SAIIA Timba Ilmu dari Dr. Hassan Wirajuda

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Kehadiran Dr. Hassan Wirajuda di Cape Town telah menarik perhatian para cendekiawan muda Afrika Selatan. Sejak sebulan sebelum kedatangannya, Konsulat Jenderal RI di Cape Town menerima banyak surat, yang umumnya berupa undangan untuk menghadirkan beliau dalam suatu diskusi. Salah satu pemohon yang diterima adalah lembaga think-tank Afrika Selatan yang bermarkas di Johannesburg dan memiliki kantor cabang di Cape Town. Lembaga yang bernama South Africa Institute of International Affairs (SAIIA) ini dibentuk pada tahun 1934, mayoritas hasil kajiannya diterima dan dijadikan rujukan oleh pemerintah Afrika Selatan dalam membuat dan merumuskan kebijakan.

Pada hari Selasa, 8 Maret 2011, jam 10.00 pagi waktu setempat, Dr. Hassan Wirajuda didampingi Konsul Jenderal RI di Cape Town Ny. Sugie Harijadi beserta seluruh pejabat KJRI di Cape Town, memenuhi undangan SAIIA untuk melakukan diskusi dengan para peneliti muda SAIIA. Diskusi yang diselenggarakan di kantor SAIIA cabang Cape Town tersebut mengulas masalah yang bertopik Indonesia's role in regional politics, as a leading member of ASEAN and comparative lessons for South Africa in Africa region.

Mengawali diskusi, Dr. Wirajuda menjelaskan bahwa kepemimpinan Indonesia di kawasan tampak dari dasar/nilai pendekatan yang dilakukan; diantaranya, pertama, pendekatan konstitusi, yaitu sebagai mandat dari Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang menentang segala bentuk penjajahan. Nilai ini dijadikan pedoman dalam melaksanakan diplomasi sehingga Indonesia sangat aktif dalam membantu negara lainnya untuk mencapai kemerdekaan. Kedua, pendekatan sosial budaya, di mana keputusan diambil melalui budaya musyawarah untuk mufakat, sehingga suatu keputusan dapat diambil secara konsensus. Budaya ini diadopsi oleh ASEAN. Selanjutnya, menyadari latar belakang anggota ASEAN yang sangat beragam, baik dari segi etnis, sejarah, kebudayaan maupun pemerintahan; Indonesia senantiasa dapat memahami jika perkembangan ASEAN terjadi secara gradual dan bertahap. Sebagai contoh, Dr. Wirajuda kemukakan mengenai masuknya kerja sama politik dan keamanan yang tidak tercakup dalam masa awal berdirinya ASEAN, namun baru beberapa dekade setelahnya.

Terkait masuknya isu politik dan keamanan dalam kerangka kerjasama ASEAN, Dr. Wirajuda menyampaikan bahwa Indonesia memiliki andil besar dalam merancang kerjasama ini. Rancangan kerjasama termaksud disampaikan Indonesia atas dasar pengalamannya dalam mengelola negara selama kurun waktu 30 tahun pada era Soeharto. Sebagaimana halnya negara di kawasan pada masa itu, pengelolaan negara dititikberatkan pada bidang ekonomi saja dengan mengesampingkan bidang lainnya. Tidak dapat dipungkiri, bahwa Indonesia sempat mengalami pertumbuhan ekonomi yang pesat, bahkan dijuluki sebagai salah satu macan Asia. Namun demikian, saat krisis melanda kawasan pada tahun 1997 - 1998, perekonomian Indonesia mengalami collapse. Berdasarkan pengalaman tersebut, Indonesia menyadari akan perlunya keseimbangan dalam pembangunan, di mana pembangunan ekonomi harus diimbangi dengan pembangunan di bidang politik. Oleh karena itu, Indonesia mendorong ASEAN untuk memperhatikan isu politik keamanan agar perkembangan kawasan dapat dicapai secara lebih berimbang dan stabil. Akhirnya, pada tahun 2005, politik dan keamanan diadopsi menjadi salah satu dari tiga pilar kerjasama ASEAN.

Diskusi mengalir secara smooth, dan tanpa terasa, topik diskusi yang semula disepakati hanya ASEAN saja, ternyata berkembang ke beberapa masalah lain, diantaranya climate change dan desentralisasi/otonomi daerah di Indonesia. Memenuhi keinginan SAIIA untuk berbagi pengalaman Indonesia dalam menangani UNFCCC di Bali Desember 2007, Mantan Menlu RI itu menjelaskan secara rinci mengenai peran Indonesia dalam membidani Bali Road Map. Pengalaman Dr. Hassan Wirajuda sebagai diplomat karir dan pelaku utama politik luar negeri Indonesia selama kurun waktu 9 tahun tersebut, diterima sebagai masukan yang baik oleh para cendekiawan SAIIA dan akan diaplikasikan dalam meningkatkan peran Afrika Selatan di kawasan dan untuk mempersiapkan Afrika Selatan sebagai tuan rumah pertemuan multilateral di bidang climate change di Durban, pada bulan Desember tahun ini.

Mengikuti jalannya diskusi dari dekat, tampaknya pemikiran Dr. Wrajuda sebagai diplomat karir yang sudah berpengalaman di bidangnya, sangat dihargai sebagai masukan yang berharga bagi calon-calon pemimpin Afrika Selatan di masa depan.

Cape Town, 11 Maret 2011