Kasih Sayang Mendasari Pelaksanaan Tugas Pelayanan dan Perlindungan WNI di Wilayah Kerja KJRI di Cape Town

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Berbekal rasa kasih dan sayang kepada sesama, Konsul Vedi Kurnia Buana, Fungsi Konsuler KJRI di Cape Town telah dengan ikhlas melakukan perjalanan sepanjang lebih dari 800 km. Perjalanan tersebut, tidak lain ditujukan untuk memberikan bantuan dan pelayanan kepada Sdr. Suimron, WNI yang bekerja pada Kapal Penangkap Ikan berbendera Jepang MFV Koei Maru 88 sebagai Anak Buah Kapal (ABK), yang jatuh sakit ketika melaksanakan kerja dan dirawat di di RS St. Georges, Port Elizabeth, Provinsi Eastern Cape. Suimron yang telah bekerja di kapal tersebut sejak tahun 1990, sebenarnya mengalami gejala sakit semenjak kapal merapat di pelabuhan Cape Town, tanggal 14 Oktober 2010, namun, karena merasa telah melakukan konsultasi kepada dokter setempat dan minum obat, ia melanjutkan pelayarannya. Tetapi, pada waktu kapal MFV Koei Maru 88 melintasi pelabuhan Port Elizabeth, Provinsi Eastern Cape, yang bersangkutan diturunkan dari kapal dan dilarikan ke RS setempat, karena sekujur tubuhnya mengindikasikan warna kuning. KJRI di Cape Town mengetahui bahwasanya ada seorang WNI yang dirawat di RS St. Georges, Port Elizabeth tersebut, karena pihak RS hampir seharian menelpon KJRI untuk minta bantuan terjemahan, karena nampaknya proses pengobatan tidak dapat berjalan lancar, disebabkan Sdr. Suimron tidak paham Bahasa Inggris. Untuk menghindari resiko salah diagnosa, Konsul Jenderal RI di Cape Town, memutuskan untuk menugaskan Konsul Fungsi Konsuler guna memberikan pendampingan dan bantuan yang kemungkinan diperlukan, selama yang bersangkutan menjalankan pemeriksaan dan atau perawatan. Menurut Konsul Muda Erry Kananga yang menangani Fungsi Sosbud, konsep Kasih Sayang sebagai dasar dalam melaksanakan tugas pelayanan dan perlindungan WNI di wilayah kerja KJRI di Cape Town, diterapkan oleh Konsul Jenderal Sugie Harijadi, sejak ia mengawali pekerjaannya sebagai Kepala Perwakilan RI di Cape Town, pada pertengahan Mei 2010. Diinfokan oleh Erry, ”Ibu Konjen menjelaskan kepada kami semua (pejabat dan Staff KJRI di Cape Town) bahwa dengan rasa kasih, kita dapat menerima keadaan orang lain sebagaimana adanya dan dengan rasa sayang kita dapat memberi kepada orang lain secara tulus dan ikhlas”. Konsep itulah yang sekarang menjadi dasar bagi KJRI di Cape Town dalam melaksanakan tugas pelayanan dan perlindungan WNI di wilayah kerja. Suimron, setelah melalui berbagai pengecekan laboratorium akhirnya diketahui mengidap penyakit gula (Diabetes Mellitus), dan dari yang bersangkutan diperoleh konfirmasi bahwa penyakit tersebut dideritanya sejak tahun 2002, hanya selama ini tidak terlampau dirasakan. Setelah dinyatakan stabil, Sdr. Imron diizinkan keluar dari RS, dan akhirnya kembali ke Indonesia pada tanggal 03 November 2010 serta akan melanjutkan perawatannya di tanah air. Dengan total sekitar 3000 orang TKI yang bekerja sebagai ABK pada berbagai kapal penangkap ikan milik Cina, Korea, Taiwan dan Jepang; permasalahan ABK Indonesia di wilayah kerja KJRI di Cape Town cukup beragam. Dalam kaitan itu, sebagai salah satu pelaksanaan program kerja di bidang Perlindungan WNI, KJRI di Cape Town secara rutin mengadakan pertemuan dengan para ABK dan pada forum tersebut, KJRI memberikan penyuluhan serta sosialisasi mengenai bimbingan dan santapan rohani, kesehatan: bahaya HIV/AIDS, pola hidup: arahan untuk tidak berperilaku boros, kiat-kiat apabila menghadapi masalah selama hidup dirantau, dan topik-topik lainnya yang berguna bagi para ABK Indonesia. KJRI di Cape Town juga senantiasa memberikan bantuan dan perlindungan kepada para ABK Indonesia yang mengalami permasalahan. (Sumber : KJRI Cape Town)