Gambia

​​​​I. Profil Negara

Negara:Republik Gambia (Republic of The Gambia)
Ibu kota:Banjul (WIB – 7)
Kepala Negara/Pemerintahan:Adama Barrow (sejak Januari 2017)
Ketua Parlemen:Mariam Jack-Denton (sejak 2017)
Wakil Presiden:Fatoumata Tambajang (sejak 22 Februari 2017)
Menteri Luar Negeri:Ousainou A.N.M Darboe (sejak Februari 2017)
Bahasa Resmi:Inggris
Agama:Islam (90%), Kristen (8%), Kepercayaan tradisional (2%)
Hari Kemerdekaan:18 Februari 1965
Luas Wilayah:11.300 Km²
Penduduk:2.038.501 jiwa (World Bank, 2016)
Mata Uang:

Dalasi (GMD)

GMD per USD : 42,65  (2017)

GDP (Nominal):USD 964,59 Juta (World Bank, 2016)
GDP (Per Kapita):USD 473,19  (World Bank, 2016)
Cadangan Devisa:USD 159,3 juta (termasuk emas) (World Bank, 2014)
Foreign Direct Investment:USD -33,5 juta (World Bank, 2012)
Total Perdagangan Internasional:USD 491 j​​​​uta (World ​Bank, 2014) defisit USD 283 juta
Pertumbuhan GDP:1,6% (World Bank, 2016)​​
Industri Unggulan:Kacang, Ikan, Kulit, Pariwisata, Minuman, Pengolahan Kayu, Metal dan Garmen
Perwakilan Pemerintah Kedua Negara:

Indonesia:

KBRI Dakar

Gambia:

Kedubes Gambia di Kuala Lumpur, Malaysia​


II. Hubungan Bilateral​

  • Politik

Hubungan diplomatik RI-Gambia dibuka pada tahun 1982. Hubungan bilateral yang erat antara kedua negara ditandai dengan saling kunjung antar pejabat RI-Gambia dengan kunjungan terakhir pihak Ghana yaitu kunjungan Menlu Neneh MacDoual-Gaye pada peringatan KAA ke 60 d​i Jakarta, April 2014.
  • Ekonomi dan Perdagangan 

Di bidang ekonomi, nilai perdagangan Indonesia-Gambia mencapai USD 24,9 juta​  pada tahun 2016​, menurun 1,7% dibanding tahun 2015 dengan defisit di pihak Indonesia. 

Pemerintah Gambia telah menyampaikan minat untuk membeli 500 unit traktor tangan buatan Indonesia. Kemlu, Kemtan dan produsen alat dan mesin pertanian nasional tengah mengkoordinasikan hal ini.

Pemrerintah Indonesia juga telah mendirikan Agricultural Rural Farmer Training Center (ARFTC) di Jenoi, Gambia, pada tahun 1998. Selama periode periode 2010-2013, ARFTC Jenoi telah memberikan pelatihan pertanian kepada 5.114 petani Gambia dan petani dari negara-negara tetangga Gambia, antara lain, Senegal, Mali, Niger, Sierra Leone, Guinea-Bissau, dan Guinea. Selain itu, Indonesia juga telah memberikan bantuan peralatan dan mesin pertanian ke Gambia pada tahun 2008 (12 traktor tangan) dan tahun 2014 (5 traktor tangan).

  • Sosial-Budaya

Di bidang sosial budaya, selama periode 2008-2017, Pemerintah Indonesia telah memberikan beasiswa kepada 20 warga negara Gambia melalui skema Beasiswa Darmasiswa dan Beasiswa Kerja sama Negara Berkembang (KNB). ​Pada tahun 2017, sebanyak 2 (dua) WN Gambia menerima beasiswa Pemri.

Pada tahun 2017, University of The Gambia (UTG) dan Universitas Brawijaya Malang (UB) telah sepakat untuk melakukan kerja sama di bidang pendidikan tinggi melalui  pemberian beasiswa dari UB kepada staf pengajar UTG. Kedua universitas telah saling setuju terhadap naskah Memorandum of Understanding (MoU), yang direncanakan akan ditandatangani pada bulan Desember 2017 di Malang.

Dr. Badara Alieu Joof, Menteri Pendidikan Tinggi, Riset, Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Gambia, telah berkunjung ke KBRI tanggal 16 Mei 2017, dengan maksud untuk memperkuat serta mengeksplorasi kerja sama pendidikan tinggi dengan Indonesia, seperti kerja sama antar universitas, bidang pertanian, engineering, pariwisata dan arsitektur. ​

Per September 2017, 2 (dua) staf pengajar UTG telah diterima di UB untuk menempuh studi S2 di bidang Civil Engineering (MSc) dan S3 di bidang Biomedical Science. UB memberikan 3 (tiga) slot beasiswa kepada UTG dan saat ini masih menunggu 1 (satu) slot lagi untuk diisi oleh kandidat penerima beasiswa dari UTG untuk program S2.

Selain itu, banyak WN Gambia yang belajar di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta baik melalui program beasiswa dari UIN maupun atas biaya sendiri. Pada tahun 2017, KBRI menerima surat permohonan aplikasi visa dari UIN untuk 42 WN Gambia yang akan belajar di UIN.