Dr. Hassan Wirajuda Pererat Persaudaraan Komunitas Cape Malay Di Cape Town Terhadap Indonesia

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Mengawali kunjungan kerjanya selama 7 hari (tanggal 6-13 Maret 2011) di Cape Town yang telah dipersiapan sejak Juli 2010 yang lalu; Dr. Hassan Wirajuda, mantan Menteri Luar Negeri RI yang sekarang menjabat sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden RI bidang hubungan luar negeri, telah menerima undangan dari berbagai institusi yang berkantor di Cape Town dan sekitarnya. Diantaranya adalah International Peace Varsity of South Africa/IPSA yang berkampus di Cape Town dan The Heritage Museum yang berada di kota Simon’s Town. <br.
Kegiatan yang di-host oleh IPSA ini diselenggarakan pada hari Senin, 7 Maret 2011, dalam format breakfast meeting. Kegiatan tersebut dilaksanakan di salah satu tempat pertemuan di perkebunan anggur Constantia, Cape Town, yang merupakan penghasil anggur terkemuka Afrika Selatan. IPSA, sebagai tuan rumah acara, mengundang tokoh-tokoh dari berbagai kalangan, mulai dari akademisi, ahli sejarah, intelektual, pebisnis sampai dengan ulama. Sementara itu, Dr. Wirajuda didampingi oleh Konsul Jenderal RI di Cape Town Ny. Sugie Harijadi, beserta seluruh pejabat KJRI di Cape Town. <br.
Membuka breakfast meeting Dr. Salie Abrahams, Rektor IPSA, menyampaikan sambutan yang intinya bahwa Indonesia mempunyai posisi penting dalam sejarah Afrika Selatan, dimulai sejak tiga abad lalu dengan datangnya Syekh Yusuf Al-Makassari Al-Bantami sebagai political exile yang dibuang ke Cape Town; beliau memperkenalkan Islam dan kemudian menjadi simbol dalam perjuangan kemerdekaan Afrika Selatan. Lebih lanjut Dr. Salie Abrahams menekankan bahwa di era modern pun Indonesia terus mendukung Afrika Selatan, utamanya dalam menentang rezim apartheid. Sehubungan dengan hal itu, kontribusi Indonesia bagi perkembangan Afrika Selatan perlu dihargai. Oleh karenanya, kini saatnya warga Afrika Selatan, utamanya komunitas keturunan Indonesia yang dikenal sebagai komunitas Cape Malay, agar mulai mengkampanyekan kembali kebudayaan indonesia sebagai kebudayaan akar mereka.

Seraya menyampaikan penghargaan atas kedekatan emosional komunitas Cape Malay terhadap Indonesia, dalam tanggapannya Dr. Hassan Wirajuda menyampaikan bahwa apa yang dilakukan Indonesia terhadap Afrika Selatan merupakan nilai prinsip yang dianut oleh Indonesia sebagaimana dicerminkan pada pembukaan Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945 yang menyatakan bahwa “ … kemerdekaan adalah hak segala bangsa dan oleh sebab itu maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan”.

Selanjutnya, Dr. Wirajuda menyampaikan briefing singkat tentang perkembangan kondisi Indonesia terkini baik di bidang ekonomi, politik dan sosial budaya, dalam hal mana Indonesia berhasil mencapai prestasi yang patut dibanggakan, yaitu sebagai negara demokrasi terbesar ketiga di dunia dengan pertumbuhan ekonomi yang terus meningkat dan stabil, serta persatuan dan kesatuan Indonesia yang masih terus terjaga. Lebih lanjut, terkait kerjasama Indonesia – Afrika Selatan, ditegaskan oleh Dr. Wirajuda bahwa kedua negara dapat berperan penting sebagai intellectual intermediate dalam kerangka kerjasama New Asian-African Strategic Partnership (NAASP), di mana keduanya bertindak sebagai ketua bersama.<br.
Antusiasme para intelektual Cape Malay yang hadir pada pertemuan ini terhadap Indonesia tampak ketika sesi diskusi dibuka; beberapa poin diskusi yang menghidupkan breakfast meeting pagi itu antara lain adalah berbagai pertanyaan mengenai sistem pendidikan formal di Indonesia, pendidikan Islam di Indonesia, sistem keuangan syariah, kemungkinan kerjasama perfilman Indonesia dengan Afrika Selatan, kerjasama kedua negara di bidang ekonomi, dan pendekatan terhadap counter-terrorism yang kesemuanya dapat dijelaskan oleh Dr. Wirajuda secara tuntas dan mudah dipahami.

Breakfast meeting yang dihadiri oleh lebih dari 20 orang tersebut ditutup oleh Dr. Salie Abrahams dengan ucapan terima kasih dan harapan agar pertemuan pagi itu mengawali kesadaran komunitas Cape Malay akan asal-usul nenek moyangnya.

Usai breakfast meeting, Dr. Hassan Wirajuda didampingi oleh Konsul Jenderal RI di Cape Town mengunjungi The Heritage Museum yang menampilkan sejarah komunitas Cape Malay di wilayah tersebut. Kunjungan Dr. Wirajuda ini rupanya telah ditunggu-tunggu oleh komunitas Cape Malay di bawah pimpinan Mrs. Zainab Davidson, selaku pemrakarsa dan pemilik museum yang telah berusai 72 tahun. Kunjungan Dr. Wirajuda ini selain untuk menghargai komunitas Cape Malay di Simon’s Town juga dalam rangka memberi dukungan moril kepada upaya Konsul Jenderal RI di Cape Town dalam mengimplementasikan salah satu target kerjanya di bidang sosial budaya melalui pendirian Indonesian Heritage Centre di salah satu ruangan di museum ini.

Pada malam hari, Dr. Hassan Wirajuda menghadiri undangan makan malam dari Mr. Adam Ismail Ebrahim, CEO OASIS Group yang bergerak di bidang global financial management, dan merupakan salah satu konglomerat Afrika Selatan. OASIS merupakan salah satu perusahaan di Afrika Selatan yang pernah menyumbang Indonesia ketika dilanda bencana tsunami pada tahun 2004. Dalam kesempatan tersebut dibahas juga masalah perekonomian Afrika Selatan terkait dengan situasi perekonomian dunia saat ini. Cape Town, 9 Maret 2011