KBRI Dakar ‘Garap’ 42 Orang ABK Indonesia di Dakar

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Pada akhir bulan Oktober 2011, KBRI Dakar mendapatkan informasi bahwa ada 42 (empat puluh dua) anak buah kapal (ABK) Indonesia yang sedang docking di pelabuhan Dakar. Tanpa membuang waktu, KBRI Dakar secara proaktif menyurati dan mendatangi pihak berwajib di pelabuhan Dakar dan para Kapten di kapal Tian Xiang 328, San Warm 06, Yu Feng 67, Tian Xiang 137, Dai Sung 02, dan Marcia 777 untuk bertemu muka dengan para ABK. Momen ini tidak disia-siakan oleh KBRI Dakar, pada tanggal 7 November 2011 kemarin, para ABK-pun diundang untuk datang ke KBRI Dakar guna diberikan penyuluhan hukum dan keimigrasian. Penyuluhan ini dilaksanakan sebagai tindakan ‘jemput bola’ bagi pembinaan dan perlindungan WNI di wilayah akreditasi KBRI Dakar dalam hal ini khususnya para ABK Indonesia. Acara penyuluhan juga sekaligus sebagai ajang silaturahmi KBRI Dakar dengan para ABK dan WNI yang tinggal di Dakar dalam suasana Idul Adha 1423 Penyuluhan diisi oleh Fungsi Penerangan dan Protkons KBRI Dakar. Dalam penyuluhan, dari pertanyaan yang disampaikan oleh para peserta, kelihatan bahwa banyak ABK atau pekerja Indonesia di luar negeri yang tidak aware akan hak dan kewajibannya secara menyeluruh. Salah satu penyebabnya adalah ketidaktelitian atas perjanjian/kontrak yang dilakukan yang didasari oleh ketidakmengertian. Ketidaktelitian ini disebabkan oleh informasi yang tidak cukup akurat oleh pihak penyalur para ABK. Ketidaktelitian ini semakin diperparah karena keengganan para pekerja untuk bersikap kritis kepada pihak agen ataupun majikan sebelum menandatangani pekerjaan karena alasan segan sebab sedang membutuhkan pekerjaan demi ‘sesuap nasi’. Situasi ini dapat ‘dimanfaatkan’ pihak-pihak tertentu untuk memanfaatkan posisi lemah para pekerja Indonesia dalam hal ini khususnya ABK. “Kadang-kadang pihak kapal memperpanjang kontrak kami, tanpa sepengetahuan kami. Kadang-kadang ada imbalan tapi sering juga tidak”, kata Rasa Priyasa, ABK Kapal Dai Sung 02. Daryono, ABK Kapal Tian Xiang 328, menyampaikan terima kasihnya: “Yang begini ini penting buat kami, Pak. Terima kasih sekali atas perhatiannya kepada kami. Kami jadi ngerti urusan kontrak.” Selain itu, masalah yang sering terjadi yang dihadapi para ABK adalah para majikan yang tidak bertanggung-jawab (wanprestasi) dengan tetap mempekerjakan ABK di laut meskipun kontrak sudah usai. Kontrak yang selesai di atas laut dianggap diperpanjang oleh Kapten kapal, dan perpanjangan ini sering terjadi secara paksa di luar kehendak ABK dengan imbalan upah atau tanpa imbalan upah apapun. Terhadap majikan seperti ini, KBRI Dakar mengalami kesulitan dalam membantu memaksa majikan untuk melakukan prestasinya karena locus atau keberadaan para ABK yang sedang berada di atas kapal di tengah lautan. 8 November 2011 Rheinhard Sinaga Penerangan KBRI Dakar