Delegasi Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia pada 3rd Lausanne Congress on the World Evangelization

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Dalam rangka menyambut Delegasi Indonesia pada The Third Lausanne Congress on World Evangelization yang berlangsung di Cape town pada tanggal 17 Oktober sampai 25 Oktober 2010, Konsul Jenderal RI di Cape Town beserta Bapak Harijadi Warsosumarto telah menyelenggarakan acara Jamuan Makan Malam, bertempat di Wisma Indonesia-Cape Town. Acara yang diselenggarakan pada hari Sabtu, tanggal 23 Oktober itu, selain dihadiri oleh seluruh anggota delegasi yang berjumlah 37 orang (35 orang dari Indonesia dan 2 orang dari New York dan Singapura yang bergabung di Cape Town), juga dihadiri oleh semua pejabat Konsulat Jenderal RI di Cape Town beserta isteri/suami dan tokoh masyarakat non muslim Indonesia yang berdomisili di Cape Town.

Membuka acara, Pendeta Richard Daulay, atas nama delegasi, selain mengucapkan terima kasih atas sambutan dan bantuan yang diberikan oleh Konsul Jenderal dan seluruh Staf KJRI di Cape Town, juga menghimbau delegasi yang terdiri dari berbagai macam latar belakang profesi, agar turut membantu pemerintah melalui perwakilan Indonesia di luar negeri, dalam mewujudkan visi dan misi perwakilan. Sementara itu, Pendeta Solfianus menyampaikan informasi tentang pelaksanaan Lausanne Congress ketiga yang mengambil tema utama tentang keimanan; karena mencermati gejala degradasi keimanan pada zaman sekarang ini. Pembahasan dalam kongres difokuskan pada kasih, pengharapan, dan iman itu sendiri. Tema kasih secara spesifik membahas mengenai rekonsiliasi, yaitu bagaimana manusia dapat membangun hubungan yang baik dengan sesamanya, termasuk dengan umat yang berlainan agama dan kepercayaan. Disamping itu, kongres juga membahas masalah-masalah sosial yang dihadapi dunia seperti kemiskinan, penanggulangan penyakit HIV/AIDS, dan lain sebagainya. Semua aspek yang disampaikan dalam kongres sangat relevan dengan kondisi Indonesia sekarang ini, terutama mengenai kemerosotan moral, dan oleh karena itu nilai-nilai keimanan perlu ditegakkan kembali, bukan hanya oleh umat agama Kristen tetapi juga agama lainnya.

Dalam sepatah kata yang disampaikan, Konsul Jenderal RI menyambut positif keikutsertaan Indonesia pada Lausanne Congress ketiga, mengingat tema yang dibahas sangat relevan dengan kondisi bangsa Indonesia, terutama terkait masalah kemerosotan moral, yang akhir-akhir ini sedang melanda bangsa kita. Berkenaan dengan ”iman, kasih dan pengharapan” Konsul Jenderal menggarisbawahi pentingnya perasaan tersebut dimiliki oleh setiap umat Tuhan. Dalam kaitan itu, Konsul Jenderal menginformasikan kepada para anggota delegasi mengenai keberadaan sekitar 3000 orang TKI yang bekerja pada beberapa kapal penangkap ikan milik Cina, Taiwan, Korea dan Jepang yang bermarkas di Cape Town dan beberapa pelabuhan di wilayah kerja KJRI di Cape Town sebagai anak buah kapal (ABK). Dalam rangka memelihara keimanan dan menumbuhkan pengharapan mereka, KJRI di Cape Town melalui program Safari Ramadhan yang dilaksanakan selama satu bulan penuh serta dengan mengundang seorang ulama dan guru besar dari Universitas Islam Syarif Hidayatullah Jakarta, telah menyelenggarakan program siraman rohani. Tujuan utama program tersebut tidak lain adalah dalam rangka memberikan ”kasih” kepada mereka (para ABK) yang karena jenis pekerjaannya sangat memerlukan santapan rohani. Melalui program tersebut, KJRI selaku kepanjangan tangan pemerintah, berupaya mengembalikan serta membesarkan hati mereka yang merasa telah terpuruk, dan menumbuhkan pengharapan mereka untuk menyongsong masa depan.

Dalam kesempatan jamuan makan malam tersebut, Konsul Jenderal juga menyampaikan ucapan terima kasih atas kesediaan tokoh masyarakat non muslim Indonesia yang berada di wilayah Cape Town, untuk ikut ambil bagian dalam membina para ABK termasud, melalui program pemberian pelatihan tentang life skill dan penyuluhan kesehatan, yang akan dimulai pada awal 2011 mendatang. (Sumber: KJRI Cape Town)