Indonesia Menegaskan Perlunya Legally Binding Agreement Pada COP Ke-16 di Cancun, Mexico

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Utusan khusus Presiden RI untuk Perubahan Iklim, Rachmat Witoelar selaku Ketua Delri yang didampingi Duta Besar Djafar Husein sebagai Duta Besar RI untuk Sri Lanka dan Maladewa pada pertemuan kedua Cartagena Group/Dialogue for Porgressive Action di Bandos Islands Resort, Maladewa, tanggal 17-18 Juli 2010 menyampaikan perlunya dicapai legally binding agreement pada pertemuan di Cancun, Mexico akhir tahun 2010. Dengan demikian, pertemuan forum Cartegena Dialogue di Maladewa ini diharapkan dapat mendukung upaya tercapainya kesepakatan global yang mengikat secara hukum terkait isu perubahan iklim.
Pertemuan Cartagena Dialogue yang dibuka oleh Presiden Maladewa, Mohamed Nasheed dihadiri oleh delegasi dari 27 negara (termasuk European Commission) dimana 1 diantaranya dipimpin oleh pejabat setingkat Perdana Menteri, 3 pejabat setingkat Utusan Khusus dan 6 pejabat setingkat Menteri. Pada pertemuan kali ini dibahas sejumlah isu terkait dengan perubahan iklim (climate change), yakni Maximizing Mexico: ”Substance over Process”; Achieving Mitigation and MRV (Measurement, Reporting and Verification); Leveraging Finance; Deepening Markets; Achieving Legal Certainty dan Next Steps.
Forum Cartagena Dialogue yang sebelumnya melakukan pertemuan pertama di Cartagena, Colombia pada tanggal 25-26 Maret 2010, merupakan salah satu dari rangkan pertemuan informal yang ditujukan untuk meningkatkan trust dan confidence dalam mendukung proses perundingan terkait isu perubahan iklim. Sifat pertemuan yang informal memberikan peserta kesempatan untuk melakukan tukar pikiran dan menyampaikan pandangannya secara terbuka terkait berbagai isu yang dibahas, baik dalam kapasitas wakil pemerintah maupun dalam kapasitas pandangan pribadi. Selain itu cakupan negara peserta yang berasal dari berbagai kawasan dan kelompok kepentingan, telah memperkaya proses diskusi yang dilakukan.
Dalam sambutan pembukaan pertemuan, Presiden Nasheed menekankan bahwa meskipun pertemuan COP ke-15 gagal mencapai kesepakatan yang legally binding, namun terdapat sejumlah upaya positif yang telah dicapai dalam Copenhagen Accord (CA), terutama terkait dengan aspek financial arsitektur dan pledging penurunan emisi. Meskipun hasil yang dicapai tidak sempurna, namun CA tidak dapat diabaikan karena bagian dari suatu proses yang merupakan gambaran real dari kondisi politik global yang terjadi saat ini. Untuk itu ke depan perlu dibangun kepercayaan dan kerjasama diantara para pihak yang memiliki perbedaan posisi/pandangan. Selain itu, sebagai salah satu negara yang yang rentan terhadap dampak perubahan iklim, Maladewa menginginkan adaya upaya progresif agar pertemuan Cancun dapat mencapai hasil yang dapat disepakati.
Pertemuan menghasilkan Chairmans’ Statement yang berisi pandangan dan concern yang disampaikan delegasi negara peserta selama pertemuan. Selain itu pertemuan juga mencatat adanya kesamaan persepsi/pandangan mengenai pentingnya upaya agar forum Cartagena Dialogue dapat terus memberikan kontribusi yang maksimal dalam mendukung proses perundingan yang dilakukan dalam isu perubahan, terutamanya dalam proses perundingan menuju COP-16 di Cancun, Mexico.
(***)