Tahlilan dan Buku Dukacita untuk Gus Dur di Colombo

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Meninggalnya mantan Presiden Indonesia K. H. Abdurrahman Wahid atau yang akrab disapa dengan Gus Dur pada tanggal 30 Desember 2009 di Jakarta telah membawa suasana duka di penghujung tahun 2009 bagi masyarakat Indonesia di Sri Lanka. Acara “Malam Keakraban Indonesia” tanggal 31 desember 2009 di KBRI Colombo diwarnai dengan mengheningkan cipta untuk mengheningkan cipta. Warga Indonesia dimanapun berada merasa kehilangan seorang Guru Bangsa yang juga dikenal sebagai Bapak Pluralisme ini. Selama tujuh hari, KBRI Colombo mengibarkan bendera Merah Putih setengah tiang, dan mulai tanggal 31 Desember hingga 4 Januari 2009 telah dibuka buku dukacita untuk Gus Dur bagi masyarakat maupun kalangan pemerintah dan diplomat untuk menyampaikan rasa belasungkawa. Selama dibukanya buku dukacita tersebut, walaupun ditengah-tengah masa liburan akhir tahun sejumlah duta besar residen, pejabat setempat, dan publik telah datang dan mengisi buku dukacita. Pemerintah Sri Lanka, melalui Wakil Menteri Luar Negeri, Hon. Husein Bhaila, telah mengisi buku dukacita pada 4 Januari 2010 dan disaksikan oleh Duta Besar Djafar Husein. Selain itu sejumlah duta besar lain, diantaranya Duta Besar Kerajaan Belanda, Leoni Cuilelenaere juga telah mengisi buku dukacita. Masyarakat Indonesia di Sri Lanka juga turut mengisi buku dukacita menyampaikan rasa belasungkawa atas meninggalnya seorang pemimpin bangsa Indonesia yang berperan besar dalam membangun demokrasi di Indonesia. Sebagai sebuah upaya memanjaatkan doa bagi Gus Dur, pada tanggal 3 Januari 2010, masyarakat Indonesia melaksanakan tahlilan di KBRI Colombo. Tahlilan dilaksanakan setelah shalat Magrib berjamaah dan diikuti juga oleh sebagian masyarakat muslim Sri Lanka yang memiliki ikatan dengan Indonesia. Berita mengenai wafatnya Gus Dur juga dimuat dan ditayangkan pada media cetak maupun elektronik Sri Lanka. Gus Dur umumnya dikenal oleh masyarakat dunia karena telah memimpin Indonesia di masa-masa transisi Indonesia menuju negara demokrasi dan juga sebagai seorang tokoh Islam yang moderat. (*)