Sri Lanka

​​Profil Negara Sri Lanka
 
Keterangan Dasar
 
 
  1   
Nama negara
:
Republik Sosialis Demokratik Sri Lanka/The Democratic Socialist Republic of Sri Lanka
  2   
Ibukota
:
Colombo
  3   
Hari nasional
:
4 Februari (memperingati kemerdekaan Dominion of Ceylon dari Kerajaan Inggris pada 4 Februari 1948)
  4   
Lagu kebangsaan
:
Sri Lanka Matha (Mother Sri Lanka)
  5   
Bendera
:
Lion Flag  
 sri lanka flag.png
  6   

Sistem pemerintahan
:
Eksekutif presidensial
  7   
Kepala negara dan pemerintahan
:
President, His Excellency Maithripala Sirisena 
  8   
Ketua parlemen
:
Speaker of the Parliament Karu Jayasuri​a
  9   
Menteri Luar Negeri
:
Minister of External Affairs, Honorable Mangala Samaraweera
10                 
Bahasa resmi
:
Sinhala dan Tamil (berdasarkan Constitution of Sri Lanka, 13th Amandment tahun 1987)
Inggris sebagai bahasa penghubung publik dalam perdagangan dan berinteraksi dengan instansi pemerintah (berdasarkan program Mahinda Chintana 2010)
11                 
Pembukaan hubungan diplomatik RI-Sri Lanka
:
2 Agustus 1952
Kependudukan
 
 
12                 
Jumlah penduduk
:
20.263.723 (berdasarkan Census of Population and Housing 2012 oleh Department of Census and Statistics)
13                 
Ajaran yang dianut
:
Buddha (70.1%), Hindu (12.6%), Islam (9.7%), Kristen (7.4%), dan lain-lain (0.2%)
14                 
Etnis
:
Sinhala (74.8%), Tamil Sri Lanka (11.2%), Tamil keturunan India (4.1%), Moor/keturunan Timur Tengah (9.2%), Burgher/keturunan Portugis dan Eropa lainnya (1.8%), Melayu keturunan suku-suku di Indonesia dan Malaysia (1.9%) dan lainnya
Ekonomi
15                 
Sumber daya alam
:
batu kapur, graphite, pasir besi, batu mulia, fosfat, tanah liat, tenaga air (Department of Census and Statistics, 2012)
16                 
Komoditas ekspor unggulan
:
teh, karet, kelapa, petrolium, batu mulia (Department of Census and Statistics, 2012)
17                 
Komoditas impor utama
:
beras, gandum, gula, minyak mentah, pupuk
18                 
GDP
:
Total USD 59,17 miliar (2011, World Bank)
19                 
Mata uang
:
Sri Lankan Rupee (SLR)
Geografi
 
 
20                 
Luas wilayah
:
65.610 km2 (daratan 62.705 km2 atau 95,6%)
21                 
Letak (topografi)
:
Bagian tengah separuh pulau bagian selatan bergunung-gunung dengan ketinggian lebih dari 2,5 km. Dataran tinggi bagian tengah terdiri dari berbagai topografi seperti barisan pegunungan, peak, dataran tinggi, lembah di antara dataran tinggi, lembah sungai serta tebing tinggi dan curam. Selain itu, Sri Lanka terdiri dari dataran rata dengan beberapa bukit. Kondisi topografi ini mempengaruhi pola spasial angin, curah hujan musiman, temperature, kelembapan dan lain-lain, khususnya pada musim hujan.
22                 
Koordinat dan batas alam
:
5o 55' - 9o 50' lintang utara dan 79o 42’ – 81o53 lintang timur Timur, selatan, dan barat dikelilingi oleh Samudera Hindia; di utara utara dipisahkan oleh Selat Palk berbatasan dengan India
23                 
Kota besar/wisata
:
Colombo, Kandy, Galle, Sigiriya, Trincomalee, Hikkaduwa, Nuwara Eliya, Negombo, Jaffna
24                 
Iklim
:
Tropis panas dan lembap dengan dua musim, yaitu musim hujan dan kemarau
 
Sri Lanka atau nama resminya Republik Sosialis Demokratik Sri Lanka adalah sebuah negara pulau di pesisir tenggara India. Sampai tahun 1972, negara ini dikenal dengan nama Ceylon, sebutan yang diberikan pada masa kolonialisme Inggris. Pulau ini juga dikenal dengan nama Lanka, Lankadeepa, Simoundou, Taprobane, Serendib dan Selan. Sri Lanka merdeka pada 4 Februari 1948 dan merupakan anggota negara-negara persemakmuran.
 
Dari sekitar 21 juta penduduk Sri Lanka, 75% adalah Suku Sinhala yang mayoritas beragama Budha. Etnis kedua adalah Tamil, sekitar 18% dan mayoritas beragama Hindu. Secara geografis, konsentrasi etnis Tamil adalah di provinsi Utara (Jaffna) dan Timur (Trincomalee). Sisanya adalah muslim (7%) yaitu etnis Moor yang keturunan Arab dan muslim keturunan Melayu, etnis Burgher yaitu keturunan Eropa (1%) dan Wanniyala Aetto atau Vedda yaitu keturunan penduduk asli Sri Lanka yang saat ini jumlahnya semakin langka.
 
Bahasa Sinhala dan Tamil merupakan bahasa resmi dan nasional. Sedangkan Bahasa Inggris merupakan bahasa persatuan berdasarkan Konstitusi Sri Lanka. Bahasa Inggris juga merupakan bahasa ibu bagi sekitar 10% populasi Sri Lanka, selain itu juga dituturkan dan dimengerti secara luas. Ketiga bahasa tersebut digunakan bersama-sama dalam pendidikan dan pemerintahan.
 
Selama hamper tiga dasawarsa Sri Lanka dilanda konflik internal antara pemerintah dan sekelompok etnis Tamil yang menamakan dirinya Macan Tamil (LTTE). Pada awal tahun 2009 Pemerintah Sri Lanka melancarkan perang besar-besaran terhadap Macan Tamil dan akhirnya pada 18 Mei 2009 konflik tersebut berakhir dengan tewasnya pemimpin Macan Tamil. Sebelumnya sempat pada Februari 2002 dengan bantuan mediasi Norwegia, kedua pihak mencapai persetujuan gencatan senjata. Tetapi konflik militer terus meningkat sepanjang tahun 2006 dan kemudian Pemerintah Sri Lanka berhasil merebut kembali wilayah Tricomalee yang sebelumnya dikontrol oleh Macan Tamil. Pada Januari 2008, Pemerintah membatalkan persetujuan gencatan senjata karena situasi terus menegang.
 
Pada 26 Desember 2004, meskipun terletak sekitar 1600 kilometer dari episentrum di kedalaman Samudera Hindia, Sri Lanka termasuk salah satu negara yang terkena Tsunami. Sebanyak 40 ribu orang meninggal dan 2,5 juta penduduk kehilangan tempat tinggal. Dengan dukungan berbagai pihak, saat ini rekonstruksi dan rehabilitasi hampir rampung.
 
Ekonomi
Tulang punggung ekonomi Sri Lanka adalah ekspor produk pertanian. Negara ini merupakan negara pengekspor teh terbesar kedua di dunia. Komoditi ekspor lainnya adalah tekstil dan produk garmen, rempah-rempah, hasil laut, karet dan produk olahannya, kelapa dan produk olahannya serta berbagai jenis batu mulia: safir, mirah delima, berlian, zamrud, giok, biduri laut, akik, opal dan sebagainya. Produksi karet Sri Lanka mencapai 36% dari produksi karet dunia dan produksi kelapanya menyumbang 71% dari produksi kelapa dunia. Industri utama Sri Lanka adalah grafit atau timbal hitam yang sebagian besar diekspor ke Jepang. Industri keramik dan porselen juga berkembang pesat. Sebuah brand porselen dengan kualitas yang diakui secara internasional dari Jepang, “Noritake”, memiliki dua buah pabrik di Sri Lanka.
 
Budaya dan Pariwisata
Dengan garis pantai sepanjang 1340 kilometer, Sri Lanka memiliki banyak pantai yang indah. Oleh karena itu banyak dikembangkan resorts di tepi pantai, baik oleh pengelola lokal maupun internasional. Untuk kawasan tengah yang berupa dataran tinggi beriklim sejuk, banyak dikembangkan tempat-tempat wisata yang menampilkan keindahan perkebunan teh. Selain itu Sri Lanka memiliki banyak situs bersejarah dan obyek wisata yang tersebar di seluruh pulau. Namun masih banyak potensi wisata Sri Lanka yang belum dikembangkan secara optimal karena keterbatasan sumber-sumber. Dalam beberapa waktu terakhir, akibat suhu politik yang meningkat, cukup banyak resorts yang terpaksa tutup karena tidak ada wisatawan datang. Menyikapi perkembangan yang kurang menguntungkan ini,  instansi terkait Sri Lanka bekerja sama dengan asosiasi hotel dan pariwisata sepakat memberlakukan tarif minimum untuk hotel-hotel di Sri Lanka demi menaikkan kunjungan wisatawan mancanegara.
 
Setelah selesainya konflik internal, prioritas Pemerintah Sri Lanka pada saat ini adalah membangun kembali wilayah bekas konflik yang terbengkalai hampir 30 tahun terutama di wilayah Utara dan Selatan. Berbagai proyek infrastruktur seperti pembangunan jalan dan jembatan serta rel kereta api berlangsung secara masif di wilayah bekas konflik. Selain itu Pemerintah Sri Lanka juga gencar melakukan proses de-mining (penghapusan ranjau darat) agar para pengungsi domestic bisa kembali ke tempat tinggalnya. Melalui pembangunan ini Pemerintah Sri Lanka mengharapkan daerah utara dan selatan dapat mengejar ketertinggalannya disbanding wilayah Sri Lanka lainnya.
 
Secara garis besar, seni budaya Sri Lanka terbagi atas tiga kelompok besar yaitu kesenian Kandy yang terdapat di kawasan tengah dataran tinggi yang disebut uda rata natum; kesenian dataran rendah di kawasan selatan yang disebut pahatha rata natum dan kesenian sabaragamuwa natum.
Kuliner Sri Lanka sangat kaya dengan berbagai hidangan lokal, buah-buahan tropis dan aneka rempah. Selama berabad-abad gastronomi Sri Lanka berasimilasi dan beradaptasi dengan berbagai masukan dari India, China, Melayu, Arab dan Eropa. Sebagai dampak globalisasi, saat ini cita rasa Amerika modern juga hadir di Sri Lanka. Namun dalam kehidupan sehari-hari, umumnya masyarakat setia pada hidangan tradisional nasi dan kari.
 
Pers
Sesuai Konstitusi Sri Lanka, Pemerintah Sri Lanka menjamin kebebasan berekspresi, termasuk kebebasan pers. Namun pada prakteknya, Pemerintah tidak sepenuhnya membuka kebebasan tersebut dengan alasan keamanan nasional. Sejak tahun 1998, setelah terjadinya serangan Liberation of Tamil Tigers Eelam (LTTE) yang cukup mengganggu stabilitas politik, ekonomi dan sosial,  Pemerintah Sri Lanka menyatakan bahwa negara dalam keadaan darurat dan kemudian menutup seluruh akses bagi media lokal maupun internasional untuk peliputan berita yang berhubungan dengan masalah militer dan polisi. Selain itu juga diberlakukan censorship untuk semua pemberitaan lokal maupun internasional yang berkaitan dengan operasi militer dan keamanan.
 
Pada tahun 2002 ketika disepakati perjanjian gencatan senjata antara Pemerintah dan LTTE, semua kebijakan yang terkait dengan kondisi darurat dibatalkan. Namun pada Desember 2004 ketika terjadi bencana tsunami besar yang juga mengimbas Sri Lanka, Pemerintah kembali memberlakukan kebijakan untuk kondisi darurat walaupun waktu itu tidak memasukkan sistem sensor pers. Pada beberapa kesempatan, Pemerintah selalu menyatakan bahwa kebijakan censorship tidak ada, tetapi pada prakteknya, pers kesulitan memperoleh akses informasi dan mengalami tekanan/ancaman apabila menyuarakan aspirasinya. Tetapi kemudian pada tanggal 28 September 2006, Kementerian Pertahanan menyampaikan edaran bahwa seluruh liputan pemberitaan harus diperiksa terlebih dahulu oleh Media Centre for National Security (MCNS) untuk diklarifikasi atau dikonfirmasi. Hal ini untuk menjamin stabilitas pertahanan dan keamanan terkait dengan pemberitaan yang akan disebarluaskan. Kementerian Pertahanan juga menyampaikan bahwa metode ini bukan merupakan censorship.
 
Untuk memfasilitasi hubungan dengan pers, pada Oktober 2003 Pemerintah membentuk Press Complaints Commission of Sri Lanka (PCCSL), yang bertanggung jawab melindungi individu warga negara/organisasi yang dirugikan oleh pers. Individu warga negara maupun organisasi yang merasa dirugikan atau terkena dampak negatif dari pemberitaan pers, dapat mengajukan keberatannya, sehingga kemudian PCCSL dapat melakukan investigasi dan mengoreksinya. PCCSL merupakan bagian dari Sri Lanka Press Institute (SLPI), sebuah organisasi semi pemerintah yang bertujuan meningkatkan profesionalisme jurnalisme, menetapkan standar jurnalisme yang profesional dan memperjuangkan aspirasi reformasi media.
 
 
Kerja sama RI-SL
 
Secara historis, Indonesia dan Sri Lanka memiliki ikatan yang erat. Kerajaan-kerajaan Budha kuno yang ada di Indonesia sebagian berasal dari Sri Lanka. Populasi keturunan Melayu di Sri Lanka mengklaim bahwa nenek moyang mereka berasal dari Indonesia khususnya Jawa. Terdapat berbagai kelompok keturunan Melayu yang berupaya melestarikan seni budaya Melayu, di antaranya Sri Lanka Malay Association (SLMA), Kumpulan Melayu Kotikawatte, Sri Lanka United Malay Organization, Kandy Malay Association, Kumpulan Melayu Battaramulla,  Sri Lanka Malay Confederation, Mabole Malay Association, Sri Lanka Malay Association Rupee Fund, Gampola Malay Association, Persatuan Kampong Melayu Hunupitiya, Hill Country Malay Association Kelompok-kelompok tersebut berbentuk organisasi formal dengan berbagai aktivitas.
 
Hubungan bilateral Indonesia-Sri Lanka berjalan baik, meskipun masih banyak potensi kerja sama yang belum dieksplorasi. Meskipun hubungan kedua negara cukup erat pada tingkat people to people contact, yang diwujudkan oleh kegiatan-kegiatan KBRI Colombo dan masyarakat Indonesia di Sri Lanka dengan Sri Lanka-Indonesia Friendship Association (SLIFA) dan Sri Lanka-Indonesia Business Council (SLIBC), namun dalam tataran yang lebih tinggi, terdapat kendala yang cukup besar yaitu penempatan Sri Lanka dalam kelompok negara yang rawan secara ipoleksosbudhankam. Hal ini menyebabkan proses pemberian visa Indonesia kepada warga negara Sri Lanka menjadi lebih panjang dan berliku-liku, yang pada gilirannya kurang kondusif bagi kunjungan warga negara Sri Lanka ke Indonesia.
 
Dengan selesainya konflik internal Sri Lanka maka Sri Lanka menjadi lebih kondusif untuk investasi maupun wisata. Dalam berbagai fora internasional, Indonesia dan Sri Lanka bersama-sama memperjuangkan kepentingan kolektif seperti pemajuan HAM, pemberantasan terorisme dan kejahatan lintas negara, pencapaian Millenium Development Goals (MDGs) dan sebagainya.
 
Sejak tahun 1977, program KTNB yang berbentuk pendidikan dan latihan kejuruan yang ditawarkan oleh pemerintah Indonesia bekerjasama dengan JICA (Jepang) kepada pemerintah Sri Lanka telah disambut baik dengan mengikutsertakan para pejabat pemerintah terkait yang memiliki dan memenuhi Kriteria/persyaratan yang diperlukan. Setiap tahunnya antara 8 s/d 12 orang pegawai Sri Lanka telah mengikuti pendidikan dan latihan tsb diatas dalam berbagai bidang. Pelaksanaan KTNB telah berhasil mempererat hubungan bilateral dan kerjasama ekonomi kedua Negara. Sementara itu, untuk tahun 2009, Sri Lanka telah mengirimkan pejabat-pejabatnya untuk mengikuti training program antara lain:
 
  1. Program “Development Training Course of Artificial Insemination on Dairy Cattle”, Singosari Malang, 16 February – 15 March 2009. 
  2. International Workshop on Women Empowerment in Information Technology, Jkt, 23-28 Maret 2009
  3. The “International Training Program on Intensive Shrimp Culture for Asian Countries” to be held in Jepara, in May 2009
  4. The “International Training Workshop on Development of Renewable Energy: Micro Hydro Energy End – Use Productivity for Rural Economic Development” to be held in Bandung, West Java – Indonesia  from 2-9 June 2009
  5. International Workshop on Disaster Risk Management for Asia Pacific Countries: Consultative Expert Meeting, Jakarta, Indonesia, 9-11 Juni 2009  dan   Program Training Course on Geoinformatika for Natural Hazard Management and Disaster Risk Reduction di Cibinong, Bogor dan Jogjakarta, 8 Juni sd 27 Juli 2009.
Indonesia dan Sri Lanka telah menanda tangani beberapa Nota Kepahaman (MOU), antara lain dibidang Kerjasama Ekonomi dan Tehnik, Perjanjian Promosi dan Perlindungan Investasi yang ditanda tangani pada saat kunjungan Menteri Luar Negeri Sri Lanka ke Indonesia pada tanggal 9-12 Juni 1996, dibidang Pertanian tahun 2004 tentang P3B, pembentukan Komisi Bersama RI-Sri Lanka, dan kerjasama memerangi terorisme (Oktober 2007 di New York).