Senegal Undang Indonesia Bangun Pabrik Penyulingan Kelapa Sawit

6/24/2016

​Pada tanggal 24 Juni 2016, Duta Besar RI Dakar, Mansyur Pangeran, didampingi oleh Pelaksana Fungsi Ekonomi melakukan pertemuan dengan Mr. Alioune Sarr, Menteri Perdagangan, Sektor Informal, Konsumsi dan Promosi Produk Lokal dan UKM Senegal, dalam rangka menjajaki peluang kerja sama untuk meningkatkan hubungan bilateral Indonesia-Senegal di bidang ekonomi, khususnya di sektor perdagangan dan Usaha Kecil dan Menengah (UKM). Dalam pertemuan tersebut, Menteri didampingi oleh Sekjen dan Penasihat Ekonomi Kementerian.

Dalam pertemuan tersebut, Duta Besar RI menyampaikan bahwa hubungan dan kerja sama ekonomi Indonesia-Senegal memiliki potensi yang sangat besar untuk dikembangkan. Selain latar belakang hubungan bilateral kedua negara yang sudah berjalan cukup baik, hubungan keduanya ditandai dengan intensnya aktivitas ekspor-impor yang dilakukan oleh pengusaha dari kedua negara. Sebagai contoh, Indonesia mengekspor ke Senegal, antara lain, produk kelapa sawit beserta turunannya, tekstil, furnitur, deterjen dan produk makanan/minuman. Sementara, Senegal mengekspor ke Indonesia, antara lain, kacang tanah, kacang mete, kapas dan ikan beku.

Menteri Alioune Sarr dalam tanggapannya menyampaikan kepada Dubes RI bahwa hubungan bilateral antara Indonesia-Senegal yang sudah berjalan dengan baik masih perlu ditingkatkan lagi. Dalam kaitan ini, Menteri Alioune Sarr menyampaikan bahwa Senegal sebagai anggota Economic Community of West African States (ECOWAS) dengan penduduk lebih dari 335 juta orang merupakan pasar potensial bagi produk-produk Indonesia. Selain itu, Senegal juga dapat dijadikan sebagai entry point untuk distribusi berbagai produk perdagangan ke negara-negara anggota ECOWAS lainnya.

Menteri Alioune Sarr juga menyampaikan bahwa Pemerintah Senegal sedang membangun kawasan industri di Kota Diamniadio (sekitar 40 Km dari ibu kota Dakar) dan berharap agar Indonesia dapat memanfaatkan kesempatan tersebut sebagai peluang untuk melakukan investasi dengan mendirikan industri di kawasan tersebut. Salah satu industri yang dibutuhkan Senegal adalah industri penyulingan kelapa sawit. Senegal memiliki kebutuhan minyak sawit sebesar 150 juta ton per tahun, yang seluruhnya diimpor dari berbagai negara termasuk Indonesia. Selain itu, industri lainnya di sektor pertambangan, seperti phosphate, titanium, platinium dan bijih besi serta produksi kacang-kacangan juga merupakan produk potensial untuk dijajaki.

Disamping itu, Menteri Alioune Sarr menilai bahwa sektor UKM Indonesia sudah sangat maju dibandingkan dengan Senegal. Oleh karena itu, Menteri Alioune Sarr juga meminta agar dilakukan kerja sama di sektor UKM yang sedang berkembang pesat. Menteri Alioune Sarr mengharapkan kerja sama tersebut juga dapat berupa pemberian capacity building dan sharing best practices dalam membangun sektor UKM.

Menteri Alioune Sarr dan Dubes RI sepakat kerja sama antara para pelaku ekonomi dan pengusaha kedua negara perlu ditingkatkan dengan mengadakan pertemuan dan menghadiri berbagai kegiatan pameran dagang yang diselenggarakan di Indonesia dan Senegal. Dalam hal ini, Duta Besar RI mempromosikan Trade Expo Indonesia (TEI) ke-31 di Jakarta pada bulan
Oktober 2016. Sedangkan, Menteri Alioune Sarr mengharapkan Indonesia juga turut berpartisipasi pada Foire Internationale de Dakar (FIDAK) ke-25 pada bulan Desember 2016.

Pertemuan Duta Besar RI dengan beberapa Menteri, Ketua Kadin dan pemuka agama Senegal merupakan kegiatan rutin yang dilakukan dalam rangka meningkatkan hubungan bilateral, terutama di bidang ekonomi, dan dalam rangka mempromosikan berbagai produk unggulan Indonesia untuk dipasarkan di Senegal dan negara-negara akreditasi KBRI Dakar lainnya.

Press Release Senegal Undang Indonesia Bangun Pabrik Penyulingan Kelapa Sawit.pdf