KBRI Dakar Dampingi ABK WNI yang Terlibat Kasus Penghilangan Nyawa Orang Lain

8/25/2016

Pada tanggal 12 Agustus 2016, KBRI Dakar telah melakukan upaya pendampingan terhadap seorang ABK WNI yang tertimpa kasus hukum karena terlibat perkelahian di atas kapal dengan ABK warga negara Korea Utara yang berakibat hilangnya nyawa ABK warga negara Korea Utara tersebut. ABK WNI tersebut bernama Akbar Buchari (21 tahun) asal Pemalang yang bekerja di Kapal Chin Jin Ming, kapal penangkap ikan berbendera Taiwan.

Ketika kapal tersebut tiba di pelabuhan Dakar pada tanggal 13 Agustus 2016, pihak kepolisian pelabuhan kota Dakar telah menunggu dan segera melakukan investigasi. Sdr. Akbar langsung diamankan oleh pihak kepolisian dan dibawa ke kantor kepolisian pelabuhan untuk dilakukan interogasi dan penahanan. KBRI Dakar terus melakukan pendampingan selama Sdr. Akbar menjalani proses pemeriksaan kepolisian.

Pada waktu dilakukan pemeriksaan, Sdr. Akbar menjelaskan kronologis kejadian bahwa pada malam tanggal 6 Agustus 2016 yang bersangkutan diprovokasi oleh salah satu anggota awak kapal yang berasal dari Korea Utara bernama Jin Kyong Il (27 tahun), dan ditantang untuk berkelahi. Sdr. Akbar mengatakan bahwa tantangan berkelahi tersebut bukan yang kali pertama, bahkan Sdr. Akbar seringkali harus mengalah dan tidak menggubris ajakan tersebut, terus melakukan pekerjaannya di atas kapal.

Namun, pada malam tersebut, Sdr. Akbar menjawab tantangan awak kapal tersebut ketika diajak bertemu di bagian belakang kapal. Karena telah mengantisipasi perkelahian, masing-masing pihak telah mempersiapkan senjata, dengan Sdr. Akbar membawa sebilah pisau. Perkelahian pun langsung terjadi, meski pada awalnya dengan tangan kosong. Ketika Sdr. Akbar tersudut, awak kapal tersebut menggunakan tali kapal yang cukup besar, yang umumnya digunakan untuk menarik objek berat ke kapal, untuk mencekik Sdr. Akbar. Karena tercekik, Sdr. Akbar secara spontan langsung mengambil pisau yang disimpannya dan menusuk perut sebelah kiri awak kapal Korea Utara tersebut sehingga terjatuh dan cekikan terlepas. Meski telah tertusuk, awak kapal Korea Utara tersebut kembali bangun dan terus menyerang dan memukul Sdr. Akbar. Karena khawatir akan keselamatannya, Sdr. Akbar menusuk kedua kalinya ke awak kapal tersebut kembali di lokasi perut sehingga awak kapal tersebut terjatuh dan tidak lagi bergerak.

Setelah perkelahian tersebut, Sdr. Akbar langsung diamankan oleh awak-awak kapal lainnya dan atas perintah Kapten Kapal, yang bersangkutan dikurung di ruangan gudang kapal. Pisau yang digunakan untuk menusuk kemudian dilemparkan ke laut oleh Sdr. Akbar atas perintah Mandor Kapal.

Di kapal tersebut, terdapat tiga ABK WNI lainnya yakni Sadarusman asal Karawang, Kusno dan Wahyu Febrianto asal Banyumas. Ketiganya sama sekali tidak terlibat dengan perkelahian tersebut. Namun, mereka harus dipulangkan oleh pihak perusahaan karena alasan keamanan pada saat bekerja mengingat empat awak kapal lainnya yang berasal dari Korea Utara terus berusaha melakukan penyerangan dan perkelahian kepada ketiga ABK WNI tersebut. Ketiga ABK WNI tersebut telah kembali ke Indonesia dari Dakar pada tanggal 19 Agustus 2016 dengan penerbangan Arik Air W3 397 dan tiba di Soekarno-Hatta pada tanggal 20 Agustus 2016.

Berdasarkan hasil investigasi yang diperoleh oleh KBRI Dakar dari Inspektur Kepolisian Pelabuhan Dakar, pihak kepolisian menyatakan dalam laporannya bahwa Sdr. Akbar melakukan penusukkan karena keadaan terdesak atau self-defense. Disebutkan juga dalam laporan tersebut bahwa Sdr. Akbar tidak memiliki niat untuk menghilangkan nyawa orang lain, serta menyesal atas tindakannya.

Saat ini KBRI Dakar terus memantau dan mendampingi proses investigasi yang dilakukan oleh pengadilan negeri Dakar. Dalam proses persidangan nanti Sdr. Akbar selain didampingi oleh KBRI Dakar, yang bersangkutan juga akan didampingi oleh seorang pengacara pro bono di Dakar.

Press Release KBRI Dakar Dampingi ABK WNI yang Terlibat Kasus Penghilangan Nyawa Orang Lain.pdf