Akademisi Australia dan Indonesia Diskusikan Pemikiran Gus Dur

1/25/2010

 
KEDUTAAN BESAR REPUBLIK INDONESIA
CANBERRA
SIARAN PERS No. 02/PR/PEN/I/2010

 
Akademisi Australia dan Indonesia Diskusikan Pemikiran Gus Dur

 
‘Gus Dur adalah pembela kelompok minoritas, termasuk mereka yang tersingkirkan secara ekonomi maupun politik.’ Kalimat tersebut merupakan kutipan sambutan Duta Besar RI di Canberra, Primo Alui Joelianto dalam Diskusi Publik dengan tema: Islam dan Pluralisme di Indonesia Pasca Gus Dur, pada tanggal 23 Januari 2009, bertempat di Balai Kartini, KBRI Canberra. Acara ini berhasil diselenggarakan berkat kerjasama Nahdatul Ulama (NU) Cabang Istimewa Australia dan New Zealand dengan Perhimpunan Pelajar Indonesia-Australia (PPIA) Australian Capital Territory (ACT) dan KBRI Canberra.
 
Selain itu, dalam sambutannya, Duta Besar RI mengatakan bahwa mantan Presiden RI ke-4 K.H. Abdurrahman Wahid atau yang lebih dikenal sebagai Gus Dur adalah tokoh Islam yang moderat, toleran dan berpandangan bahwa kesatuan bangsa harus diletakkan di atas perbedaan yang ada. Hadir sebagai pembicara dalam acara yang diikuti oleh sekitar 100 orang ini adalah Prof. Greg Barton dari Monash University, Dr. Nadirsyah Hosen dari Wolongong University, Prof. James Haire dari Charles Sturt University dan Sdr. Ismatu Ropi, PhD Candidate dari Australian National University.
 
Prof. Greg Barton mengulas legacy (warisan) Gus Dur bagi Islam dan pluralisme di Indonesia. Disampaikannya, Gus Dur sebagai al-dakhil atau pelopor, selain telah membuka keran demokrasi, juga menjadi cultural broker yang bisa diterima di berbagai kelompok, tidak hanya di Indonesia, namun juga di berbagai belahan dunia. Gus Dur juga merupakan pejuang humanisme yang mempersatukan Islam dan humanisme. Keunikan ini membuat Paul Wolfowitz, mantan Duta Besar Amerika Serikat (AS) untuk Indonesia menganggap bahwa Gus Dur merupakan salah satu pemimpin internasional yang terhebat. Gus Dur juga pelopor yang mencerminkan Islam yang ramah dan damai. Tak kalah pentingnya, Gus Dur adalah pelopor yang menggabungkan modernisme dan gerakan ulama tradisional.
 
‘Gus Dur dan Soeharto sama-sama negarawan yang sangat berpegang pada konstitusi’ ungkap Dr. Nadirsyah Hosen. Namun demikian, mantan Presiden RI Soeharto lebih mengartikan konstitusi UUD 1945 dan asas tunggal Pancasila secara literal, sementara Gus Dur mengartikannya secara kontekstual dan lebih pada substansi. Selain membela hak-hak kaum minoritas, Gus Dur juga sangat menghormati Bhineka Tunggal Ika, dimana kaum minoritas memiliki hak yang sama dengan kaum mayoritas. Dr Nadirsyah Hosen juga berpendapat untuk meneruskan gagasan Gus Dur terkait pluralisme di Indonesia, pasal 29 UUD 1945 haruslah diperbaiki guna lebih mewadahi kebebasan beragama seluruh penganut agama/keyakinan di Indonesia.
 
Berbagai warisan Gus Dur lainnya juga ditelaah oleh Prof. James Haire. Warisan tersebut antara lain adalah bagaimana Gus Dur bisa menggabungkan agama dan politik serta menggabungkan pemikirannya sebagai religius social commentateur (pemikir sosial) dan sebagai ulama tradisional. Gagasan pluralisme Gus Dur juga didasarkan pada fakta sejarah dimana Gus Dur melihat periode tahun 1945 sebagai periode yang prinsipil dalam mengembangkan pluralisme di Indonesia dimana para pendiri bangsa mengakui berbagai keragaman keyakinan di Indonesia. Gus Dur juga melihat dialog informal sehari-hari antar umat agama merupakan inti dari kerukunan antar umat beragama di Indonesia.
 
Sebagai pembicara terakhir, Sdr. Ismatu Ropi mengulas bagaimana negara meregulasi agama. Indonesia merupakan salah satu negara yang meregulasi agama. Menurut yang bersangkutan regulasi agama oleh negara sangat penting mengingat negara dan agama adalah kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Namun agar dapat lebih menjamin hak-hak menjalankan agama bagi warganya tanpa terkecuali, berbagai regulasi di Indonesia yang telah ada masih perlu diperbaiki.
 
Peserta diskusi terlihat sangat antusias terhadap wacana yang disampaikan oleh para pembicara. Banyaknya pertanyaan, masukan dan gagasan yang disampaikan kepada pembicara menandai kesuksesan Diskusi Publik ini dan mencerminkan ketertarikan yang sangat besar dari masyarakat Australia dan Indonesia di Australia terhadap pemikiran-pemikiran Gus Dur. Pada akhir diskusi, para pembicara dan peserta sepakat agar gagasan/pemikiran yang positif bagi bangsa dan negara Indonesia dan masyarakat dunia dapat dikembangkan dan diimplementasikan sebagai salah satu bentuk penghargaan terhadap jasa Gus Dur.
 
Perwakin Canberra, 25 Januari 2010