Zamrud Khatulistiwa Gugah Sentimen Komunitas Keturunan Indonesia di Cape Town

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Kebudayaan suatu bangsa merupakan salah satu warisan yang patut dijunjung tinggi, bahkan dipamerkan dan dipromosikan agar diketahui oleh bangsa lain. Untuk tujuan itulah, Konsulat Jenderal Repuplik Indonesia (KJRI) di Cape Town pada hari Jumat, 11 Februari 2011 menyelenggarakan Pagelaran Budaya dengan tema “Zamrud Khatulistiwa” (Equatorial Emerald) yang merupakan rangkaian kegiatan dari Indonesia’s Festival in Cape Town, South Africa 2011.

Pagelaran budaya tersebut sengaja diselenggarakan di Joseph Stone Auditorium yang memiliki kapasitas 440 tempat duduk, terletak di daerah Athlone, yang merupakan jantung kota Cape Town, dan utamanya adalah wilayah pemukiman Komunitas Cape Malay (masyarakat Afrika Selatan keturunan Indonesia), dengan tujuan utama untuk menggugah ikatan emosional yang terjalin di antara mereka terhadap negeri nenek moyangnya, yaitu Indonesia.

Pagelaran seni budaya Indonesia berupa pertunjukan musik kolintang, tarian Indonesia dari berbagai wilayah (Jawa, Sumatera dan Bali), serta peragaan busana kebesaran Indonesia dari berbagai daerah di kepulauan nusantara tersebut, terselenggara atas kerja sama antara KJRI di Cape Town dan KBRI di Windhoek, Namibia, dimana masing-masing Kepala Perwakilan bertindak sebagai driving force dalam pelaksanaan program promosi Indonesia, serta EOAN Grup, yang merupakan long standing partner KJRI di Cape Town semenjak dibuka pada tahun 1994.

Pagelaran yang dilaksanakan jam 19.00 - 21.30 waktu setempat itu berlangsung dengan semarak dan penuh dengan hujan pujian serta tepuk tangan dari para penonton yang terdiri dari Pejabat Pemerintah Provinsi Western Cape, Pemerintah Kota Cape Town, Ketua dan Anggota Parlemen Daerah Western Cape, Konsular Korps (Konsul Jenderal, Konsul dan Konsul Kehormatan), Friends of Indonesia (Pengusaha, LSM), Civitas Akademika, Masyarakat Indonesia di Cape Town dan Komunitas Cape Malay.

Sebagai pengantar acara, Konsul Jenderal RI di Cape Town, Ny. Sugie Harijadi, selain menyampaikan rasa terima kasih atas dukungan yang telah diberikan oleh para penonton melalui kehadirannya malam itu, juga menjelaskan secara singkat mengenai sejarah Zamrud Khatulistiwa yang intinya adalah bahwa zamrut katulistiwa adalah nama lain Indonesia yang diberikan oleh Presiden RI yang pertama Ir. Soekarno, untuk menggambarkan keindahan Indonesia yang merupakan rangkaian 17.508 pulau yang tersebar di khatulistiwa, serta terletak di antara Samudera Indonesia dan Samudera Pasifik. Disampaikan juga oleh Konsul Jenderal bahwa acara ini diselenggarakan agar masyakarat keturunan Indonesia di Afrika Selatan dapat lebih mengenal budaya akar mereka.

Di akhir sambutan, Konsul Jenderal menyampikan bahwa dengan bangga Konsulat Jenderal RI di Cape Town yang bekerja sama dengan Kedutaan Besar RI di Windhoek, Namibia serta EOAN Grup dari Cape Town, mempersembahkan kepada para tamu suatu warisan budaya bangsa Indonesia, dan sekaligus mengajak para tamu untuk melakukan muhibah dari kota Sabang yang berada di Pulau Sumatera, hingga ke kota Merauke yang berada di Pulau Papua dalam waktu singkat yaitu sekitar 3 jam saja, yang disambut tepuk tangan yang menggelegar oleh para penonton yang tampak hampir memenuhi auditorium.

Pertunjukan dibuka dengan lagu “Dari Sabang sampai Merauke” yang dibawakan oleh grup musik kolintang dari KBRI di Windhoek, Namibia dan dilanjutkan dengan lagu Indonesia lainnya (Gambang Suling, Jali-Jali, Manuk Dadali, Bengawan Solo dan Keroncong Kemayoran) dan diselingi oleh tarian Indonesia (Tari Yapong dan Tari Pendet).

Para waktu interval/stirahat, diselenggarakan resepsi dimana para tamu disuguhi dan dikenalkan pada beberapa makanan kecil berupa Tempe Mendoan (khas kota Sukoharjo, Jawa Tengah), Lumpia Semarang, Lapis Legit Jakarta dan Dodol Garut dari Jawa Barat. Sementara itu, para penonton juga dapat berwisata kuliner di Indonesia Corner yang dikelola oleh Ibu-Ibu Dharma Wanita Persatuan (DWP) KJRI di Cape Town, melalui berbagai ragam kue yang dijajakan.

Pada sesi kedua pertunjukan, decak kagum tak henti-hentinya diucapkan ketika peragaan busana kebesaran (pengantin) dari Sumatera hingga Papua ditampilkan. Pagelaran busana yang dibawakan oleh murid-murid dari EOAN tersebut, tampil mendekati sempurna, berkat pelatihan yang diberikan oleh ketua dan para pengurus DWP KJRI di Cape Town.

Setelah Fashion Show, kembali gegap gempita membahana menyambut penyanyi dari KBRI di Windhoek yang membawakan lagu-lagu seperti Malaika, Vlulindela, dan Soleram.

Soleram, sekalipun berasal dari Indonesia, mempunyai tempat khusus di hati orang-orang Afrika Selatan, selain karena dipopulerkan oleh Miriam Makeba yang dikenal sebagai Mama Africa, juga karena merupakan salah satu lagu perjuangan rakyat Afrika Selatan di zaman Apartheid.

Antusiasme juga terlihat dari kehebohan para penonton untuk menari di atas panggung. Selanjutnya, pertunjukan Tari Piring dari Sumatera Barat, dengan keterampilan penarinya yang bergerak lincah tanpa membuat piring jatuh, membuat kekaguman penonton bertambah. Penampilan lagu populer Ndihamba Nawe dan Waka-Waka menambah meriah suasana pagelaran malam itu. Dan kekaguman penonton mencapai puncaknya ketika Tari Saman dibawakan oleh para remaja dari Komunitas Cape Malay.

Ketika didaulat untuk menyanyi, Konsul Jenderal RI di Cape Town tampil ke depan dan membawakan lagu Rayuan Pulau Kelapa. Sebelum menyanyi, Konsul Jenderal menjelaskan kepada para tamu dan undangan serta para penonton mengenai makna lagu yang akan dibawakannya yaitu menggambarkan betapa indahnya negeri yang bernama Indonesia, dan dengan segala kerendahan hati Konsul Jenderal mengundang semua yang hadir untuk berkunjung ke negerinya, yaitu Indonesia.

Alunan lagu Indonesia Pusaka, yang dibawakan oleh seluruh Pejabat KJRI di Cape Town, mulai dari Konsul Jenderal, Ny. Sugie Harijadi; Konsul Ekonomi, Dharmaginta Thanos; Konsul Konsuler, Vedi Kurnia Buana; Konsul Muda Sosbud, Erry Kananga; BPKRT, Nur Fadli Tams; dan, sebagai solois dalam lagu ini adalah Bapak Harijadi Warsosumarto, suami Konsul Jenderal RI di Cape Town; mengakhiri pagelaran seni budaya Zamrud Katulistiwa, yang telah menggugah sentimen komunitas keturunan Indonesia di Cape Town.