Laskar Pelangi buka "Indonesia's Festival in Cape Town, South Africa 2011"

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Isak tangis dan mata merah berkaca-kaca menyelimuti sebagian besar undangan acara pemutaran film yang diselenggarakan oleh Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Cape Town, pada hari Kamis, tanggal 27 Januari 2011, di Labia on Orange Theatre yang terletak di pusat kota Cape Town.

Perjuangan Ikal dan kawan-kawan serta kedua guru mereka yang luar biasa dalam film “Laskar Pelangi” telah menggugah hati para penonton yang terdiri dari para Kepala Perwakilan negara sahabat, dan Friends of Indonesia (kalangan Pemda/Parlemen setempat, pengusaha, Civitas Akademika, insan perfilman dan LSM).

Pemutaran film yang berlangsung 2 (dua) kali, yaitu jam 18.00-20.00 (untuk para tamu undangan Konsul Jenderal RI di Cape Town); dan jam 20.15-22.15 (untuk masyarakat Indonesia di Cape Town dan sebagian Friends of Indonesia yang tidak tertampung pada jam pertama) tersebut, merupakan kegiatan yang mengawali pelaksanaan program kerja Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Cape Town tahun 2011.

Sebelum acara dimulai, diselenggarakan resepsi sederhana dengan hidangan kue-kue khas Indonesia berupa lumpia, onde-onde dan pangsit goreng serta minuman jus dari berbagai sari buah segar. Sementara para pejabat KJRI di Cape Town beserta suami/isteri menemani para tamu di ruang resepsi, beberapa ibu anggota Dharma Wanita Persatuan (DWP) KJRI di Cape Town sibuk mengelola Indonesia’s Corner yang menjual berbagai kue khas Indonesia, yang dapat dibeli dan dinikmati oleh para pengunjung gedung bioskop Labia.

Dalam sambutan singkat sebelum pemutaran film; Konsul Jenderal RI di Cape Town, Ny. Sugie Harijadi, seraya menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua tamu yang hadir memenuhi undangannya, menjelaskan bahwa pemutaran film Laskar Pelangi tersebut merupakan tanda dimulainya “Indonesia’s Festival in Cape Town, South Africa 2011”, dan untuk mengisi festival tersebut, akan terdapat berbagai kegiatan berikutnya yang akan diselenggarakan oleh KJRI di Cape Town. Dalam kaitan ini, Konsul Jenderal berharap kiranya semua Friends of Indonesia yang hadir malam itu, dapat memberikan dukungannya dengan meluangkan waktu untuk menghadiri acara-acara yang akan diselenggarakan oleh KJRI di Cape Town. Mengakhiri sambutan, Konsul Jenderal berharap kiranya melalui film Laskar Pelangi tersebut para hadirin tidak saja dapat menikmati keindahan panorama Indonesia di Pulau Belitung, tetapi juga mengetahui kehidupan masyarakat di tempat tersebut.

Mengantarkan tayangan pertama, Konsul Muda Erry Kananga selaku juru bicara KJRI di Cape Town menyampaikan penjelasan singkat tentang sinopsis film yang merupakan pengalaman hidup penulis novel dengan judul yang sama, yaitu Andrea Hirata, yang telah menghabiskan masa kanak-kanaknya di SD Muhamaddiyah Belitung.

Selama film ditayangkan, suasana tampak senyap, dan sesekali terdengar tawa penonton yang timbul karena ulah anak-anak SD Muhammadiyah yang lucu (dalam film tersebut). Bahkan terdengar pula sedu sedan memecahkan suasana senyap, yang datang dari para ibu karena terharu menyaksikan perjuangan Bapak Guru Harfan (yang diperankan oleh Ikranagara) dan Ibu Guru Muslimah (oleh Cut Mini) serta Lintang si murid yang cerdas, dalam perjuangannya masing-masing, untuk mempertahankan agar institusi pendidikan termaksud dapat bertahan dan tidak ditutup.

Setelah dua jam penonton dibawa ke alam Pulau Belitung, lampu teater menyala dan pertunjukan telah selesai. Sambil beranjak dari kursinya, terdengar pembicaraan mereka satu sama lain yang menyenandungkan rasa puas terhadap film yang telah ditontonnya selama dua jam tersebut. Seraya menyampaikan apresiasi kepada Konsul Jenderal RI di Cape Town, para tamu menyampaikan komentarnya bahwa film tersebut benar-benar sangat menyentuh rasa kemanusiaan; bagi mereka yang rata-rata sudah bosan dengan cerita-cerita versi barat, cerita seperti dalam film Laskar Pelangi merupakan tampilan seni yang tepat dan memikat.

Melalui pemutaran film Laskar Pelangi, KJRI di Cape Town telah berhasil menyampaikan kepada para penontonnya tentang Indonesia dari segala sudut (sosial budaya, pendidikan, perekonomian, dan kuliner). (Sumber: KJRI di Cape Town)