Ternyata Masyarakat Awam Afsel Kenal Indonesia Melalui Tsunami 2004

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Memanfaatkan momentum perayaan Paskah 2011 di Afrika Selatan, Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Cape Town tidak mau ketinggalan. Jauh hari sebelum perayaan tersebut tiba, KJRI di Cape Town telah membuat persiapan yang matang untuk berpartisipasi pada Easter Festival 2011 yang diselenggarakan di 2 (dua) kota di wilayah kerjanya, yaitu Splash Festival di Port Elizabeth yang berlangsung tanggal 22 – 25 April 2011 dan Kramat Festival di Cape Town tanggal 22 – 24 April 2011 dengan mengusung tema Visit Indonesia.

Tujuan KJRI di Cape Town berpartisipasi pada Easter Festival tersebut, antara lain adalah dalam rangka melaksanakan salah satu tugas dan fungsi KJRI di Cape Town, yaitu fungsi promosi.

Splash Festival adalah kegiatan tahunan terbesar yang diselenggarakan oleh Pemerintah Provinsi Eastern Cape setiap menjelang musim gugur, antara lain dalam rangka mengisi liburan paskah. Selain menampilkan stand-stand makanan dan berbagai produk kerajinan masyarakat setempat, pihak penyelenggara juga menampilkan berbagai program kegiatan olah raga dan hiburan, yang diselenggarakan selama kegiatan berlangsung, yaitu 4 (empat) hari.

Bentuk promosi yang dikemas oleh KJRI di Cape Town pada Splash Festival adalah dengan membangun 2 (dua) stand; stand pertama khusus memamerkan produk-produk khas Indonesia berupa batik (kemeja, blus, gaun, selendang dan lain sebagainya) serta produk garmen berupa pakaian muslim dan muslimah (sarung, baju koko, songkok, abaya, seluar kamis, kerudung dan lain sebagainya) dan berbagai informasi tentang Indonesia berupa flyer serta booklet. Sedangkan stand kedua, KJRI di Cape Town bekerjasama dengan Eastern Cape Malayo Cultural Society (ECMCS) menjajakan makanan khas Indonesia berupa nasi goreng, mie goreng dan sate ayam.

Stand yang ditata dengan nuansa Indonesia tersebut telah berhasil menarik pengunjung Splash Festival untuk datang. Secara jujur … banyak dari para pengunjung stand, baik orang kulit putih, kulit berwarna maupun kulit hitam “tidak” mengenal Indonesia.

Menyikapi keadaan itu, para pemandu yang terdiri dari seluruh jajaran KJRI di Cape Town, dari staf sampai Konsul Jenderal yang giliran bertugas di stand, senantiasa tidak jemu-jemu dan dengan sabar menjelaskan kepada para pengunjung yang bertanya apa saja tentang Indonesia, sampai mereka mengetahui dan mengerti tentang Indonesia walaupun sepintas. Satu hal yang sulit dilupakan oleh para petugas, yaitu ketika satu rombongan pengunjung yang terdiri dari Komunitas Cape Malay (warga negara Afrika Selatan keturunan Indonesia) pada saat dijelaskan tentang Indonesia sangat sulit membayangkan di mana letaknya; tiba-tiba salah satunya berteriak “Ooh…, tsunami Aceh…! Sejak saat itu, yang bersangkutan selalu setia mengunjungi stand Indonesia, negara leluhurnya. Bahkan yang bersangkutan berdiri di depan stand dan seolah-olah menjadi ‘PR’ sambil berteriak-teriak “Come to Indonesia … tsunami …. tsunami! Menggelikan tapi juga menguntungkan karena telah turut menarik perhatian para pengunjung untuk datang ke stand Indonesia.

Selama festival berlangsung (empat hari), tampak pengunjung memadati stand makanan Indonesia, utamanya pada hari kedua, tepatnya setelah para pengunjung mengetahui cita rasa masakan Indonesia. Bahkan di antara mereka yang datang, ada yang rela menunggu walaupun stand belum dibuka, hanya untuk menikmati sate ayam khas KJRI di Cape Town. Beberapa dari mereka menanyakan apakah di Port Elizabeth terdapat rumah makan khas Indonesia yang menjajakan makanan seperti yang ada di stand KJRI di Cape Town tersebut? Suksesnya promosi masakan Indonesia yang ditampilkan di Stand KJRI di Cape Town pada Splash Festival itu, mengakibatkan para tenaga tukang masak, pelayanan dan penusuk sate dan juru bakar sate harus bekerja ekstra keras. Bahkan Konsul Jenderal RI di Cape Town dan para diplomat serta para spouse yang bertugas pada Stand KJRI di Cape Town kebagian tugas untuk menusuk dan membakar sate, demi mempromosikan Indonesia.

Walaupun keikutsertaan KJRI di Cape Town pada Splash Festival yang diramaikan oleh 400.000 (empat ratus ribu) pengunjung itu adalah yang pertama kali sejak KJRI di Cape Town dibuka pada tahun 1995, namun dengan keberhasilan yang dicapai tersebut, mendorong upaya KJRi di Cape Town untuk mengubah kendala menjadi peluang dalam melaksanakan promosi Indonesia di wilayah kerjanya.

Atas usul KJRI di Cape Town, ECMCS sepakat bahwa hasil yang diperoleh dari kegiatan ini akan diberikan kepada para korban bencana alam di Indonesia yang penyalurannya dilakukan melalui Palang Merah Indonesia (PMI), dan sebagian lagi untuk organisasi sosial setempat.

Makna lainnya dari partisipasi KJRI di Cape Town pada Splash Festival ini adalah merupakan bukti dari kepedulian KJRI di Cape Town terhadap masalah sosial, baik yang terjadi di Indonesia maupun di negara penerima. (Sumber: KJRI di Cape Town)