Mantan Menlu RI Didaulat Sebagai Special Guest Pada Dialog Di Cape Town

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Memperoleh informasi mengenai rencana kunjungan kerja Dr. Hassan Wirajuda ke Cape Town yang dilaksanakan pada 6 – 13 Maret 2011, salah satu lembaga think-tank Afrika Selatan, yaitu Centre for Conflict Resolution (CCR), tidak mau ketinggalan untuk ‘memanfaatkan’ kehadiran eminent person dari Indonesia tersebut; karena, bersamaan dengan waktu kunjungan kerja mantan orang nomor satu di Departemen Luar Negeri RI tersebut, CCR akan menyelenggarakan dialog publik mengenai “South Africa’s Role on the United Nations Security Council”, dan sebagai pembicara adalah Duta Besar Dumisani Kumalo, Mantan Wakil Tetap Afsel pada PBB serta Mr. Thomas Wheeler, Mantan Duta Besar Afrika Selatan untuk Turki, yang sekarang menjabat sebagai foreign policy reseach associate pada South African Institute of International Affairs (SAIIA), Johannesburg. Dalam kaitan itu, Direktur Eksekutif CCR Adekeye Adebajo menyampaikan bahwa pengalaman Mantan Menlu RI Dr. Hassan Wirajuda sebagai diplomat dan sekaligus pelaku utama hubungan internasional selama sembilan tahun, dianggap berharga dan oleh karenanya CCR memandang perlu untuk mengundang Mantan Menlu RI termaksud dalam dialog publik yang akan diselenggarakannya itu sebagai special guest, dalam hal ini menjadi pengulas pertama dari makalah yang disampaikan pembicara.

Sebagaimana diharapkan, Mantan Menlu RI tersebut bersedia hadir pada dialog publik yang diselenggarakan oleh CCR pada tanggal 8 Maret 2011, mulai jam 17.30, bertempat di Centre of the Book, yaitu salah satu bangunan bersejarah di kota Cape Town. Dialog publik ini dihadiri oleh banyak pengamat dari berbagai cabang ilmu, periset, beberapa Mantan Duta Besar Afrika Selatan, serta Mantan Menteri Seni dan Kebudayaan Afrika Selatan H.E. Pallo Jordan.

Sebagaimana diketahui, sejak 1 Januari 2011, Afrika Selatan menjadi anggota tidak tetap Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk periode dua tahun. Dalam kaitan ini, dialog publik diselenggarakan dengan tujuan utama untuk membahas peran apa yang dapat dilakukan oleh Afrika Selatan selama menjabat sebagai anggota tidak tetap DK PBB pada kurun waktu 2011 – 2013; mengingat pengalaman Afrika Selatan dalam DK PBB pada 2007 – 2008 yang ternyata menemui banyak rintangan. Disamping itu, dialog diselenggarakan juga untuk mencari masukan agar dalam memainkan perannya di DK-PBB Afrika Selatan dapat menghasilkan kontribusi positif, utamanya di bidang HAM, serta untuk memastikan agar Afrika Selatan tetap konsisten dengan norma konstitusi dan kebijakan luar negerinya.

Setelah menyampaikan pendapatnya secara panjang lebar dan mengulas pendapat dari beberapa undangan yang hadir dalam forum ini, kedua pembicara sampai pada kesimpulan yang intinya bahwa untuk keanggotaan Afrika Selatan pada DK-PBB sekarang ini, tantangan yang dihadapi akan semakin berat, karena semakin kuatnya dorongan untuk mereformasi DK PBB. Dalam hal mana, banyak pihak yang berharap agar selama keanggotaannya, Afrika Selatan dapat memainkan statusnya untuk mendorong agenda reformasi termaksud sehingga dapat diwujudkan. Namun, pembicara tampak pesimis mengingat hak veto tetap merupakan senjata yang ampuh dalam mewujudkan kepentingan nasional para pemegangnya.

Dalam dialog tersebut, pembicara juga menyampaikan pengalamannya selama mengelola tugasnya pada saat Afrika Selatan menjabat sebagai anggota tidak tetap DK PBB pada periode 2007 – 2008 di mana pada saat itu masyarakat menganggap bahwa dengan menjadi anggota tidak tetap DK PBB, Afrika Selatan dapat dengan mudah mendorong terpenuhinya suatu agenda. Kenyataannya, proses pengambilan keputusan dalam DK PBB sangatlah rumit, karena adanya intervensi kepentingan nasional dari masing-masing anggota. Selain itu, hak veto anggota tetap masih sering menjadi ganjalan dalam mencapai kesepakatan.

Berbeda dengan pandangan pembicara, Dr. Wirajuda dalam ulasannya menyampaikan pendapat yang lebih optimis yang diawali dengan ulasan mengenai pentingnya masyarakat Afrika Selatan sendiri untuk memahami peran besar pemerintahnya sebagai anggota tidak tetap pada DK PBB. Lebih lanjut Dr. Wirajuda menyampaikan bahwa bagi Indonesia, Afrika Selatan merupakan salah satu dari sedikit negara yang pernah menjadi anggota tidak tetap DK PBB yang berani berkata tidak. Dalam kaitan itu, Afrika Selatan memainkan perannya secara efektif tidak hanya untuk kepentingan nasional, namun juga untuk kepentingan regional dan internasional. Sebagai pelaku hubungan internasional, Dr. Wirajuda menyaksikan bagaimana Afrika Selatan sangat berperan dalam berbagai isu yang krusial yang dibahas dalam DK PBB.

Pandangan positif Dr. Wirajuda tersebut merupakan angin segar diantara rasa pesimis yang dilontarkan para pembicara dalam dialog terhadap peran Afrika Selatan sebagai anggota tidak tetap DK PBB. Tampaknya, pemikiran tersebut sangat berharga utamanya sebagai penyeimbang dalam dialog yang berlangsung dalam suasana yang hidup.

Usai acara dialog publik, Dr. Hassan Wirajuda menghadiri jamuan makan malam yang diselenggarakan oleh CCR untuk menghormati kunjungan beliau di Cape Town. Dalam forum makan malam ini, Dr. Wirajuda tampak berbincang akrab dengan kolega-kolega yang sudah dikenalnya sejak lama, antara lain Mantan Menteri Pallo Jordan dan Ambassador Dumisani Kumalo. Dalam pembicaraan dengan H.E. Pallo Jordan, sempat disinggung mengenai Syekh Yusuf Al-Makassari Al-Bantami serta rencana pembangunan perpustakaan Indonesia di Cape Town yang tersendat.