Indonesia’s Heritage Corner Pandu Komunitas Cape Malay di Afrika Selatan Telusuri Akar Nenek Moyang Mereka

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Memanfaatkan momentum Easter Festival di Afrika Selatan, khususnya di wilayah kerja Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Cape Town, dengan dihadiri oleh ratusan warga yang tergabung dalam Eastern Cape Malayo Cultural Society (ECMCS), serta diawali dengan doa oleh Imam Masjid Sabireen; pada hari Jumat, tanggal 22 April 2011 jam 10.00 waktu setempat, Konsul Jenderal RI di Cape Town, Ny. Sugie Harijadi telah meresmikan pembukaan Eastern Cape Muslim Heritage Museum di kota Port Elizabeth, provinsi Eastern Cape dan sekaligus meresmikan Indonesia’s Heritage Corner yang ada di dalam museum tersebut yang merupakan hasil kerjasama antara KJRI di Cape Town dengan ECMCS.

Dinamakan Indonesia’s Heritage Corner karena keberadaannya di dalam museum sehingga merupakan bagian dari museum yang dibangun bersebelahan dengan Masjid Sabireen.

Indonesia’s Heritage Corner yang diresmikan pada tanggal 22 April 2011 tersebut merupakan pilot project KJRI di Cape Town, yang akan diikuti dengan pembentukan/pembukaan beberapa Indonesia’s Heritage Corner/Centre di tempat lain.

Pembentukan/pembukaan Indonesia’s Heritage Corner/Centre merupakan salah satu target kerja yang harus dicapai oleh KJRI di Cape Town dalam periode 2010 – 2013. Tujuan pembentukan/pembukaan Indonesia’s Heritage Corner/Centre selain untuk mempromosikan Indonesia dari sudut seni budaya dan ekonomi; juga dimaksudkan untuk meluruskan sejarah hubungan Indonesia dengan Afrika Selatan yang terbangun sejak abad ke-17 (1694) melalui kehadiran Syekh Yusuf Al-Makasari Al-Bantani sebagai exile person yang dibuang oleh Belanda ke Tanjung Harapan (sekarang Cape Town) karena perlawanannya yang gigih terhadap penjajahan Belanda; serta untuk membantu komunitas keturunan Indonesia di Afrika Selatan yang dikenal sebagai Komunitas Cape Malay dalam menelusuri akar nenek moyang mereka.

Kaitan peresmian Indonesia’s Heritage Corner tersebut dengan Easter Festival, antara lain bahwa KJRI di Cape Town ingin mengisi momentum yang bersejarah itu dengan sesuatu yang berharga bagi Indonesia maupun bagi komunitas Cape Malay dalam upaya mereka menelusuri akar nenek moyangnya di Indonesia.

Easter Festival merupakan momentum penting yang senantiasa diperingati oleh para komunitas Cape Malay baik yang muslim maupun yang nonmuslim, karena pada kesempatan tersebut keluarga yang sudah terpencar, karena perkawinan atau karena pekerjaan, berkumpul kembali (seperti suasana lebaran di Indonesia) untuk mengenang kebiasaan yang diwariskan oleh nenek moyangnya dari generasi ke generasi.

Berpegang pada tujuan KJRI di Cape Town dalam meluncurkan Indonesia’s Heritage Corner, maka kepada para pengunjung yang datang memasuki museum langsung disapa oleh suatu divider yang berdiri tegak dalam bentuk huruf N bertuliskan Indonesia’s Heritage Corner yang diapit oleh bendera kebangsaan Indonesia (kanan) dan Afrika Selatan (kiri).

Divider tersebut memuat informasi berupa Peta Indonesia terhadap dunia, serta Peta Indonesia terhadap Afrika Selatan khususnya Cape Town (d/h Tanjung Harapan) yang bertuliskan Indonesia – South Africa Historical Link. Peta ini menceritakan asal usul orang-orang Indonesia yang menjadi nenek moyang komunitas Cape Malay di Afrika Selatan, antara lain adalah Jakarta (d/h Batavia), Banten, Semarang, Surabaya, Krian, Lombok, Sumbawa, Makasar, Ternate, Tidore dan Aceh, yang masing-masing dihubungkan dengan Cape Town (seperti gambar jalur penerbangan).

Selanjutnya pada bagian tengah divider terpampang foto Syekh Yusuf Al-Makasari Al-Bantani, orang Indonesia yang sangat dihormati dan diakui sebagai Pahlawan Nasional Afrika Selatan, lengkap dengan sejarah beliau, dari lahir hingga wafat dan dimakamkan di Kramat Macasar Cape Town. Dari informasi ini, diharapkan para komunitas Cape Malay menjadi paham bahwa akar nenek moyang mereka datang dari Indonesia, dan bukan dari Malaysia sebagaimana yang selama ini mereka dengar, karena kata ‘Malay’ selalu diasosiasikan dengan Malaysia.

Di bagian ujung divider memuat informasi tentang Kota Jakarta yang dahulu dikenal sebagai Batavia yang menjadi pusat VOC dalam mengendalikan jajahannya di East Indies (sekarang Indonesia), termasuk dalam mengendalikan Tanjung Harapan (sekarang Cape Town). Melalui informasi ini, diharapkan para pengunjung mendapat pemahaman sejarah tentang kehadiran Indonesia di Afrika Selatan.

Di bagian belakang divider diisi dengan informasi tentang Wali Songo lengkap dengan foto mereka serta foto dari beberapa masjid terkenal yang ada di seluruh Nusantara. Memasuki Indonesia’s Heritage Corner pengunjung museum akan melihat dari dekat Kitab Suci Al-Qur’an (disertai terjemahan dalam Bahasa Indonesia) yang didisplay dalam kaca, kemudia mereka akan dikenalkan kepada kehidupan Indonesian Muslim in Indonesia melalui tampilan tiga manekin, yaitu manekin pria dengan pakaian kebesaran seorang muslim yang hendak menunaikan Shalat Ied, yaitu memakai sarung, kemeja koko dan jas serta songkok kemudian membawa sajadah yang disampirkan di pundaknya, serta tasbih di tangannya.

Manekin wanita menggambarkan seorang muslimah bila akan keluar rumah, yaitu memakai kain panjang, kebaya dan kerudung; dan manekin wanita yang menggambarkan seorang muslimah yang hendak menunaikan shalat, yaitu memakai mukena dengan hamparan sajadah di depannya. Selain itu, di sini juga dilengkapi dengan beberapa buku tentang Indonesia (dalam Bahasa Inggris) termasuk buku Kamus Inggris – Indonesia dan sebaliknya, serta beberapa kerajinan Indonesia dalam bentuk kaligrafi, dan tidak ketinggalan display dalam kaca berupa Kapal Phinisi yang merupakan kebanggaan orang Bugis/Makasar yang merupakan asal usul Syekh Yusuf.

Mengawali sambutannya dalam acara peresmian museum, Bapak Yusuf Agherdien selaku Ketua ECMCS selain mengucapkan terima kasih atas dukungan KJRI di Cape Town sehingga isi museum menjadi lengkap karena kehadiran Indonesia’s Heritage Corner, juga menyampaikan terima kasih atas kesediaan Konsul Jenderal RI di Cape Town, Ny. Sugie Harijadi untuk membuka secara resmi museum tersebut. Disamping itu, juga menyampaikan bahwa tujuannya mendirikan Eastern Cape Muslim Heritage Museum adalah untuk melestarikan dan menjaga nilai-nilai leluhur mereka, agar senantiasa dikenang dan diamalkan dalam kehidupan komunitas yang tergabung dalam ECMCS, yang terbentuk pada tahun 1999 berkat dorongan Konsul Jenderal RI di Cape Town yang ke-2, yaitu Bapak Abdul Nassier.

Mengantarkan peresmian museum tersebut, Konsul Jenderal RI di Cape Town seraya menyampaikan terima kasih atas kehormatan yang telah diberikan untuk meresmikan museum tersebut, juga menyampaikan penghargaan atas kerjasama yang diberikan oleh ECMCS sehingga Indonesia’s Heritage Corner dapat menjadi bagian dari musum mereka. Konsul Jenderal berharap kiranya Indonesia’s Heritage Corner tersebut dapat membantu dan memandu komunitas dalam mempelajari dan mendalami akar mereka. Selanjutnya, Konsul Jenderal menyampaikan jika 12 tahun lalu Bapak Abdul Nassier datang memberikan dorongan bagi terbentuknya ECMCS, sekarang ini ia datang untuk melengkapi pekerjaan Bapak Abdul Nassier, yaitu dengan mengusung Indonesia’s Heritage Corner. Selain itu, ia juga datang membawa kue khas Indonesia untuk dihidangkan kepada para komunitas yang datang agar mereka mengenal makanan Indonesia, sehingga melalui pertemuan hari ini, diharapkan pengetahuan mereka tentang Indonesia menjadi lebih lengkap. Mengakhiri sambutannya, Konsul Jenderal RI di Cape Town menyatakan bahwa museum resmi dibuka. Peresmian ditandai dengan pemasangan plakat yang ditandatangani oleh Konsul Jenderal RI di Cape Town.

Setelah melalukan peninjauan ke dalam museum termasuk Indonesia’s Heritage Corner bersama Ketua ECMCS, Konsul Jenderal RI di Cape Town segera meninggalkan Masjid Sabireen karena pekerjaan lainnya telah menunggu, yaitu mempromosikan Indonesia melalui Splash Festival 2011 yang juga diselenggarakan di Port Elizabeth. Banyak hal yang dapat diharapkan dari pembentukan Indonesia’s Heritage Corner tersebut; dan keberhasilan pembentukan Indonesia’s Heritage Corner tersebut tidak terlepas dari kerjasama yang baik dari semua unsur KJRI di Cape Town, yaitu mulai dari pimpinan, pejabat pelaksana fungsi hingga staf.