Meriahnya Silaturahim Bersama Dubes RI Untuk Republik Arab Suriah Di Wisma Duta

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

?

Dalam rangka mempererat jalinan tali silaturahim antara KBRI dan para WNI di Damaskus, Duta Besar RI untuk Republik Arab Suriah, Drs. Wahib beserta isteri dan keluarga berkenan mengadakan acara tatap muka & ramah tamah yang diselenggarakan di Wisma Duta, Ya'four, Damaskus pada Sabtu, tanggal 1 November 2014. Acara diikuti oleh para Staf KBRI Damaskus dan Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) yang masih bertahan belajar di Damaskus.


Pejabat Konsuler merangkap Pensosbud KBRI Damaskus, Windu Setiyoso, menyampaikan bahwa meskipun jarak Wisma Duta cukup jauh, sekitar 20 km dari kantor KBRI, namun tidak mengurangi antusiasme masyarakat untuk menghadiri acara ramah tamah tersebut.


Jalan raya yang menghubungkan kantor KBRI menuju ke Wisma Duta, Ya'four, kondisinya saat ini cukup aman. Dari pemantauan di lapangan, ada perubahan yang cukup signifikan, yaitu dengan berkurangnya jumlah check point (pos pemeriksaan) di beberapa tempat, baik jalan yang menuju ke Wisma maupun arah balik ke kantor KBRI yang tidak lagi menyebabkan antrian panjang kendaraan bermotor. "Pengurangan chek point ini tampaknya didasari pertimbangan semakin membaiknya kondisi keamanan di sekitar Damaskus secara perlahan" lanjutnya.


"Perlu diketahui bahwa sampai saat masih terdapat 24 orang pelajar/mahasiswa Indonesia yang masih bertahan untuk melanjutkan studinya di Damaskus, dua diantaranya perempuan" ungkapnya. Alasan mereka untuk tetap bertahan karena adanya jaminan baik dari pihak Universitas/sekolah maupun dari pemerintah setempat untuk memberikan kemudahan selama belajar, antara lain dengan pemberian ijin tinggal sementara (baik iqomah maupun isol). "Mereka belajar di beberapa Universitas antara lain di Ma'had Sham Aliy (Perguruan Tinggi Sham) cabang Ahmad Kuftaro atau  cabang Fatah Islami dan Ma'had Dauliy (Institut Internasional). Semua lembaga pendidikan tersebut berada dibawah naungan Pemerintah" jelasnya.


 “Ajaran Islam yang mereka pelajari di Suriah termasuk Islam Sunni yang moderat. Hal ini tidak mengherankan karena Islam yang berkembang di Suriah mengakui pluralitas dan kemajemukan masyarakat, tidak seperti pengajaran agama Islam di Negara Jazirah Arab lainnya.” lanjutnya.


Untuk memudahkan kelancaran mobilitas mereka sehari-hari di Suriah, KBRI Damaskus tetap berkomitmen untuk memberikan perlindungan hukum kepada mereka, salah satunya dengan mengeluarkan kartu identitas sebagai mahasiswa asal Indonesia yang dikeluarkan oleh KBRI Damaskus. “Kartu identitas sebagai mahasiswa asal Indonesia yang dikeluarkan oleh pihak KBRI sangat membantu dan memudahkan kami dalam melewati berbagai pemeriksaan di check point di dalam kota Damaskus” ungkap Ahsin Mahrus, salah satu mahasiswa PPI damaskus.


"Kegiatan pembinaan masyarakat ini penting untuk dilaksanakan secara kontinyu agar KBRI Damaskus tetap dapat memantau kondisi keselamatan dan keberadaan para WNI, khususnya pelajar dan mahasiswa asal Indonesia agar jika terjadi sesuatu di lapangan, mereka dapat segera mengontak pihak KBRI untuk memberikan bantuan hukum yang diperlukan” pungkasnya. (sumber: KBRI Damaskus)