Diskusi Perlindungan WNI: “Penentuan Umur Seseorang melalui Pemeriksaan Bone Age X-Rays”

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Salah satu masalah nyata yang dihadapi Perwakilan RI di Australia terkait keberadaan ABK/nelayan WNI tertuduh kasus penyelundupan manusia yang ditahan di Australia adalah keberadaan ABK di bawah umur. Diperkirakan jumlahnya sekitar 10-15% dari jumlah total ABK yang ditahan di Australia yaitu sekitar 50-75 orang dari total hampir 500 orang ABK. Dalam penanganannya, perdebatan yang muncul adalah kebijakan Pemerintah Australia, dalam hal ini Polisi Federal Australia (AFP) yang memiliki yurisdiksi untuk melakukan penentuan terhadap umur ABK melalui metode “bone age x-ray” sebagaimana diatur dalam Ausralian Penal Code 1914 dan Crime Legislation 1990.
 
Sehubungan dengan hal tersebut, dalam rangka meningkatkan pemahaman dan pengetahuan staff KBRI Canberra mengenai metode “bone age x-ray” tersebut, telah diselenggarakan diskusi dengan topik: Penentuan umur seseorang melalui pemeriksaan bone age x-ray” pada hari Kamis, 7 April 2011. Narasumber diskusi adalah Dr. Kemas Firman, Ketua Divisi Radiologi Anak FKUI/RS Cipto Mangunkusumo.
 
Dalam pemaparannya, disampaikan bahwa dalam melakukan metode “bone age x-ray” komunitas medis internasional, termasuk di Indonesia dan Australia menggunakan referensi “Radiographic Atlas of Skeletal Development of the Hand and Wrist” tahun 1959 yang ditulis oleh William Walter Grenlich, PhD dan S. Idell Pyle, MS. Pengukuran usia berdasarkan metode “bone age x-ray” biasanya antara lain dilakukan untuk diagnosa medis dan klasifikasi anggota tim olahraga. Untuk mendapatkan akurasi umur, diperlukan data pendukung seperti akte kelahiran, tanggal lahir dan data-data klinis.
 
Hasil dari pengukuran usia berdasarkan tulang ini  memiliki standar deviasi umur minus atau plus 2 tahun. Deviasi ini bisa disebabkan karena adanya penyakit hormonal, metabolisme tubuh, kekurangan gizi dan faktor lingkungan. Faktor kekurangan gizi, misalnya, dapat membuat tulang seseorang menunjukkan usia yang lebih muda dari usia sebenarnya. Sebaliknya faktor lingkungan yang keras yang mengharuskan seseorang bekerja sangat keras dapat membuat tulang seseorang menunjukkan usia yang lebih tua dari usia sebenarnya.
 
Rekomendasi dari diskusi tersebut adalah: Perwakins Indonesia di Australia sebaiknya meminta hasil foto x-ray yang dilakukan oleh pihak terkait di Australia terhadap ABK/nelayan WNI. Hasil tersebut kemudian dapat dikirimkan pada Tim Radiologi Anak Bagian Anak RSCM. Selain itu perwakins dapat mengusulkan adanya kerjasama antara Rumah Sakit Australia yang ditunjuk dengan Rumah Sakit di Indonesia c.q. RS Cipto Mangunkusumo selaku teaching hospital  yang memiliki pakar pediatric radiology yang dididik di Australia, US dan Jerman untuk melakukan bone age x-ray dan diagnosa bersama ABK/nelayan WNI di bawah umur atau mengaku di bawah umur. Pemaparan diakhiri dengan sesi tanya jawab dan santap siang.