Penyuluhan Bahaya HIV/AIDS kepada WNI ABK di Cape Town

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Dalam rangka Hari HIV/AIDS Sedunia yang diperingati setiap tahun, pada tanggal 1 Desember, bertempat di Seamen’s Club, Cape Town, pada tanggal 2 Desember 2010, Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Cape Town telah menyelenggaran acara Penyuluhan Masalah Bahaya HIV/AIDS kepada para WNI di wilayah kerja yang bekerja di kapal-kapal penangkap ikan sebagai Anak Buah Kapal (ABK).

Acara tersebut dilaksanakan secara terpadu, yaitu dalam rangka pelaksanaan program pembinaan dan perlindungan WNI di wilayah kerja; untuk memperingati hari HIV/AIDS internasional dan sekaligus dalam rangka peringatan Hari Ulang Tahun ke-11 Dharma Wanita Persatuan (DWP). Oleh karenanya, dalam melaksanakan penyuluhan tersebut, KJRI di Cape Town melibatkan ibu-ibu para pengurus dan anggota DWP Unit KJRI di Cape Town .

Menurut Konsul Muda bidang Sosbud Erry Kananga, program terpadu ini diarahkan langsung oleh Konsul Jenderal RI di Cape Town, Ny. Sugie Harijadi. Dijelaskan oleh Erry bahwa Konsul Jenderal selaku Penasehat DWP Unit KJRI di Cape Town ingin agar para isteri diplomat dan staf yang tergabung dalam DWP KJRI di Cape Town turut menghayati tugas utama Konsulat Jenderal RI di Cape Town yaitu melindungi kepentingan negera Republik Indonesia, termasuk warga negara Indonesia dan Badan Hukum Indonesia yang berada di wilayah kerja. Dalam kaitan itulah, program bakti sosial oleh DWP KJRI di Cape Town dalam rangka HUT ke-11 tersebut, oleh Konsul Jenderal diarahkan untuk melakukan Penyuluhan HIV/AIDS kepada para ABK-RI yang karena lapangan pekerjaannya dipandang perlu mendapat perhatian tersendiri. Program penyuluhan terpadu tanggal 2 Desember tersebut diawali dengan sesi Consular Clinic oleh Konsul Konsuler Vedi Kurnia Buana mengenai seputar permasalahan yang dihadapi para ABK-RI di lingkungan kerjanya. Dalam kaitan itu, para ABK-RI dihimbau untuk tidak segan-segan berkomunikasi dengan Kapten Kapal di mana mereka bekerja apabila terjadi masalah. Apabila terdapat kendala bahasa, hendaknya dapat berkomunikasi menggunakan ‘bahasa tarzan’ dan bahasa tubuh. Selain itu, agar para ABK-RI juga dapat meningkatkan rasa percaya diri sehingga tidak menjadi incaran bullying ABK dari negara lain atau master kapal; karena tidak jarang terjadi pemukulan yang berulang kali kepada ABK-RI, hanya disebabkan yang bersangkutan tidak melakukan perlawanan sehingga terlihat lemah. Terkait kontrak kerja, Konsul Vedi meminta kepada para ABK-RI agar tidak segan-segan melaporkan kepada pihak berwajib atau Perwakilan RI terdekat seandainya mereka menghadapi permasalahan dengan para agen dan/atau majikan.

Pada sesi penyuluhan bahaya HIV/AIDS, Ny. Shonara Thanos, selaku Ketua DWP KJRI di Cape Town menjelaskan kepada para ABK-RI bahwa HIV/AIDS merupakan penyakit yang paling berbahaya dan harus dihindari; selain karena belum ada obat yang dapat menyembuhkannya, juga karena efeknya bukan hanya diterima oleh penderita, tetapi juga oleh orang-orang terdekat termasuk yang dicintainya, yaitu keluarga (dalam hal ini isteri dan anak). Saat ini di dunia terdapat sekitar 60 juta penderita HIV/AIDS; dan Afrika Selatan adalah negara yang memiliki jumlah penderita HIV/AIDS terbesar di dunia, yaitu sekitar 5,5 juta dari jumlah penduduk Afsel yang keseluruhannya 40 juta. Dalam kaitan itulah kepada para ABK-RI yang berada di wilayah kerja KJRI di Cape Town dihimbau agar menghindari perilaku yang dapat menyebabkan tertularnya HIV/AIDS, seperti seks bebas tanpa pengaman serta penggunaan narkoba. Ditekankan oleh Ketua DWP bahwa para ABK-RI harus selalu ingat kepada keluarga mereka di kampung halaman, sebelum mereka berbuat sesuatu yang nikmatnya hanya sesaat, tetapi dampaknya seumur hidup.

Acara yang dihadiri oleh lebih kurang 60 ABK-RI tersebut ditutup dengan makam malam bersama dan ramah tamah yang disambut sangat antusias oleh para ABK-RI. Di akhir acara, DWP KJRI di Cape Town memberikan bingkisan kepada masing-masing ABK-RI, yang berisi keperluan sehari-hari berupa sikat dan pasta gigi; sabun mandi serta handuk. Menurut Erry, acara bakti sosial DWP KJRI di Cape Town tidak cukup hanya disini saja; masih ada yang lain, yaitu pada hari Sabtu, tanggal 11 Desember mendatang, Konsul Jenderal RI selaku Penasehat DWP KJRI di Cape Town akan menyelenggarakan Charity Bazaar yang dikelola secara terpadu oleh KJRI, cq. Fungsi Sosial Budaya serta DWP KJRI di Cape Town, dan hasilnya akan disumbangkan kepada korban Merapi.