, sebut saja namanya Ati Durrahman, berasal dari Subang, juga sudah bekerja di Aleppo lebih dari 3,5 tahun. Ati ini bekerja di wilayah Zahra juga, peluru dan mortir sudha sering dilihatnya, bahkan sering kali pagi-pagi dia bersama anak-anak di daerah itu bermain di jalan di depan apartemen mengumpulkan selongsong peluru hasil baku tembak tadi malam. Bagaimana tidak, apartemen tempat dia bekerja dipisahkan oleh jalan dengan gedung apartemen di depannya, dan jalan itu adalah perbatasan antara wilayah kekuasaan Pemerintah Suriah dengan wilayah kekuasaan ISIL. Bayangkan, di atas apartemen tempat Ati bekerja ada bendera Suriah berkibar, sedangkan di gedung seberang jalan sana bendera ISIL berkibar menantang.


Pagi terakhir sebelum dia keluar dari Zahra menuju Perwakilan Konsuler KBRI di Fransiscan Aleppo, dia harus mandi debu, karena gedung apartemen di seberang sana runtuh akibat serangan pesawat Pemerintah dan seakan langit gelap ditutupi debu.


"Kondisi yang dialami oleh sebagian TKW tersebut membuat KBRI Damaskus untuk lebih intens memberikan perlindungan para TKW dengan menariknya dari wilayah konflik. Hal ini merupakan bagian dari kepedulian dan tanggung jawab terhadap pelayanan, perlindungan serta bantuan hukum terhadap TKW di luar negeri" Ungkap Dubes RI, Djoko Harjanto.


"KBRI juga berharap agar POLRI di Jakarta serius menindaklanjuti laporan-laporan tentang sindikat TPPO dan menghentikan pengiriman TKW ke Suriah" lanjut Didi Wahyudi Minister Counsellor Pelaksana Fungsi Politik sekaligus Ketua Satgas KBRI Damaskus. (Sumber: KBRI Damaskus)