Bisnis Bagus Ojek Motor ‘Djakarta’ di Senegal

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Ada yang istimewa pada perayaan Maulud Nabi (4/2/2012) di daerah Tivaouane, sekitar 90 km di luar kota Dakar, kali ini. Maulud yang dihadiri oleh ratusan ribu umat Tidianiya, Menteri Dalam Negeri sebagai wakil Pemerintah, beberapa Menteri lainnya, korps diplomatik, dan juga dihadiri oleh Dubes RI di Dakar, Senegal, Drs. Andradjati, MIP, ada pemandangan yang cukup istimewa, yakni sepeda motor yang dipanggil ‘Djakarta’. Bagi warga Tivaouane, motor Djakarta yang seliweran adalah pemandangan yang jamak. Sepeda motor, yang sebagian besar merupakan produk China ini, dipakai sebagai alat transportasi di kota suci umat Tidianiya ini. Dari informasi yang diperoleh dari warga Dakar, nama Djakarta dipakai untuk menyebut moda transportasi sepeda motor di Senegal. Dahulu, alat angkut motor ini sebagian besar diimpor dari Jakarta, hal ini menjelaskan kenapa ejaan Djakarta masih menggunakan ejaan lama ‘Dj’ bukan ‘J’. Sehingga para pemakai motor menyebut motornya dari Djakarta, lalu kemudian berkembang menjadi motor ‘Djakarta’. Indonesia pernah menjadi pengekspor motor terbesar ke kawasan Afrika Barat di era 80-90an, namun kalah bersaing dengan motor buatan China. Mantan Dubes Mali untuk Indonesia yang berkedudukan di Tokyo, Mdm. Maemunnah, pertama sekali mengenal Indonesia justru dari motor Djakarta yang ada di Mali. Bahkan informasi yang diperoleh dari Mdm. Maemunnah, yang disampaikan kepada Bapak Andradjati, Dubes RI di Dakar, ketika masih menjabat sebagai Direktur Afrika Kemlu RI, bahwa Presiden Mali berencana akan kembali mengimpor motor dari Indonesia. Hal ini adalah peluang bisnis bagi eksportir motor Indonesia untuk menjual produk kenderaan roda dua ke Mali dan negara-negara di wilayah Afrika Barat lainnya. Pada saat ini, model transportasi motor Djakarta ini memiliki peran penting bagi masyarakat untuk bergerak cepat dari satu tempat ke tempat lain di wilayah Afrika Barat, antara lain seperti Senegal dan Mali, mengingat kemacetan yang sudah menjadi kebiasaan sehari-hari. Djakarta menjadi pilihan yang tepat daripada transportasi mobil, apalagi di waktu jalanan sedang macet. Di Tivaouane, transportasi motor Djakarta dipakai untuk mencari rezeki nomplok sebagai ojek untuk mengangkut penumpang dengan biaya yang jauh lebih murah daripada taxi. Apalagi pada saat perayaan Maulud, di mana umat yang merayakan berjumlah ratusan ribu orang menyemuti kota. Menurut cerita tukang ojek motor di Tivaouane, dalam pada kondisi normal, biasanya sekali jalan penumpang membayar ongkos sebesar Francs 200 (setara dengan Rp. 4000, dengan asumsi Francs 1 = Rp. 20), tapi pada saat perayaan Maulud kemarin, penumpang bisa membayar sampai dengan Francs 600 per angkut. Rata-rata penghasilan tukang ojek bisa mencapai Francs 25.000 per hari, dan dari jumlah itu para tukang ojek harus menyetorkan Francs 2.000 kepada pemilik motor Djakarta dan menikmati sisanya. Menurut tukang ojek, kalau penumpang lagi banyak, bisnis ojek menjadi sangat menggiurkan. Apalagi seperti pada saat hari-hari besar di mana orang banyak membutuhkan ojek, mereka bisa mendapatkan penghasilan yang lumayan besar dan bisa ditabung untuk membeli motor Djakarta tanpa meminjam kepada pemilik, bahkan mereka bisa hidup layak dengan penghasilan ngojek. Ternyata bisnis ojek di Senegal dan Jakarta tak jauh berbeda. (Penerangan, KBRI Dakar)